RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Bahagia tak memerlukan kata-kata

Posted by jupiter pada November 13, 2008

Perjalanan Persahabatan Tiga
(Bahagia tak memerlukan kata-kata)


Keindahan itu semakin merebak nyata dan bukan lagi sekedar fatamorgana. Kebersamaan yang sama sekali tidak didasari oleh syarat apapun selain kepercayaan dan rasa nyaman semakin membuat jiwaku merasa tenang. Aku tidak membutuhkan siapa-siapa lagi selain orang-orang yang bisa dan selalu menganggap aku ‘ada’.

Malam ini beberapa pertanyaan berputar di kepala. Cukup membingungkan ketika mencoba mencari jawaban diantara taburan pertanyaan yang sudah berdesakan ingin keluar dan minta dinomor satukan.

Bukankah hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan? Bukankah hidup harus fleksibel? Bukankah sesekali hidup harus dibiarkan mengalir? Tidak ngoyo dan selalu mencari kambing hitam, melainkan dijalani dengan rasa syukur dan tawakal. Lagipula, bukankah memperkaya hidup itu bisa dimana saja?

Kebingunganku dihentikan oleh pertanyaan terakhir: Akankah dunia yang berisi milyaran orang ini berubah, jika tidak ada satu orangpun yang peduli? Peduli pada kebahagiaan orang lain dengan bercermin pada segala hal yang membuat diri sendiri merasa bahagia?

Semua tergantung perspektif dan cara kita menyikapi realita, setiap hari, setiap detik dengan menanggalkan segala pikiran negatif yang hanya akan membuat hati bertambah sakit.

Ya, seandainya kita telah mampu berhenti melukai orang lain ketika sadar kitapun akan terluka apabila mendapat perlakukan yang sama. Sungguh akan menjadi aman dan damai seluruh penghuni bumi apabila rasa peduli itu sudah tumbuh dan membudi daya di setiap jiwa manusia. Semoga semua sahabatku mempunyai pikiran yang sama.

Seperti kebahagianku yang tidak bisa diungkapkan melalui jutaan kosa kata yang selalu berjejalan di kepala ketika menunggu detik-detik tibanya pertemuanku dengan keempat sahabat tercinta yang bukan untuk pertama kalinya ini.

Terkadang aku sendiri tidak habis pikir mengapa hatiku selalu dipenuhi dengan haru biru yang menggebu setiap menjelang detik-detik pertemuanku dengan mereka. Rasa nyaman akan kebersamaan selalu memenuhiku. (*Sumpeh! Gue sayang banget ma elo-elo pade. Dekap sangat erat buat sahabat-sahabat gokilku)

Detik demi detik berlalu, diawali dengan huru-hara pagi hari yang cukup menegangkan sehubungan dengan berita dadakan dari salah satu pegawai yang tidak bisa menjalankan tugas rutinnya. Cipcan si pengusaha muda Bali sibuk wara-wiri dengan handphone menempel di telinga. Mimik muka yang berubah-ubah, kadang ungu kadang putih lebih sering memerah dengan gelegar suara agak-agak berat membuat aku jadi membayangkan raut muka si lawan bicara.

*Seandainya tuh pegawai punya penyakit epilepsi, pasti dari pas die nelepon dah langsung nekat nyemplung ke kali. Trus seandainya die punya penyakit jantung, bijimane kelanjutan ceritanye yeee… Sama sekali tidak bisa aku bayangkan. Secara baru kali ini aku melihat sosok raja tega sahabat gokilku ini terlihat jelas dengan mata kepala sendiri. Beruntunglah yang menjadi pegawaiku karena aku selalu penuh dengan maklum biarpun hati gondoknya minta ampun.*

Tidak tidur semalaman, mendapati kenyataan harus mencari cara agar usaha tetap jalan biarpun tanpa hadirnya satu pegawai andalan, tetap bertahan untuk bisa menjamu semua sahabat yang datang, betul-betul membuat wajah jawara Bali mendadak putih bersih meski belum tersentuh usapan lembut sang bidadari kecantikan. (Puas banget kayaknya neh suhu kalo bisa menyaksikan kericuhan setelah huru-hara sarapan paginya. Ampun daaaah, gw gak mau ikut-ikutan ngerjain penguasa rimba Kalimantan. Kualatnya kagak pake acara nunggu barang semenitpun. Langsung apes-pes-pes-pesssss)

Oks, untuk mempersingkat cerita dan untuk menuntaskan rasa penasaran para jawara yang sudah dari kemarin sibuk menimang-nimang BaTa. Aku langsung masuk ke acara penyambutan kedatangan mereka saja.

Setelah sebelumnya muter-muter nggak jelas di Centro Kuta dan setelah sukses mengacak-acak beberapa permainan di Time Zone. Sore menjelang malam itu kami berlima terpaksa harus berpisah untuk sementara sehubungan dengan kedua sahabatku Nak Nyem dan redQ ada acara ketemuan dengan dokter kesayangan mereka.

Sementara aku, Cipcan dan Vivo segera meluncur ke pinggir jalan di depan Centro di mana Ibu Surinya Sinyo sudah menunggu dengan mobil sewaan kami yang daya muatnya lumayan luas untuk delapan orang. (*Asyiiiik… bentar lagi kembar dempet berikutnya bakal beraksi, neh. Pisss kacang buncis dah buat KD yang saat itu penuh dengan aroma bahagia yang juga tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Pake acara mules-mules segala ya, sis? Untung belum sampe acara pembukaan segala, coba kalo iya bisa berabe kita, kqkqkq…)

Mobil rentalpun meluncur dengan mulusnya menuju bandara. Dengan rasa bahagia yang tentunya porsinya berbeda-beda, kami berempat berdiri gelisah menunggu munculnya sosok juragan berlian yang sudah lumayan familiar dengan segala tingkah isengnya. (*Ups! Yang gelisah sih kayaknya cuma KD doank deh, secara belahan jiwanya gitchu loh yang mau datang)

“Suhu-suhu-suhu, itu dia suhu! Cieee… dasar preman, ganjen banget pake acara ngintip-ngintip kita segala.” Seru Cipcan yang pertama kali melihat wujud penampakan jawara gokil dari kalimantan kesayangan kami itu.

Spontan aku langsung menggoda KD dengan belaga mau menyambut suhu duluan. “Aku duluan… Aku duluan. Pokoknya aku gak mau tahu, aku harus dapet jatah meluk dia duluan. Dah kebelet banget, neh.” Seruku usil yang ditanggapi KD dengan hanya tersenyum penuh ketegangan. (*hmm, indahnya bertemu belahan jiwa, terpancar sekali dari senyum malu-malu kuciang jawara metaforaku ini)

Disela menunggu kedatangan bagasi, beberapa kali jawara biangnya usil itu bermain petak umpet dengan kami. Sebentar ngintip dibalik tubuh kekar penjaga pintu kedatangan, sebentar ngilang diantara kerumunan penumpang yang datang. Tingkah isengnya gak beda dengan bocah badung yang sangat menggemaskan. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya wujud nyatanya benar-benar keluar dengan mendorong troli yang dipenuhi barang-barang bawaannya. (*Gileee… mudik, bang? Banyak kaleee bawaannya)

Haru biru bertemu yang ketiga kalinya dengan penguasa rimba kalimantan untuk sementara terpaksa harus aku tahan demi memberi kesempatan kepada sepasang belahan jiwa yang terpisah oleh bentangan panjang jarak dan waktu itu saling mencurahkan kerinduan yang nampak begitu dalam. (*Kurang pengertian apalagi coba kiwilmu ini, sepanjang perjalanan rela memelorotkan diri di jok belakang demi tidak mengganggu kenyamanan dan kebebasan kalian saling memadu kasih sayang. Jangan lupa, bon tutup mata dan tutup kuping supri dan dua kenek setianya nyusul yeee…)

Ketika pada akhirnya kami harus mengembalikan ibu suri ke dalam pelukan sang empunya malam. Suasana haru kembali merebak, kerinduan yang belum tuntas tersalurkan terpaksa harus disudahkan dulu. (*Sabaaaar… sabaaar… masih ada empat hari lagi).

Mobil sewaan yang dikemudikan oleh Cipcanpun meluncur kembali untuk menurunkan seabrek barang-barang bawaan yang dibawa dari rimba kalimantan serta menjemput redQ dan Nak Nyem yang sudah memarkir kendaraan mungilnya di pelataran parkir penginapan, sebelum pada akhirnya kembali tinggal landas ke bandara ngurah rai untuk menjemput dua jawara dan satu bidadari yang datang dua jam kemudian.

“Hey! Udah nyampe? Ya sud kita udah otw neh, langsung ke gate area aja ya biar kita gak usah pake acara parkir segala.” Jawabku begitu mendapat berita kedatangan dari Lobin.

“Mana? Mana mereka?” Kami cekikikan mendengar nada bawelmeir binti alzheimeir mulai keluar ketika kami tiba di gerbang kedatangan.

Tidak perlu waktu lama untuk mencari-cari wujud mereka. Sepasang mata elangku langsung dapat melihat wujud jawara yang menurut beberapa sahabat mempunyai karakter kecacatan vokal yang hampir menyerupai vokal serak-serak becekku.

“Noh! nyang nyendel di tiang dengan gaya ala pleman bandala itu sapa coba, kalo bukan si manja banyak gaya?” seluku menunjuk ke alah satu penampakan yang bujubuneeeeng, gayanya itu loh! Sandla buluk bangeeeeet.

“Mana sih? Kok aku nggak liat? Mana Jup… manaaaa…???” sebelum bawelmeilnya tambah kelual, aku disusul jawala limba dan juga vivo langsung tulun menyambut kedatangan Sandla buluk, Lobin plus Madunya. Sementala sang supli setia Cipcan ditemanin bintang tamu redQ dan Nak nyem tetap bertahan di mobil belusaha memepetkan kendalaan sewaan kami yang teljebak dalam antlian kendalaan penjemput yang lain. Dekap hangat dan jitak-jitakan meslapun tidak bisa dihindalkan lagi.

Dalam kelamaian bandala, Pala jawala gokil akhilnya lalut dalam dekap pelsahabatan nyata yang entah untuk kebelapa kalinya ini. “Gile ye, padahal sebelumnya kita dah seling jitak-jitakan mesla baleng, kok bisaaaa gue kangen mulu ma kalian.” Celocosku sambil belgantian memeluk elat satu pelsatu dali ketiga sahabat yang datang. (*Sowly mowly dowly, belhubung sandla buluk yang datang, untuk sementala hulup “R” nya aku umpetin dulu yeee… solidel ama yang cadek, bow! Yipiiiiiiieee… Jupie makin seksiiiiiiih).

Malam yang penuh dengan kehangatan bunga pelsahabatan kini lengkap sudah. Jupie si kiwil sekseh alias dewa omez, Sinyo si Pleman Pallente alias julagan bellian, Cipcan si Laja Tega tapi sebetulnya kadang kagak tegaan juga, Jo si manja yang paling banyak gaya, Lobin si pleman yang katanya bijaksanah didampingi madu manjanya plus dua bidadali benyingnya Cipcan alias pasangan kembal dempet QQ dan Nak Nyem tak ketinggalan Vivo si bintang tamu nyang kayaknya kebingungan kalena melasa telsesat di salang pleman gokil nyang kagak ada matinye ini.

Jamuan hidangan makan malam khusus biangnya begadang yang sebetulnya sangat dipaksakan kalena semua tempat yang awalnya dilencanakan sudah balik badan semua akhilnya menyudahi pesta kedatangan. (*Tumben banget yee… balu masuk dini hali udah pada tutup semua? Pasti gala-gala lumol eksekusi si penjagal AmLoji neh. Mie intelnet satu, belih!)

*Lanjut lage kagak yeee… lumayan pegel juga neh otak setiap dipake buat nginget2 detail kegilaan kita kemalen. Hhh, tapi bijimane mood besok malem aja dah. Lempalan BaTAnya belon ada nyang belasa banget kaaan?*


(Jupiter doc/dalam gejala alzheimeir/13Nov08)

13 Tanggapan to “Bahagia tak memerlukan kata-kata”

  1. Sinyo said

    aih aih… makasih atuh kang Jupe, atas pengeltiannya, aku dah kalap kangen belat ama yayangku..

    Jupe, lo kulang atu, waktu sandla buluk ini nyendel pan nyambi ngelokok??? Ceilleee gayana itu loh! sampe2 Lobin n maduna menyingkil agal gak dikila sesama pleman bandala, kqkqkqkq
    (*padahal seeh si Lobin nyingkil kalena tatut pengen ngelokok juga..

    celita pelsahabatan ini, mungkin buat muntab2 pembaca yang gak ngelti dan gak punya hati. So wot gitchu loh…
    nyang penting aku bahagia tak telungkapkan belsua dengan sista2ku.. ;p

    Lanjuuuuuuuuutttt….
    (* siap2 nyambit BATAAAAAAAA!

  2. mencintaijo said

    *Ngumpetin bata* Akhirnyaaaaaaaaa…fiuhhhhhh…

    Nanti di print ya, Jupe. Pengen gue simpen dari awal sampe akhir.

    Masih nunggu lanjutan *Siapin Bata lagi ah*

  3. candra- said

    ah indahnya Duniaaaaaaaaa!pembaca jangan diabetes ya.kami2 ini emang sweettttttttt.lolzzzzzzz

  4. Jupie Sekseh said

    @Sinyo, kqkqkq… tenang aje suhuuuu, nyang paling setia ngikutin cerita perjalanan persahabatan kita ini cuma kalian betiga kok. Dan memang cuma untuk kalian jugalah makanya aku mau beribet-ribet ria mengingat detail segala kegilaan kita kemaren itu.

    @Jo, ntar gue bikinin versi yang dibukukannya juga dah spesial buat elo. Tapi awas loh! jangan sampe dijadiin pembungkus pembalut bekas yee… Jijay bajaj bow! Bisa-bisa gue sambit pake BaTa Baja beneran lo.

    @Cipcan peyaaaank, yang diabetes cuma nyokap gue doank kok. Tenang aja yang ketularan paling banter saudara2 cowok gw, secara penyakit warisan gitchu loh.

  5. candra- said

    eh jangan salahhhhhh…Chargerku juga ikutan nyimak kok.cuma masih speechless aja mo komen.komennya langsung ke aku dianya.lolzz

  6. Jupie Sekseh said

    O’ya? charger maniesku ngikutin juga? asyiiik… creambath rambut kiwilku dulu akh… biar tambah sekseh. Charger thayaaaank, masuk aja langsung gak usah pake nitip2 pesan ama si peyank. Special buat kamu pintu gubukku kagak pake di gembok kok. (*ngumpet di balik punggung bidang)

  7. mencintaijo said

    Jupe, my babe juga ngikutin lho hehehe. Pokoknya my babe kalo blogwalking selalu ga pernah absen ke blog kalian dah, hehehe *Iya kan, babe?”

  8. Jupie said

    Halah, kalo charger yg ngintip gw percaya soalnya die kan putri keraton tapi kalo sesama preman cuma beraninya ngintip doank? mana bisaaaa gw percaya.

  9. Anonymous said

    Jupe sayang….

    Aku ngikutin setiap coretanmu, jangan kuatir deh😉

    -Mei-

  10. Jupie said

    HEH??? Kagak salah liat neh??
    Mei cintaku danauku beneran ngikutin juga? Asyiiiik… mulai besok “aib” ayankmu aku keluarin terus akh… Gw rela deh neh pala benjol-benjol ditimpukin terus ama BaTA (*Melet ama Jo)

    Yipiiiiiie… Jupie terus nulis nyang HAPpy-hapPY.

  11. mencintaijo said

    BABE!!!!! Ngapain manggil2 Jupe pake kata sayang!!!!! Huhuhuhuhuuuuuuuu

    Jupe, elo jangan macem2 ama my babe yaaaaa!!!! Berani elo macem2 ama Mei, bukan cuma bata yang nangkring di kepala elo. Pisau juga bakal nancep di ubun2 elo. :p

  12. Jupie Sekseh said

    Elo mo nusuk ubun2 gw pake pisau, Jo? Ya udah biar lo gampang nusuknya, gw cabut dulu deh neh paku Hiiiiihiiiiiiihiiiiiiii… (*kunti sekseh pun beraksi)

  13. Anonymous said

    Ga usah rebutan ya 2 bidadariku yang cantik n sekseh, Jo my baby love n Jupe sayang…

    Daripada lempar2an bata mendingan lempar ciuman ke gue aja deh, gimana?😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: