RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Apa sebetulnya yang salah?

Posted by jupiter pada November 28, 2008

Renungan dan Sampah Jupiter
(Apa sebetulnya yang salah?)


Kemarin siang ketika seorang sahabat menanyakan seputar kabarku serta kondisi kesehatan bunda, dengan segala topeng kekonyolan yang bergaya militer lagi patroli dengan sangat enteng aku menjawab, “Siap! Keadaan sudah aman terkendali. Aku dan bunda aman-aman saja.”

Tanpa membahas lebih lanjut, detik berikutnya obrolan kami langsung lari membahas segala remeh temeh sehari-hari dengan diselingi saling mengejek kekonyolan dan kebodohan masing-masing yang seperti biasa pada akhirnya membuat kami terpingkal-terpingkal gak jelas. (*Kalau bahan yang buat ngakaknya jelas, pelawak Tukul sih pasti liwat daaaah)

Semua orang yang sudah kenal dekat denganku pasti tahu, aku di kehidupan sehari-hari sama sekali tidak pernah menampilkan segala beban perasaan yang sebetulnya saat itu tengah aku rasakan. Beragam kekecewaan, kesedihan, kemarahan bahkan penyesalan selalu aku telan sendiri. Bukan? Sama sekali bukan maksudku untuk selalu dianggap sebagai ‘miss no problem’ atau demi mendapat gelar biangnya gokil. (*gokil kok ya jadi gelar? Kalo dengan gokil bisa dapet gelar Doctor atau Phd sih bisa bangetlah aku kejar)

Seperti yang pernah aku ceritakan di entri sebelumnya, dalam menghadapi masalah yang datang terkadang aku mengambil sikap ‘ndableg’ dengan berusaha untuk tidak larut dalam masalahku sendiri. Hal-hal bodoh dan tolol yang pernah aku lakukan selalu aku anggap sebagai sesuatu yang lucu. Dengan menertawakan segala masalah yang tengah dihadapi terkadang aku merasa jauh lebih baik. Dan menurut yang pernah aku baca entah sumbernya dari mana (*alzhemeir mode on) yang mengatakan, ‘kemampuan’ menertawakan diri sendiri menunjukan rasa percaya diri yang sehat.

Sekacau apapun masalah yang tengah aku hadapi, pada dasarnya aku tidak mau larut dalam rasa bersalah serta penyesalan akibat dari kebodohan serta kesalahan konyol yang pernah aku lakukan. Lagipula, buat apa? Penyesalan yang berkepanjangan sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat jerawat di wajah menjadi bertambah betah. (*Kalo mellow mulu, kapan neh pipi bisa mulus lagi?! *Sigh*)

Yang terpenting bagiku, ketika segala beban bisa keluar baik itu secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, dengan sendirinya otak warasku bisa kembali mendapatkan sedikit ruang kosong untuk menegur kebodohan dan kekonyolan yang pernah aku lakukan agar tidak kembali terulang.

Aku selalu percaya, rasa bersalah adalah sesuatu yang baik yang bersumber dari kesadaran dan keinginan untuk melakukan apa yang benar. Rasa bersalah adalah tanda bahwa hati kecil ini masih mampu berbisik, mengingatkan dan menegur. Bahwa nurani ini masih terus terjaga. Rasa bersalah adalah rambu yang akan menjaga dan memberikan sinyal agar aku tidak jatuh ke lubang yang sama.

Kata orang bijak; Hanya ‘keledai dungu’ yang masuk ke lubang yang sama’ dan aku ini masih manusia yang katanya ‘baru setengah dewa’, mana mungkin aku mau jadi keledai apalagi dengan ditambah gelar dungu. (*gak gue banget lah, yaw!)

Tapi kalau nanti aku salah lagi gimana?
Kalau kejeblos lagi berati aku gak konsekuen dong dengan prinsip yang anti jadi keledai dungu itu?

Selama masih menjadi manusia, selama matahari masih bersinar, selama pagi terus menjelang dan selama masih ada nafas di tubuhku; aku yakin, akan selalu ada kesempatan untuk bisa memperbaiki keadaan dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dewa yang benar-benar Dewa aja bisa melakukan kesalahan apalagi aku yang hanya manusia biasa yang katanya jauh sekali dari sempurna. (*katanya udah setengah dewa? Ngeles bow! Kqkqkq…)

“Ya sutra kalau bebannya sudah keluar berati tuh cerbung bisa dilanjut lagi dunk?”

Eits! Ntar dulu, belum semuanya keluar neh. Alzhemeirku belum sembuh total, masih ada beberapa beban lagi yang masih mengganjal. Dan ini baru terjadi pagi, siang dan sore tadi. Semuanya masih seputar tingkah saudara-saudaraku yang selalu bikin aku mengelus dada.

“Tape deeeeeh! Ya sud, sebelum muntab mending gue lanjut blogwalking yang asik-asik aja dah.”

“Silahkeun. Masih inget pintu keluarnya kan?” (*ngusir mode on)

Oks, untuk mempercepat proses penyembuhan gejala alzhemeirku. Aku mulai saja dengan kejadian tadi pagi ketika baru saja aku selesai melaksanakan tugas ‘mother sitter’ku.

“Wa, punya uang nganggur gak?” tanya kakak nomor tiga yang biasanya pulang-pergi gak pernah ingat kalau di lantai bawah ini ada kehidupan yang masih merupakan kewajibannya juga. (*uang nganggur? Dipikirnya aku ini pohon duit apa? ingat masih punya saudara kalau lagi ada butuhnya doang. HUH!)

Aku tidak langsung menjawab. Hanya melirik sekilas kemudian pura-pura sibuk lagi mengotak-ngatik deretan angka di layar komputer yang dua bulan belakangan ini telah membuat uban di kepalaku tumbuh dini. Dan tanpa aku tanya, selanjutnya kakakku langsung ngoceh tentang segala tetek bengek usaha sampingan yang inti dari panjang lebar ceritanya itu sudah bisa aku tangkap, *minta pasokan modal*.

“Kalau segitu gak ada. Kan sudah aku bilang usahaku sendiri setelah lebaran kemarin lagi agak macet. Jangankan untung buat nutupin biaya operasianal saja aku nombok dari kas balik modal kok.” Jawabku setengah tega. Aku bilang setengah karena pada dasarnya aku ini termasuk kategori orang yang gak tegaan, apalagi kalau lawan bicaraku sudah pasang muka seperti yang sudah satu bulan gak nemu sebakul nasi. (*lumer deh hati yang lagi belajar tega)

Sapaan pagi hari yang sebetulnya paling aku benci itu berakhir dengan satu kartu atmku berpindah ke tangan dia. “Separo aja ya, separonya lagi buat nutupin tagihan bulananku.” (*Hhhh, setengah KO deh jadinya).

Kejadian berikutnya sekitar jam makan siangnya orang-orang yang ngantor. (bahasanya? Kqkqkq… tapi biar gini-gini aku mantan orang kantoran juga, loh! biarpun sekarang sudah pensiun dini. Ciee… jadi mantan orang gajian aja bangga)

Ketika kakak nomor dua datang, pintu kamar dalam keadaan sengaja aku tutup, biar dipikir bunda aku sedang ‘bbs’. Soalnya kalau bunda tahu aku melek, terus dia lihat kerjaanku cuma melototin laptop doang, bunda selalu mencari perhatian dengan memamerkan segala kemanjaanya (*mungkin dipikirnya aku pengangguran yang tidak ada kemauan. Udah perawan tua, pengangguran lagi. *Kesian deh gue*).

Singkat cerita dari obrolan singkat kakak perempuanku dengan bunda, aku jadi tahu kalau kedatangan kakak nomor duaku ini hanya sekedar mampir dari pulang mengantar anaknya sekolah dan hanya mau mengambil barang kesayangan anak sulungnya yang tertinggal waktu nginap di rumah neneknya ini dua minggu yang lalu. Setelah itu gak sampai setengah jam, tanpa menanyakan keadaan bunda sama sekali dia langsung kabur lagi. (*Sekali lagi aku hanya bisa mengelus dada sendiri. Seandainya yang aku elus dada si ‘ehm’, sedep kali yak?! *omez mode on*)

Sore harinya, sepulang dari kantor kakak sulungku menyempatkan diri untuk mampir. Seperti sudah menjadi kewajiban rutin yang hanya sebulan sekali, kedatangannya bukan sengaja untuk menjenguk bundanya tapi hanya untuk menyetor yang dia anggap sebagai kewajiban seorang anak yang sudah menjabat sebagai kepala bagian di kantornya, kepada bunda yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan hanya menyisihkan secuil dari gaji bulanannya yang hanya cukup untuk keperluan belanja bunda sehari. (*Lumayan lah daripada gak inget sama sekali)

Sumpah! Kadang aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran saudara-saudaraku. Mungkin mereka memang sudah benar-benar lupa kalau kelak mereka pun akan tua dan tidak berdaya seperti bunda yang semasa masih mudanya merupakan mantan militer ini.

Padahal seingatku, bunda dan almarhum ayah telah mendidik aku dan saudara-saudaraku dengan penuh perhatian. Ibaratnya kepala di jadikan kaki dan kaki di jadikan kepala. Secara dulu almarhum ayah hanya merupakan pegawai negeri sipil dengan penghasilan yang sangat pas-pasan dan rela tiap hari pulang tengah malam bekerja sampingan demi menutupi isi perut dan biaya sekolah ke enam anak-anaknya yang proses kelahirannya rata-rata hanya berjarak dua tahun ini.

Inti dari semua cerita ketidak harmonisan keluargaku ini adalah sebuah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala. Apa sebetulnya yang salah dalam cara mendidik kedua orang tuaku dulu? Sehingga mereka bisa demikian tidak pedulinya pada keadaan bunda yang sebetulnya tidak membutuhkan apa-apa selain perhatian dan kasih sayang mereka. (*Kalau dari sisi materi sih, aku rasa pensiunan almarhum ayah cukup kalau hanya untuk menutupi keperluan bunda sehari-hari)

Akh, sutralah kalau menceritakan masalahku terus sih gak bakalan kelar-kelar. Yang penting beban di kepalaku sudah bisa keluar dan taburan bintang di pipiku sudah mulai berkurang. (“Gitu aja kok repot!!” *Ngutip gaya cueknya Gus Dur)

***

PS: Pssst, udah pada muntab belon? Kalo belon, besok aku posting yang bikin eneg lagi akh… *Makan lontong pake bakwan trus pake rawit tambah sambal kacang. Kenyank euy!* (Kqkqkq… ceritanya mo bikin peribahasa ala Jupie. Kacruuuuuut…)

jupitergreetings.com
(Jupiter doc/dalam aura lieur/28Nov08)

6 Tanggapan to “Apa sebetulnya yang salah?”

  1. mencintaijo said

    Jupe yang lagi mellow,

    Sama seperti gue percaya bahwa Tuhan selalu mendampingi mama melalui gue (narsis mode on), gue juga yakin Tuhan selalu mendampingi nyokap lo melalui diri lo.

    Semangat yak.

    Btw, gue ga keberatan kok bantu elo ngutak ngatik angka hehehe

  2. candra- said

    makanya lo jangan kebanyakan omess.lolzzz.kayaknya komen gw yg salah dhe.haihiahiahiaha

  3. Jupie said

    @Jo, sama euy. Gw juga kalo lagi waras selalu mempunyai keyakinan kya lo itu. Tapi itu kalo lagi waras. Kalo lagi setengah waras, ya begini ini… pengen sekali bisa terbang bebas tanpa barisan angka2 di kepala. (*kalo untuk angka, boleh lah lo bantuin otak-atik. Asal jangan kebablasan ngotak-ngatik yg laen2 juga, ya-ya-ya…)

    @Cipcan, tenang aja cip, gw paham kok maksud lo. Omes yg lo maksud di sini pasti berhubungan ama bintang2 di pipi gw kaaaan… (*dukun di lawan)

  4. Sinyo said

    Jupeeeeeeeeeeeeeeeeee

    bakar dupa n menyan jangan kelamaan n kebanyakkan gitu nah, baunya sampe kemari tau!?
    Aku mah gak enek palagi mo muntah, hanya kentut2 aja koq… ;p

  5. mencintaijo said

    Idihhhhhhhh, justru gue maunya kebablasan ngutak-ngatik nyang laen kaleeeee

  6. Jupie said

    @Sinyo, Dupa ma kemenyannya dah gw pindahin ke rumah puun tuwh. Iris dah kuping cip2, kalo lo gak bakar menyan juga di sono (*wink)

    @Jo, AMBIL BATAAAAAAAAAAAAAAAA!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: