RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Bukan Sekedar Mimpi

Posted by jupiter pada November 15, 2008

Gerah, Mimpi dan Arti
(Bukan Sekedar Mimpi)


Malam ini sebetulnya aku ingin rehat membagi cerita, tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa hati serta kepalaku selalu penuh dengan kosa kata. Setiap ada kesempatan membuka jendela tetangga atau menyingkap sedikit tumpukan buku yang sudah menjadi sarang laba-laba. Jemariku seakan tidak pernah lelah untuk menari, lidahku terus bernyanyi dan otak bebalku semakin terasa berat, mungkin karena terlalu banyak menampung jutaan kata yang selalu saja berlomba minta dituangkan menjadi sebuah cerita.

Beberapa hari setelah kepulangan dari rangkaian perjalanan persahabatanku, entah bermula darimana mendadak ada keinginan untuk membagi sekilas sosok sahabat yang bukan untuk pertama kalinya ini telah aku temui.

Aku tidak tahu pasti apakah keinginan ini bermula karena ada segelintir orang yang meragukan kebenaran perjalanan kami atau mungkin karena adanya tanggapan miring dari beberapa orang yang menyangsikan keberadaan sosok nyata sahabat-sahabat gokil tercinta.

Hhhh, sebetulnya ini sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk aku pikirkan. Tapi melihat dari keterusikan beberapa sahabat yang merasa disepelekan dan sepertinya hanya dianggap sebagai pemimpi-pemimpi rendahan, maka jiwaku terpanggil untuk sedikit meluruskan sebuah kebenaran yang dari kedekatanku dengan mereka, sedikit banyak aku sudah cukup mengenal sosok mereka yang dalam kehidupan nyata bukan merupakan bagian dari orang yang bisa dianggap biasa.

Ok, langsung saja satu persatu aku coba kenalkan, mulai dari Cipcan si pengusaha muda yang walau masih di support orang tua dia telah berhasil membawahi tiga tempat hiburan di jantung kota Bali, Sinyo yang… waduh aku gak berani menceritakan latar belakang kehidupan nyata suhu kita yang satu ini, kalau dijabarkan di sini pasti akan membuat para pembaca geleng-geleng dan manggut-manggut (*jangan2 kembarannya tika project pop ye, suhu? Secara sahabat dekatnya aja konglomerat Bali gitchu loh), Jo si orang kantoran yang hampir setiap minggu wara-wiri Jkt – Bdg – Jkt (*trayeknya gak ganti2 neh, Jo? Kali2 kek narik geteknya nyampe ke Biwako sono), Lobin si wanita karier yang selalu tenggelam dalam segala keribetan mentraining orang yang kalo tanduk singanya dah keluar bisa membuat rontok bulu-bulu halus di telinga.

Tak ketinggalan tiga sahabat muda yang dari penampilan luar nampak sangat modis dan selintas lebih mirip penggemar hura-hura, mulai dari redQ si pemilik bajaj air line yang hampir seminggu dua kali mondar mandir Jkt – Bali – Sing – Ausi – Jkt demi untuk memuluskan tender bisnisnya (*termasuk bisnis birahi juga gak, Q? Colek2 idung QQ, gw mau dunk diadopsi ma Paman Gober biar bisa ngenekin bajaj), Nak Nyem alias kembaran Titi Kamal yang lebih banyak menghabiskan waktu di negeri Paman Sam dan baru tiga bulan yang lalu terpaksa harus mudik ke Bali sehubungan dengan bunda tercinta yang telah mendahului kita semua (*waktunya untuk berbakti ma keluarga kali, tha. Yang kuat yaaa…), terakhir si bontot Sapi, DJ Jelita pengganti sunset Kuta yang meski masih sangat belia rela melepaskan segala atribut kekayaan keluarga demi untuk menggapai cita-cita dengan menempa jiwa mandirinya di dunia hiburan yang sarat dengan tantangan (*tetap pegang prinsip ya, de… No free Sex n No drugs!).

Sementara kehidupan nyataku sendiri hanya merupakan remah-remah apabila dibandingkan dengan yang rata-rata mereka miliki, aku hanya seorang pengusaha kelas teri yang baru merangkak dan masih kesulitan untuk melompat (*Mudah2an mimpiku untuk secepatnya menetap di Bali dilancarkan jalannya, amiiiin).

Pada awal perkenalan kami, sama sekali tidak ada yang saling tahu sosok di kehidupan nyata masing-masing. Rasa nyaman dan saling percaya yang tumbuh perlahan membuat kami akhirnya saling membuka diri. Pertemuan demi pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya mengalir begitu saja. Tak ada syarat dan tanpa saling menilai sosok pribadi masing-masing mungkin menjadi awal dari semua kenyamanan yang kami rasakan.

Tidak ada misi dan kriteria khusus dalam kebersamaan kami ini. Semua mengalir begitu saja. Mungkin kami memang tidak terlalu cepat membuka diri terhadap sosok baru. Ini bukan berarti kami menutup diri, kami hanya sedikit waspada sehubungan dengan kenyamanan beberapa sahabat yang memang perlu kami jaga.

Dalam kebersamaan manis kami ini, sama sekali tidak ada jenjang antara ‘masyarakat biasa’ dan ‘masyarakat kelas atas’. Kami semua selalu sadar diri, pada akhirnya nanti yang akan kami tempati tidak lebih dari kapling dua meter persegi atau sebuah kendi yang hanya cukup untuk menampung jasad atau abu yang saat ini hanya menjadi titpan illahi.

Entah mengapa, malam ini tiba-tiba aku merasa ‘bebas’. Bukan? Bukan merasa bebas karena aku telah menjabarkan gambaran kehidupan nyata sahabat-sahabat yang notabene awalnya aku kenal melalui dunia yang katanya semu ini. Aku merasa bebas karena aku merasa memiliki Hidup ini seutuhnya, tanpa adanya masukan ataupun tekanan dari siapapun termasuk sahabat dan keluargaku sendiri. Dengan segala kekerdilanku apapun pilihan yang aku buat akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya, lengkap dengan segala konsekuensinya.

Aku memilih untuk tidak melihat konsekuensi sebagai ‘akibat’ dari keputusan yang ‘harus’ aku jalani, melainkan memandangnya sebagai sebuah pembelajaran. Sama seperti ketika aku mengejar mimpi-mimpi dan menemui begitu banyak kegagalan. Aku memilih untuk tetap berjalan. Aku memilih untuk bangkit dan terus mencoba. Aku menolak untuk dikalahkan oleh rasa jenuh dan putus asa. Aku menolak untuk berhenti walau menghadapi tembok sekalipun. Akan ku ambil jalan memutar, mendaki, melompat dan bahkan memanjat.

Demikian pula dengan jalinan persahabatanku baik yang aku kenal melalui bantuan jendela maya yang selanjutnya terjalin secara nyata maupun sahabat yang memang selalu mengelilingi di keseharianku. Dalam saat-saat paling sukar dimana aku merasa tidak ada gunanya meneruskan perjalanan, impian-impian akan indahnya kebersamaan itu menopang semangatku – menuangkan bensin pada nyala api yang mulai redup.

Saat hatiku mulai mempertanyakan keputusan yang telah aku buat, aku diingatkan bahwa tidak ada gunanya menyesali sebuah pilihan, karena hidup diciptakan untuk terus dijalani; ke depan, bukan ke belakang dan juga bukan jalan di tempat seperti wasit pada sebuah pertandingan yang kehilangan peluit.

Begitu juga ketika aku merasa kehabisan energi untuk terus melangkah, aku membuka kembali lembaran-lembaran mimpi yang tersimpan rapi di dasar hati dan menemukan tenaga untuk kembali berjalan. Sederhana saja. Aku memilih untuk bertahan dan tetap terus berjuang.

Aku selalu percaya pada kekuatan mimpi. Mimpi yang ‘menghidupkan’ jiwaku. Mimpi yang memberi makna dalam tiap jengkal langkahku. Mimpi yang menyediakan masa depan dan menyalakan sinar dalam malam-malam tergelapku. Sampai kapanpun dan apapun yang nanti akan terjadi aku tidak akan berhenti bermimpi, dan aku tidak akan pernah jera mengejar mimpi-mimpi itu sambil terus berharap pada Sang Pemilik Kehidupan yang berkuasa mewujudkan setiap impian, menurut cara-Nya sendiri.

Aku selalu percaya Ia akan mewujudkan setiap harapan, meski secara pelan-pelan dan karenanya aku tidak pernah takut untuk bermimpi. Aku selalu yakin, Ia yang berkuasa menilik hati setiap manusia, yang telah memberi kekuatan pada kaki-kakiku, membesarkan semangatku, juga akan membukakan jalan ketika langkahku terus menapak dengan hati yang senantiasa terbuka untuk belajar dari kesalahan serta mengisi hidup dengan rasa penuh syukur.

Hampa, galau, kosong dan gamang. Selama masih punya mimpi dan selama masih dinaungi pelangi persahabatan. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah merasa sendiri. Atas nama kebersamaan mari bersimpuh di hamparan karpet, duduk sama tinggi, meleburkan diri dalam rasa syukur yang betul-betul berasal dari hati.

Saat hidup terasa berat,
genggam tanganku lebih erat,
satukan langkah sehati,
menggapai mimpi-mimpi

Saat air mata membasahi relung jiwamu,
nyanyikan lagu ini denganku
Akan selalu ada sudut hangat di hatiku
ku tahu begitu pula di hatimu

(Nyanyian Sahabat – Cokelat)
Mungkin coretan ini tidak ada artinya untuk sebagian orang, bahkan mungkin sama sekali dianggap tidak jelas ujung pangkalnya. Tapi, bagi para pemimpi yang masih memiliki kerendahan hati mudah-mudahan coretan yang lebih banyak terinspirasi dari salah satu entri yang di tulis oleh salah satu penulis favoritku ini akan memiliki arti dan sanggup mengalirkan rasa sejuk, meski udara panas terasa sedikit menggigit.

Semoga.

(Jupiter doc/dalam gerahnya malam/15Nov08)

6 Tanggapan to “Bukan Sekedar Mimpi”

  1. mencintaijo said

    Dear Jupe, Cipcip, dan Sinyo…
    Walopun gue biasa dibayar buat nyanyi satu lagu, buat kalian gue rela deh berjam2 ditanggep nyanyi kaga jelas dan ga beraturan di Inul, hehehe.
    Gue bernyanyi untuk sahabat dan gue beruntung karena punya sahabat, muaaaaaach :*

  2. Sinyo said

    bayangkan ku melayang
    seluruh nafasku terbang
    bayangkan ku menghilang semua tanpamu teman

    ingatkan ku semua wahai sahabat
    kita percaya
    kita tebarkan arah
    dan tak pernah lelah
    ingatkan ku semua wahai sahabat
    (*Sahabat, Peterpan)

  3. Jupie said

    *ngebayangin suhu nyanyi dengan jingkrak2 gak jelasnya*

    Gw nyanyi juga akh… lo backingin gw ye Jo…

    Bersamamu ku habiskan waktu
    Senang bisa mengenal dirimu
    Rasanya semua begitu sempurna
    Sayang untuk mengakhirinya

    Melawan keterbatasan
    Walau sedikit kemungkinan
    Tak akan menyerah untuk hadapi
    Hingga sedih tak mau datang lagi

    Back to Reff:

    Janganlah berganti
    Janganlah berganti
    Janganlah berganti
    Tetaplah seperti ini

    Janganlah berganti
    Janganlah berganti
    Tetaplah seperti ini

    Lirik Lagu Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi) – Ipang BIP

  4. Anonymous said

    Gue malah jadi inget lagu-nya Tasya :

    teringat aku,sahabat lama
    Sahabat masa kecilku..
    teman sebangku.

    kawan sejati, tak terlupakan
    sekata, secita-cita
    mengukir angan.

    Kami bersenda gurau, bersama
    Belajar dan bekerja, bersama
    Suka dan duka kami rasakan bersama,
    Kini berlalu sudah.

    Smoga hidupmu, slalu berbakti
    dan kita disuatu hari
    berjumpa lagi.

    kira2 gitu syairnya..maaaap dah luaamaaa buanget ga denger lagu itu..hihihi..
    Dear Sahabats, kiranya hidupmu selalu berada dalam lindungan Sang Sahabat.

    dee

  5. candra- said

    Persahabatan bagai kepompong
    mengubah ulat menjadi kupu-kupu

    persahabatan bagai kepompong
    hal yang tak mudah menjadi lebih indah

    (Sindentosca – kepompong)

  6. Jupie said

    @Dee, Kita senatiasa muda untuk melakukan dosa tetapi tidak pernah tua untuk menyanyikan lagu Tasya. (*Gue ngerti banget deh, kalo lo lebih sering ngedengerin lagu Tasya daripada lagunya Agnes Monikah, secaraaa… cut! kqkqkq…)

    @Cipcan, HEH?? kagak salah neh jam di kompie gw??? tumben bangets seh lo ol jam segini? Pasti lagi ngebayangin nyang jorse2 kemaren subuh, yeee… (*WO-OW! KAMU KETAUANNNN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: