RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Anjrink menggonggong Jupie berlagu

Posted by jupiter pada November 16, 2008

Ribet, Mumet dan Njelimet
(Anjrink menggonggong Jupie berlagu)


Beberapa hari terakhir ada satu cerita yang cukup membuat dahiku berkerut. Seperti gumpalan benang kusut mereka saling bertaut namun membutuhkan kejelian tingkat tinggi serta kesabaran yang super duper lapang untuk bisa membuatnya menjadi runtut.

“Kamu sudah baca bagian yang ini?” tanya sahabat ditengah kesibukanku mengotak-atik warung online yang untuk sementara sengaja aku tutup karena kondisi pasar yang agak menurun.

“Terus bagian yang ini juga, coba kamu simak deh, di situ ada benang merah yang benar-benar mirip dengan perjalanan kita.” Aku mengerutkan kening ketika mengikuti apa yang diinstruksikannya.

“Hmm, benar juga. Mirip sekali. Tapi apa benar ini kita? Seujung kukupun kita kan sama sekali gak pernah ‘nyolek’ dia? Apa maksudnya?” tanyaku tak habis pikir (??&#$@*?).

“Au, aku juga gak ngerti. Kebetulan aku juga di kasih tahu oleh beberapa orang teman yang selalu setia mengikuti cerita perjalanan kita. Awalnya aku sendiri gak percaya karena sepanjang perjalanan kita kemarin sama sekali tidak pernah ada obrolan yang membahas orang lain selain silaturohim dan beradu gokil. Menurut kamu sendiri gimana?” tanyanya kemudian yang dijawab dengan desahan nafasku yang mulai berat.

Pikir…. pikir
kupikir kupikir
Aaaaa… panya dunk?

Halah! Kenapa Euis Darliah yang jadi ikutan mikir. Oks, aku harus bisa cepat berpikir. Kutunda dulu segala yang berbau inovasi pengembangan usaha kecilku. Sesuai dengan janji yang selalu aku tanamkan dalam diri. Aku tidak boleh gampang terpancing emosi. Jiwa pendendam yang beberapa tahun belakangan sudah berhasil aku redam dan selalu aku lawan tidak boleh sampai terpancing keluar lagi.

Kutarik nafas dalam, kemudian kukeluarkan perlahan. Sekali… dua kali… tiga kali… Duuuuuuuut…! (Ups! Sowry ngeluarin nafasnya kebablasan euy. SOPAN BANGGEEEEETS! Hihihihi… *ngumpet di balik punggung bidang berbulu*)

*Berpikir sejenak merenung kesalahan masa lalu adalah permulaan yang baik untuk bertindak* Rangkaian kata mutiara yang beberapa tahun ini selalu aku tanamkan di hati serta di kepala kembali terngiang jelas di telinga dan menjadi senjata yang sangat ampuh dalam membantu meluruskan benang kusut yang sempat menyumpal dan menghalangi lancarnya aliran pernafasanku, rasa tegang di dada dan di kepala mulai kembali mereda.

Dalam galau, aku bersyukur karena aku yang sekarang sudah jauh berbeda dengan aku di tahun-tahun sebelumnya yang dulu gampang sekali meledak (*kompooooor kale). Kepingan jiwa ini sudah mampu mengapresiasi makna kebaikan sebelum menjatuhkan penilaian terhadap sesama dan lebih mampu melihat garis keperakan pada setiap awan gelap serta mampu mendengar senandung merdu ketulusan diantara gelegar sambaran petir yang membuat bulu kuduk merinding. Semua itu menunjukkan peningkatan kemampuanku dalam usaha mengendalikan emosi. (*lumayaaaan ada peningkatan dikiiiit)

Apapun pendapat mereka dan bagaimanapun cara mereka melampiasan ketidak nyamanan atas segala kebahagiaan yang mungkin selalu kami umbar ini, sepenuhnya menjadi hak mereka. Kebahagiaan ini tidak boleh terusik oleh rasa dengki yang bersumber dari beberapa hati yang sedang sensi melihat kebahagian kami.

Sumpah! Buatku semua itu gak penting banget. So what gitchu loh?!

“Udah lah gak usah dipikirin, cuekin aja! Mau ada hubungannya ama kita, kek. Mau kagak, nek. Biarkan mereka punya cerita, cu. Mungkin dengan begitu bisa membuat hati mereka jadi lega. Yang penting saat ini hati kita selalu dipenuhi aura tulus dan bahagia. Ngapain cape-cape ngurusin segala yang berbau ribet kayak gitu. Kagak bakalan ada habisnya, bo! Lagian emang segala ketulusan itu pernah kita dapat secara nyata dari mereka? Nggak pernah kan? Kyrik tanda tak mampu. Anjrink menggonggong Euis Darliah berlagu TITIK yang kagak pake KOMA.” Hanya itu yang bisa aku ungkapkan ketika untuk kedua kalinya sahabat kembali menanyakan pendapatku.

Sore ini kembali aku diberi kesempatan untuk menatap bias pelangi yang muncul setelah hujan dan mencerahkan Bumi dengan warna-warna indahnya, meresapi taburan kasih seorang Ibu yang rela mempertaruhkan nyawa serta kebahagiaannya demi keberhasilan masa depan anak-anaknya, mengecap kasih beberapa orang sahabat yang selalu menerima dan mendukung tanpa mengharap pamrih sekejap pun.

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Lirik Lagu Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi) – Ipang BIP

Atas setiap tetes nikmat dan anugerah yang tidak pernah berhenti tercurah dalam hidup ini. Tak henti aku terus mengucap syukur atas semua yang telah dan masih bisa aku rasakan dan lalui sepanjang hidup yang pastinya sangat singkat ini.

Lebih dari segalanya, aku bersyukur karena jiwaku terus bertumbuh bersama kehidupan. Tidak berlari, melainkan melangkah setapak demi setapak sambil mengikis kegetiran dengan menikmati keindahan di sepanjang jalan. Merengkuh keyakinanku erat-erat dengan tetap membuka mata dan hati, karena bagaimanapun, hidup ternyata sangat kaya akan warna dan begitu penuh dengan taburan kasih walau dengan beragam balutan kisah yang awalnya cukup membingungkan dan memacu detak jantungku.

Bagiku semua itu merupakan anugerah yang sudah sepatutnya terus aku aminkan dengan penuh rasa syukur. Tidak ada kisah yang tidak mengandung hikmah. Mungkin hikmah yang bisa aku ambil dari segala keribetan yang sempat mampir di tengah taburan cerita haru biru kebersamaan kami ini adalah; aku harus selalu sadar diri bahwa di balik segala kebahagiaan yang tengah aku dan sahabat-sahabat rasakan tidak menutup kemungkinan justru ada segelintir orang yang merasa terasingkan.

Tapi apakah dengan begitu aku harus menghentikan segala kisah yang selama ini telah aku bagikan di gubuk persembunyianku sendiri?

Tidak juga!

Ini adalah gubuk yang aku bangun sendiri, tidak ada setitik keringatpun yang aku pinjam dari orang lain. Mereka boleh lalu lalang dan berseliweran di depan gubuk gratisan ini. Aku tidak peduli. Biarlah mereka bermain dengan pikiran mereka sendiri.

Yang terpenting niat awalku berbagi cerita persahabatan ini bukan untuk orang lain, tetapi untuk mengenang segala kebahagian serta ketulusan yang pernah aku rasakan dan belum tentu ke depannya aku bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Kebersamaan ini terlalu indah untuk aku lewatkan dan aku kubur hanya dalam ingatan.

Kulanjutkan menuangkan segala kisah manis kebersamaan yang pernah dan mudah-mudahan akan selamanya terjalin.


(Jupiter doc/dalam aura ribet/16Nov08)

5 Tanggapan to “Anjrink menggonggong Jupie berlagu”

  1. Sinyo said

    Tenang Jupe,
    Gue udah minum air zamzam n makan rumput fatimeh…

  2. mencintaijo said

    Haduhhhhh, beneran gue jadiin buku deh tulisan2 elo, hehehe

  3. Jampie Jupie said

    @Sinyo, air jamjam yang dibawa dari Biwako sono? apa air jamjam yang di bawa dari Medan? kan sama beningnya tuh… (*Abok lagiiii, ikh… abok lagiii… )

    @Jo, Jangaaaaan… Jangan elo yg nyetak bukunya. Tunggu aja tanggal maennya, ntar gw cetak deh kalo ceritanya dah kelar di atas hamparan kain kapan, kan enak tuh bisa jadi satu halaman (*ngirit binti pelit boooo…)

  4. Anonymous said

    Sayang Jup, air jamjam dari Biwako ga bening lagi, secara dah dipake berenang sama bebek2.

    -Mei-

  5. Jupie said

    Pasti yang dah bikin butek air jamjam di Biwako itu Bebeknya Cadek, yak? Pantesaaaaaaaan, keliatan seksehnya kalo abis mandi doank (*manggut2 terobsesi sama panci)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: