RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Cermin itu bangkitkan sabarku

Posted by jupiter pada Januari 11, 2009

Aku, cermin dan kesabaranku
(Cermin itu bangkitkan sabarku)


Kantuk sudah menyerang kepala, ketukan jemari mulai terdengar lesu, mata mengerjap antara sadar dan tidur, senandung winamp tak lagi mampu menahan dan mengganjal sipitnya mataku.

Melalui pantulan cermin kecil di atas lemari es mungil di sisi kiri meja kerja, sorot mataku terlihat mulai sayu. Kuulurkan tangan meraih gelas kopi hitam di atas lemari es, kuhirup kopi pahit yang sudah sedingin es batu. Kupaksakan untuk terus menuangkan ribuan kata yang berjejalan, berdesakan dan memenuhi seluruh ruang di kepala. Mulut menguap lebar ketika sekilas membaca kembali tumpukan sampah kata yang telah berhasil aku keluarkan.

Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya kembali perlahan. Dengan bertumpu pada kedua telapak tangan di atas meja, aku menundukan kepala dan sesaat mencoba untuk memejamkan kelopak mata. Perlahan tubuhku bersandar lemas dengan tatapan yang tidak lepas dari rangkaian kalimat acak yang terpampang di layar monitor.

Merasakan kondisi phisik yang tidak sesegar malam-malam biasanya, sesaat aku berpikir untuk sejenak beristirahat tapi entah mengapa pikiranku terus bergerak, berputar dan perlahan mulai berontak lagi. Setengah memicingkan mata aku mencoba membaca ulang hasil ketukan jemariku yang ternyata sudah menghasilkan hampir sepuluh halaman itu. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala ketika melihat ribuan kata yang terpampang terlihat sangat acak.

HWUAAAAAAAA…
Malam ini kembali aku rindu
Rindu pada sesuatu yang tak tentu
Pada kenakalan masa kecilku dahulu
Pada kebingungan masa pencarianku
Pada kebebasan ketika aku mulai mampu
Mampu membuat orang tuaku menepuk bahu
Ketika memohon restu mereka untuk melepasku
Melepas dan merelakan anak perempuannya pergi
Pergi ke seberang pulau untuk menimba satu ilmu baru
Ilmu kehidupan yang bisa menambah wawasan berpikirku

Lembaran putih bermaterai yang berisi perjanjian kontrak kerja
Kuhamparkan di atas meja, kusodorkan pena setengah memaksa
Untuk pertama kalinya aku baru melihat bunda meneteskan air mata
Sementara ayah mencoba membaca isi dari lembaran putih di atas meja
Lembar demi lembar dibaca dengan seksama dan tanpa berkata-kata
Ketika lembar terakhir selesai dibaca, ayah mengangguk kepada bunda
Diambilnya pena dari atas meja, digoreskannya di atas lembaran takdirku
Bunda kemudian terisak dan langsung memeluk tubuhku sangat erat

Masih kuingat jelas peristiwa yang menjadi awal dari pilihan hidupku
April 1992, untuk pertama kalinya aku meninggalkan tanah kelahiranku
Dengan berbekal modal nekat dan sedikit bersilat lidah kudapatkan restu
Masih kuingat jelas ketika pertama kali aku merasakan kebebasanku
Kebebasan menentukan langkahku tanpa direcoki rengekan saudaraku
Dengan berbekal kesungguhan aku membaur dengan ratusan orang baru
Ayah… bunda… maafkan atas kebohonganku waktu itu. Ganti rugi yang aku jadikan sebagai alasan kenekatanku dulu sebetulnya hanya berlaku apabila kontrak kerja itu sudah berada kembali di tangan mereka. Aku sama sekali tidak memalsukan tanda tangan kalian di perjanjian sebelumnya seperti yang waktu itu aku katakan. Sebetulnya sumber dari keberanianku pertama kalinya untuk membohongi kalian waktu itu, tidak lain dan tidak bukan keluar dari rasa prihatinku setiap melihat perjuangan kalian yang rela membanting tulang siang dan malam demi bisa menjamin masa depan aku dan kelima saudaraku agar kelak bisa hidup lebih layak dari kehidupan kita saat itu.

Masih kuingat dengan jelas satu bulan selanjutnya ketika kalian bertanya ragu dan memaksaku untuk tetap mau menerima kiriman jatah uang saku perminggu, karena takut melihat anakmu ini terlantar dan sengsara di tanah rantau. Hanya dengan do’a dan ketulusan kasih sayang kalian serta dengan kekuatan tekad untuk menunjukan kalau aku bisa dipercaya dan masih memegang erat setiap amanat yang selalu kalian sampaikan sehubungan dengan pergaulan bebas yang saat itu mengelilingiku. Pada akhirnya aku bisa bertahan dan melewati segala cobaan serta godaan hidup di satu tempat yang berada jauh dari dekapan nyata ketulusan kasih kalian berdua.

Masih kuingat dengan jelas tiga bulan berikutnya ketika aku mendengar tangis haru dari seorang ibu, ketika untuk pertama kalinya menerima dan membuka kiriman kecil tanda kasih dari anakmu yang mengadu nasib di tanah orang. Hanya senyum bangga ayah dan bunda yang sebetulnya menjadi tujuan utama perjuanganku dalam menaklukan lingkungan baru.

Ayah… bunda… selama dua tahun mengadu nasib di tanah orang. Aku, anakmu yang lugu dan waktu itu sama sekali belum mengenal aneka warna gincu telah banyak mendapatkan guru dari segala penjuru dan sudut pintu. Mulai dari kanak-kanak sampai kakek dan nenek yang dikelilingi cucu, pengalaman serta pembelajaran yang telah aku dapat sungguh telah membuat wawasan dan pola berpikirku tidak lagi sedangkal ujung kuku. Sampai ketika masa kontrak kerja berakhir, kembali aku memutuskan untuk terus berkelana dan menambah wawasan dengan melanjutkan mengadu nasib jauh dari tanah kelahiranku.

Dalam perantauan selanjutnya, ketika perjalananku kurang lebih mulai masuk ke tahun yang ke lima belas (2007), tiba-tiba aku dikejutkan oleh berita miris seputar kesehatan bunda. Penyakit komplikasi gula darah serta darah tinggi yang di derita bunda mulai memburuk. Terlebih ketika masih di awal tahun 2007, bunda terserang stroke untuk yang kedua kalinya akibat terpeleset dan jatuh di teras depan. Konsentrasi kerjaku mulai terpecah karena setiap satu minggu sekali harus terus menyempatkan diri untuk pulang demi menjenguk dan memantau perkembangan kesehatan bunda.

Enam bulan kemudian tanpa adanya diagnosa penyakitnya yang jelas. Ayah yang diduga kelelahan karena menjaga dan merawat bunda sendirian. Pada akhirnya pergi mendahului aku, bunda dan lima saudaraku.

Kepergian beliau sempat membuat aku terpukul dan terpuruk dalam sesal yang berkepanjangan, karena pada detik-detik terakhir hidup beliau hampir semua anak-anaknya terutama aku lebih memerhatikan kesehatan bunda. Sama sekali tidak menduga kalau penyakit yang kami anggap hanya penyakit ringan sebagai dampak dari kelelahan merawat bunda itu, ternyata menjadi jembatan yang akhirnya mengantarkan beliau ke satu ruang sempit berukuran 2 x 2 m2 yang sangat gelap dan hampa udara. Ruang keabadian yang mencerminkan masa depan setiap makhluk fana di dunia yang hanya sementara ini.

Penyesalanku semakin menjadi ketika tanpa sengaja aku mengetahui satu rahasia dari salah seorang saudaraku, kalau ternyata penyebab dari menurunnya kondisi kesehatan ayahku itu salah satunya karena terlalu memikirkan dan menguatirkan masa depanku yang lebih memilih menjalani hidup yang dianggap menyimpang dari yang seharusnya.

Maafkan anakmu ini ayah… Ampuni anakmu ini bunda…
Aku memang anakmu yang paling ‘menyimpang dan tidak wajar’
Sampai saat ini, sejujurnya aku mungkin tidak akan pernah sanggup
Meluluskan dan mewujudkan apa yang selalu menjadi harapan kalian
Untuk ketenanganmu, ayah. Kini aku rela melepas semua mimpi dan harapan masa depanku demi menebus segala kekecewaan yang tanpa sadar telah aku hadirkan. Aku berjanji untuk menebus segala kesalahanku dengan menjaga dan merawat bunda dengan penuh kasih sayang. Walau untuk itu, aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri

Malam telah meninggalkan senyap dan pagi telah menjelang ramai. Meski sama sekali tidak runtut dan telah ditinggalkan oleh kantuk namun pantulan miris dari cermin penyesalanku telah sanggup membangkitkan kembali kesabaranku untuk tetap tegar menjalani semua ujian kehidupan.

Tanpa menekan tombol shut down kumatikan modem, kututup layar monitor. Tubuh penatku melorot di kursi kebesaranku di depan laptop.


(Jupiter doc/dalam pantulan cermin/11Jan09)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: