RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Nikmat Yang Tertunda

Posted by jupiter pada November 26, 2008

Curhat, Solusi dan Sikap
( Nikmat Yang Tertunda )


Minggu-minggu ini entah ada angin apa, beberapa sahabat tiba-tiba menghampiriku dengan curahan hati yang bernada sama yaitu GALAU.

Sahabat satu, tanpa tedeng aling-aling langsung membeberkan permasalahan yang tengah dihadapinya seputar ketidaksiapan mentalnya dalam menghadapi resepsi pernikahan yang kurang lebih satu bulan ke depan akan segera dilaksanakan.

Semakin mendekati hari ‘H’, beberapa orang mantannya yang dulu sangat dicintainya tiba-tiba kembali datang dan menggodanya untuk kembali melanjutkan hubungan mereka yang dulu kandas tanpa ada sebab yang jelas.

Karena satu dan beberapa kelebihan mantan yang tidak bisa ia temukan pada sosok pribadi calon pendamping hidupnya yang sekarang, keyakinan yang beberapa bulan ke belakang sudah bulat untuk segera melepas masa lajangnya kembali menjadi GALAU. (*mirip sekali dengan kasusku dulu)

Sahabat dua, di tengah haru biru biduk rumah tangga yang penuh dengan perjuangan nyata dalam membenahi ekonomi keluarga yang semakin hari semakin menuntut mereka untuk bisa lebih mengencangkan ikat pinggang, sehubungan dengan semakin membengkaknya kebutuhan rumah tangga yang harus mengeluarkan biaya ekstra demi kemajuan pendidikan buah hati mereka yang semakin hari semakin bertambah besar. Tiba-tiba ia dihadapkan pada kenyataan bahwa pendamping hidup yang dari awal merintis usaha sampai sekarang sudah bisa dikatakan maju ternyata ditemukan ada main dengan perempuan selain dirinya.

Alhasil sahabatku ini dilanda GALAU antara menegur pasangan hidupnya dengan resiko terjadi keributan dalam keluarga kecil mereka yang sudah dilengkapi oleh beberapa buah hati, atau tetap bersikap pasrah dan menganggap penghianatan pasangan hidupnya itu sebagai hiburan yang hanya sementara dengan resiko si perempuan idaman lain yang secara phisik tentunya lebih fresh dari dirinya itu akan semakin menambah keruh suasana. (*semasa masih gadis sahabatku ini termasuk idaman para calon pendamping hidup)

Sahabat tiga, dalam usaha kerasnya yang selalu mencoba mempertahankan rasa sayangnya yang sudah terlanjur dalam kepada seseorang yang kini sudah berubah status menjadi mantan, membuat pikiran dan hatinya selalu terbelengu oleh rasa gamang pada kenyataan yang harus dihadapi yang sebetulnya sudah melenceng jauh dari apa yang selama ini selalu ia harapkan.

Walau cara bicara serta mimik wajahnya selalu dibungkus dengan segala topeng ceria serta ketegaran, namun semua itu tidak cukup sanggup untuk menutupi perasaan terluka yang tanpa ia katakan selalu bisa aku raba dan aku rasakan.

Ketidak sabarannya dalam menahan segala beban rasa rindu yang selalu menggebu pada kenangan serta harapan masa lalu membuat hari-harinya selalu di hantui oleh rasa GALAU, antara menerima kenyataan, melepaskan kenangan atau menunggu kesempatan harapan itu kembali datang. (*serupa tapi tidak sama dengan kasus yang pernah dan tengah aku hadapi)

Sahabat empat, kasusnya lebih kepada perlakuan keluarga besar yang selalu memperlakukannya sebagai anak kecil yang sama sekali belum bisa menentukan langkah sendiri. Limpahan kasih sayang yang selalu di ukur dari sisi materi membuat keluarga besarnya selalu menganggap sahabatku ini sampai kapanpun tidak akan bisa mandiri tanpa bantuan ekonomi dari keluarga.

Beberapa kali keputusannya untuk mencoba mengadu nasib dengan menerima tawaran pekerjaan selalu kandas, karena ditentang oleh keluarga besar yang selalu menghembuskan kemungkinan-kemungkinan yang membuat sahabatku ini untuk kesekian kalinya kembali melepaskan peluang emas yang hanya dianggap sebagai omong kosong belaka dan tidak akan mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya yang sudah terbiasa hidup serba berkecukupan.

Dalam kesadarannya akan masa depan yang semakin menantang dan tidak mungkin selamanya bisa mengandalkan kekayaan keluarga besar, saat ini ia mulai dibebani perasaan GALAU. Antara menentang kemauan keluarga besar yang sepertinya mengharapkan ia bisa meneruskan usaha keluarga yang sebetulnya tidak sesuai dengan kata hatinya, atau nekat melangkah keluar dan melepaskan diri dari jeratan emas yang mengatas namakan ‘rasa kuatir’ keluarga besarnya. (*berbanding kebalik dengan apa yang terjadi dalam perjalanan hidupku yang dari usia belia sudah dituntut untuk bisa mandiri)

Dari semua kasus yang tengah melanda sahabat-sahabatku ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk membantu meringankan beban mereka yang sebetulnya bisa mereka selesaikan sendiri walau tanpa ada bantuan atau sumbang saran dariku yang bukan siapa-siapa ini.

Aku selalu yakin, seberat apapun masalah yang tengah dihadapi oleh sahabat-sahabatku, pada dasarnya mereka bukan termasuk orang yang tidak berwawasan dan juga bukan termasuk kategori orang yang sama sekali tidak berpengalaman. Mereka adalah orang-orang yang cukup pintar dan bijak yang sebetulnya sudah cukup tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dalam menghadapi semua masalah yang tengah mereka hadapi.

Inti dari semua permasalahan mereka itu menurut pemikiran dangkalku sebetulnya lebih ke masalah waktu dan penerimaan diri.

Selama masa-masa sulit mereka, aku selalu berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang meskipun sudah sangat dekat tapi pada kenyataannya posisiku tetap hanya sebagai orang luar yang hanya bisa menyediakan telingga untuk mendengarkan, menyiapkan bahu untuk menahan beban keterpurukan serta usapan jemari pada setiap tetes air mata yang keluar.

Apabila momennya sedang tepat, tak jarang aku memberikan beberapa advice ringan yang sering kali aku ‘bungkus’ dengan candaan, tanpa membuatnya menjadi tambahan beban yang menuntut dia harus mengikuti apa yang telah aku sampaikan.

Sebagai orang luar, aku tak pernah berhenti mengingatkan diri bahwa tugasku sebagai sahabat adalah mengingatkan mereka agar selalu memilih yang terbaik, menghormati apapun keputusan yang mereka pilih tanpa berusaha untuk memaksakan pendapatku sendiri, mendukung dan mendoakan segala usaha mereka agar bisa berhasil.

Aku bukanlah seseorang yang hidup tanpa masalah. Apabila dirinci satu persatu perjalanan hidupku sendiri cukup rumit dan hampir selalu dibalut oleh beragam masalah yang saking mumetnya terkadang aku malah cenderung mengambil sikap ‘ndableg’ (belaga tidak mau memikirkan masalah yang datang walau hati serta kepala terkadang penatnya bukan kepalang).

Dalam setiap menghadapi masalah, aku selalu berusaha untuk membebaskan pikiran, melapangkan hati serta menerima datangnya semua masalah tanpa sedikitpun berusaha untuk melakukan penolakan. Semakin di tolak maka masalah yang datang akan terasa semakin berat.

Proses menerima masalah yang datang memang bukan hal yang mudah. Senjata yang paling ampuh yang bisa aku rasakan manfaatnya sampai sekarang cukup sederhana dan tidak memerlukan pemikiran yang rumit.

Selalu berusaha untuk tetap berpikiran positif dan menganggap semua masalah yang datang adalah merupakan ujian kesabaranku yang bersifat sementara, dengan tetap berkeyakinan bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang lebih menderita dan lebih susah dari segala masalah yang aku hadapi.

Kesadaran serta keyakinan seperti ini cukup bisa membuatku selalu merasa bersyukur bahwa masalah yang aku hadapi tidak pernah serumit mereka yang dalam kenyataan hidupnya sehari-hari harus selalu berjuang keras dengan hanya diberikan dua pilihan yang sangat sulit yaitu antara hidup dan mati.

Dalam setiap menghadapi masalah yang sebetulnya aku dan sahabat-sahabat perlukan hanya kebesaran hati untuk mengakui dan menerima apa yang telah terjadi (lengkap dengan segala konsekuensinya), dan secepatnya berpaling dari kesalahan atau kekacauan yang sudah terlanjur terjadi itu. Memperbarui diri dengan segenap kesungguhan, dan terus menjelang hidup dengan berani.

Beberapa peristiwa di tahun ini telah memberikan begitu banyak pelajaran buatku. Pelajaran paling berharga dari semuanya adalah, aku belajar melihat setiap masalah dengan kacamata yang lebih bijaksana. Menyesali diri dan berkubang dalam kekecewaan adalah hal yang biasa. Tapi yang bisa menjadikan aku luar biasa adalah saat aku berani mengambil keputusan untuk bangkit dari keterpurukan itu.

Tidak kabur dari kenyataan, melainkan menerima dengan hati berserah dan bibir tersenyum. Tidak terjebak untuk mengasihani diri sendiri, melainkan berdamai dengannya, dan belajar mencintai hidup apa adanya sebagai anugerah terbesar yang dipercayakan Sang Pencipta kepada diriku. Tidak terpaku dan larut pada kesalahan maupun kegagalan, melainkan menikmati setiap proses berikut ‘ups & downs’nya dengan jiwa yang besar. Tidak terpesona dengan keberhasilan, namun memandangnya sebagai berkah yang patut disyukuri dan senantiasa ‘dikembalikan’ kepada Si Pemberi Rejeki. Bertekad untuk bisa terus lebih bijaksana dan menyongsong hari dengan kekuatan yang baru. Kekuatan yang membuat aku bisa terus tersenyum, bahkan di tengah kegagalan dan airmata.

Aku selalu percaya dibalik semua cobaan yang menghadirkan rasa perih di dada dan menguras air mata selalu tersimpan keberhasilan serta kebahagiaan yang sudah menunggu. Seperti layaknya pelangi yang selalu sabar dan setia menanti saat-saat kemunculannya sampai hujan reda. Mudah-mudahan semua sahabat yang tengah dirundung duka memiliki keyakinan yang sama. Bahwa dibalik segala masalah mereka tersimpan kenikmatan yang tertunda.

***

(Jupiter doc/dalam aura prihatin/26Nov08)

6 Tanggapan to “Nikmat Yang Tertunda”

  1. Anonymous said

    hmm…yayank Jupie kok jd wise gini…
    mnurutku ngga ada masalah yg ga slese yah..jd hadapilah masalah sbg tanda kedewasaan emosi & spiritual..jgn prnh merasa dikejar masalah..
    *hihi, ribet komenku..

    chargerrr…..

  2. candra- said

    berat berat berat…gw no comment aja.udh diwakili yayank gw aja tuh😛

  3. Jupie said

    @Chargie, Bukannya wise, tapi lagi belaga wise aja daripada-daripada… ntar kalo salah-salah kata bisa bikin aku jadi terjebak di tengah-tengah keribetan sahabat2ku sendiri. Toel apa bentoel neh, maniezku?

    @Syeh Yam, berad yak? di angkat dunk! Ciee… gak rela neh ceritanya maniesnya ngayap ke gubukku sendirian? Tenang aja lagi, aku kan bukan type ayam yang makan pagar sendiri. Kalo makan pagarnya rame2 sih laen lageee (*wink)

  4. mencintaijo said

    Jupe thayank, ga ada yang bisa mengendalikan kebahagiaan kita selain diri kita sendiri. Apalagi untuk mengendalikan kebahagiaan orang di sekitar kita termasuk sahabat-sahabat kita🙂

    Menjadi tong sampah adalah jalan terbaik yang membuat kita akan selalu berpikir positif atas apapun yang terjadi di dalam hidup kita🙂

  5. Sinyo said

    Ehmmmm lagi angot ya Dewa.. ;p

  6. Jupie said

    @Jo thayaaaank, daku setubuh dengan dirimu. Lebih mudah mengendalikan metro mini ama bajaj yak?!

    @Sinyo, kagak pake naek angkot kok. Cuma pake metro mini nyang kalo jalan kya lagi bawa… KAMBINKKKKK!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: