RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Petir, Gokil dan Bubur Bali

Posted by jupiter pada November 12, 2008

Perjalanan Persahabatan Dua
(Petir, Gokil dan Bubur Bali)

Bumi bertaburan cahaya pelangi ketika tiba-tiba petir menyambar-nyambar di kepala. Waduh! Ada apa lagi nih? Gak ada angin gak ada hujan kok mendadak cuaca jadi gak ramah begini? Pasti ada yang salah lagi nih. Pikirku mencoba menetralisir degup jantung yang ikut berdegup kencang dengan menggumamkan beberapa doa penangkal gempuran setan yang berserabutan mencari perlindungan.

Hush-hush! Jauh-jauh dari kepalaku! Aku sedang ingin damai, aku sudah muak sekali dengan perang yang hanya sanggup menebarkan benih kehancuran.

Perlahan kuraba bagian dada, ada sedikit gejolak yang mencoba untuk keluar. Tahan-tahan! Aku berlari ke belakang, tanpa menanggalkan pakaian kuguyur seluruh badan, dari ujung kepala sampai telapak kaki tidak ada bagian yang tertinggal.

Cessss… kepulan asap keluar dari semua lubang. Perlahan gejolak di dada mulai berkurang… berkurang dan pada akhirnya kembali menghilang. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Dalam kuyup aku bercermin, bintik-bintik hitam masih setia di pipi, kesaktian Tampak Siring belum seratus persen terbukti. Kusingkap bagian dada, amaaan masih putih sempurna. Kugoyang-goyangkan kepala, rambut kiwilku yang terlepas dari ikatan terlihat semakin bertambah sekseh. (*Wuizzz… narsis sekali diriku. Melian Belanak, Bow!)

“Sekseh tapi tidak ada yang dinanti dan tidak ada yang menanti, kesian deh lo!” cibirku kepada cermin.

“Sebodo, emangnye gue pikirin! yang penting gue tetap masih bisa happy.” cibir cermin balik mengejek diriku.

Ups! Kenapa aku jadi berantem sama cermin? Halah! Bukan gue banget deh, akh… “Sapiiii… Sapiiii… pasti gara-gara kamu dah berbagi happy, neh.” Loh kok malah jadi ke Sapi, apa salah dia? aku terkekeh sendiri menyadari kegilaan yang tanpa sadar terjadi.

Dengan berjinjit kutinggalkan kamar mandi. Legaaa, petir yang menyambar tak lagi terdengar. Kutanggalkan pakaian, sisa air pancuran masih menetes di lantai meninggalkan licin dipijakan. Biarkan saja lah, toh yang ada di kamar ini cuma aku doang, paling banter yang bakalan kepeleset aku sendiri. Gumamku belaga gak peduli.

Setelah menyeruput sisa kopi dan mencomot sisa pisang goreng yang dibeli bunda tadi siang, kunyalakan sebatang rokok. Ada yang lebih indah dari sekarang? Aku menggeleng kemudian mengangguk, menggeleng lagi, mengangguk lagi… Huahahaha… gilaku kambuh lagiiii…

Set-dah! Kenapa otakku jadi goyang begini? Gejala alzhemier kayaknya sudah semakin mendekat, neh! Empat tahun lagi, bow! Ya sutralah daripada gila sendiri mending berbagi kegilaan saja dengan para pengunjung yang belum tentu setia.

Sampai di mana ya cerita kemarin? Pikirku menepis gejala alzhemeir yang mulai mencolek-colek isi kepala. “Gotcha! Aku ingat – Aku ingaaat,” otakku melonjak-lonjak kegirangan. (*Sakti banget gak sih, otak gue ini?!)

Yup! Pemirsa sekalian di pesta nasi jinggo itu ada seseorang yang terpana dengan kecanggihanku mengeluarkan asap. Dari mulai bentuk bulat, kotak-kotak, segitiga sampai dengan bentuk yang sama sekali tidak berbentuk lagi dia terus terpana menyaksikan atraksi gratisku. Sama sekali tidak tergoda dengan decak nikmat ketiga sahabat yang entah untuk keberapa kalinya terus menambah porsi makan sahurnya. (*Kalo ini sih dah bukan dinner lagi, jam satu pagi gitchu loh!)

Singkat cerita pada akhirnya si penonton setia mulai mencoba-coba mengikuti atraksi canggihku. Diambilnya sebatang rokok, tanpa diselipkan di bibir dinyalakannya seperti membakar sebatang lilin. Spontan aku tarik balik tuh rokok.

“Hey! Bukan begitu caranya! udah akh, pelajaran dah selesai. Kalo cara nyalainnya begitu sih stock seminggu bisa habis dalam semalam, neh. Rugi bandar tau!” Sungutku gak terima rokok kesayanganku di perlakukan seperti sebatang lilin. (*Hahaha… pisss deh buat murid ngasapku. Be ur self!).

Perut kenyang dengan hati yang super duper senang membuat kami berlima keleyengan ketika tiba di penginapan. Setelah berbincang-bincang ringan akhirnya ketiga sahabat mengamankan diri di kamar masing-masing. (*Ups! ralat dikit denk. Vivo di kamarnya sendiri sementara Nak Nyem n redQ jelas gak mungkin bisa terpisahkan lah yaw! Kembar dempet gitchu, loh!)

Tingallah aku berdua dengan Cipcan si jawara Bali. Seandainya hasrat diantara kami ikut berbicara pasti endingnya bakalan jadi lain cerita deh. Huru hara yang membabi buta itu pasti. Secara gitchu loh, preman ketemu preman. Hiahiahiahia… (*pinjem gaya gelinya redQ)

“So, apa yang akan kita lakukan?” tanyaku pada sang jawara yang dijawab dengan berebut keluar dari kamar. “Cabuuuuut…” (*kuatir ada setan gentayangan yang memaksa kami melakukan hal-hal yang diinginkan, bisa hancur lebur dunia perpremanan. Sumpeh Suhu! Kita sama sekali gak berkhianat kok, kqkqkq…).

Sedan mungil kesayangan jawarapun meluncur membelah pagi membawa sepasang preman menjelajah senyapnya Bali di dini hari.

Tepat jam empat pagi seorang jawara Bali yang usai menunaikan tugasnya memberikan hiburan kepada para penikmat hiruk pikuknya sebuah ruangan yang berwarna-warni datang menyambangi kami. Amaaaan… setan gentayanganpun kabur meninggalkan kami. (*Thanks to June yang menjadi penyelamat keisengan kami berdua).

Jadilah tiga jawara ramai menghabiskan pagi dengan segala obrolan yang membuat kami terpingal-pingkal geli dan berakhir di menu sarapan pagi yang menghidangkan kopi serta bubur bali (*Sumpeh! Gue baru tau loh, ternyata di Bali bubur itu dikasih kuah dan ditaburin pecel, towh. Norak banget ye, gue? Saking noraknya, tuh bubur sukses bikin gue dua kali adu tembak sama June. Muleeeees bow! Huahahaha…).

Jam menunjuk angka 07:30 waktu Denpasar ketika sedan merah mungil meluncur kembali menuju penginapan di ikuti June yang menunggang scooter merah kesayangannya. (*Tenang suhu, aib alzheimer lo sengaja gue lewat karena takut ketiban kualat kayak Cipcan yang sepanjang perjalanan balik ke penginapan sukses bikin huru-hara sarapan pagi lo. Yipiiiiiie… suhu pasti kagak bakalan happy! *AMBIL BATAAAAAA*)

Tu bi kontinyu lage…


(Jupiter doc/dalam aura gokil/12Nov08)

4 Tanggapan to “Petir, Gokil dan Bubur Bali”

  1. Sinyo said

    Jupeeeeeeeeeeeeeeeeee!

    duh, gue ketinggalan makan bubur Bali yak.. pengen juga tuh mengadu bom (heh, tp sdh deng wkt di kamar hotel… ;p

    Dasar dukun terserah lo aja mo brp episode yg penting happy!

  2. mencintaijo said

    Still waiting…

  3. candra- said

    hari itu aku tak tidur 24 Jam. critanya belajar ilmu Dewa.lolzzz

  4. Jupie said

    @Sinyo, kalo tembak-tembakan gw ma June sih merdu banget kaleee… gak kayak bom yg lo lempar, bikin closet langsung berantakan, weeeek… (*Jorse mode on)

    @Jo, bagian lo dah gw publish, intip lagi tuwh tapi lempar BaTanya jangan kenceng2 yee…

    @Cipcan, pelajaran jadi Dewanya dah sukses kan? Sukses tanpa kehadiran Mike Tyson, kqkqkq…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: