RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Nafas Kasih Bunda

Posted by jupiter pada Oktober 6, 2008

Aku, Bunda dan Lebaran kedua
( Nafas Kasih Bunda )

Matahari baru beranjak menghangatkan bumi ketika kulihat bunda sudah secantik peri. Aku dan kedua adikku yang masih asik bertukar cerita seketika saling sikut melihat bunda keluar dari kamar dengan busana lebaran keduanya. “Mau kemana, ma? Tumben masih pagi udah cantik?” godaku beranjak memenuhi isyarat panggilan tangan bunda yang meminta bantuan mengenakan jam tangan kesayangannya.

“Jam tangan mama yang dua lagi kemana ya, nak? Kok di laci lemari mama nggak ada? Jam yang ini rantainya udah gak nyaman di tangan mama, lagian mama bosan pakai jam tangan ini terus kalau pergi kemana-mana.” Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang lebih tepatnya sebagai keluhan kebosanan bunda yang walaupun sudah renta masih tetap memperhatikan keserasian busana serta perlengkapan yang biasa dikenakannya.

Bandung Bangeeet! Gumamku geli, mengingat aku yang anaknya saja boro-boro deh sempet mikirin penampilan. Biarpun kalau mau pergi kemana-kemana selalu dibawelin oleh bunda, tetap saja tidak pernah mau direpotkan dengan segala tetek bengek yang berbau penampilan. Cuek bebek banget lah, yaw! Perduli amir sama pandangan orang lain, yang penting nyaman di badan dan pede di hati, that’s enough.

“Lah emangnya mama suka pergi ke mana? Keluar rumah aja udah setahun ini hampir nggak pernah. Jam tangan yang ini juga masih bagus banget kok, ma. Tuh jarum jamnya aja putarannya masih lincah, rantainya juga masih gak kalah kinclongnya sama kalung yang mama kenakan, kurang apa lagi coba? Mana ada sih nenek-nenek sekeren mama kita ini. Iya nggak, de?!” kataku mengedipkan mata ke dua adikku yang senyam-senyum melihat rayuan mautku telah menghadirkan kembali senyum di bibir bunda.

“Ya udah, kamu buruan mandi. Nanti ke makamnya keburu panas.” Jawaban bunda spontan mengagetkan aku dan kedua adikku.

“Ups! Ke makam? Kan tadi udah sepakat pergi ke makamnya minggu depan nunggu yang pergi nyekarnya berkurang.” Protesku seketika menatap wajah bunda, berharap bunda memberikan jawaban kalau beliau memang lupa dengan kesepakatan kami satu jam yang lalu, sebelum bunda masuk ke kamar mandi.

Mendengar penjelasanku, bukannya meralat ucapannya, bunda malah langsung terisak. Halah! Nggak bisa deh kalau sudah begini. Aku melirik ke dua adikku sambil mengangkat bahu.

“Ya udah, kalau mama maunya sekarang, aku mandi dulu deh. Jangan nangis dong, ma. Sayang latulipnya nih, jadi belepotan lagi deh.” bujukku mencoba meredakan isak tangis bunda yang kalau keinginannya tidak segera di turuti bisa berubah menjadi raungan yang berkepanjangan.

“De, kalian sudah pada mandi kan? Tolong bantu rapihkan dandanannya mama lagi nih, gaswat banget kalau nanti di jalan jadi nggak ada yang naksir gara-gara latulipnya luntur. Bisa mendadak tumbang deh predikat janda kembang mama kita ini.” Seruku mencoba mencairkan suasana begitu melihat raut wajah dua adikku yang masih kebingungan menghadapi kenyataan kepikunan bunda yang entah sudah mencapai stadium berapa.

***

Seperti dugaan kami sebelumnya, suasana di pemakaman umum begitu padat. Tak ubahnya suasana di pasar tradisional ketika menjelang lebaran, ratusan orang berjejalan. Puluhan motor dan mobil parkir tidak beraturan di sepanjang jalan menuju pemakaman umum tempat jenazah almarhum papa di semayamkan.

Keringat di dahi adik lelakiku sampai bercucuran ketika berusaha memarkirkan Opel Blazernya di sebuah halaman rumah penduduk yang mendadak berubah fungsi menjadi lahan parkir berbayar.

Hhhh, masyarakat Indonesia memang paling jeli kalau dalam urusan memanfaatkan situasi. Keadaan apapun bisa dijadikan sebagai ajang mengumpulkan materi. Salut!!

“Kok parkirnya jauh banget, makam papa kalian kan yang di sana tadi!” protes bunda pada adikku seraya menunjuk beberapa blok pemakaman yang sudah kami lewati.

“Wuizzz… hebat! Kalau udah menyangkut cinta sejati mah segala yang berbau pikun mendadak jadi luntur, deh.” Bisikku usil ditelinga adik bungsuku.

“Hush! Ntar kedengaran bunda, loh!” bisik adikku terkekeh, menyikut lenganku ketika melihat bunda menengokan kepala ke arah kami.

“Ups!” Spontan aku langsung menutup mulut usilku.

“Yup! Dah sampai deh, gimana ma mau ikut turun atau nunggu di mobil aja? Lumayan jauh loh jalannya.” Jelasku seraya berusaha mengoyahkan keyakinan mama yang tetap ngotot ingin ikut nyekar makam almarhum papa.

“Ikut lah, ngapain jauh-jauh ke sini kalau cuma mau nunggu di mobil. Lagian kesian papa kalian kalau nggak mama tengokin.”

“Hhhh, benar-benar deh mama kita ini, tubuh renta kemauan baja!” mulut usilku kembali berkicau yang di sambut dengan pukulan tanpa tenaga di kepala.

“Syukurin! usil banget sih.” Seru kedua adikku kompak begitu melihat aku pura-pura meringis dan mencoba menangkis dua pukulan yang dilancarkan bunda.

Selanjutnya dengan di papah aku, adik lelaki dan satu keponakan lelaki yang sudah beranjak remaja, bunda terus berusaha menyeret kaki kanannya yang sebetulnya sudah susah untuk digerakkan. Sementara adik bungsu serta adik iparku mengawal dari belakang.

Selintas retinaku yang memang selalu jeli membaca situasi menangkap puluhan mata yang mencuri pandang ke arah kerja kelompok kami. Tatapan mata yang berbeda-beda, mulai dari tatapan iba, haru sampai dengan kekaguman tersirat dari sorot mata mereka.

Satu… dua… tiga… empat belas… tepat di langkah yang ke lima belas akhirnya bunda menyerah. “Masih jauh ya, nak? Mama udah nggak kuat, kaki mama sakit banget.” Ini adalah keluhan pertama yang keluar dari bibir bunda.

“Ini baru seperempat jalan, ma. Ya udah kalau nggak kuat jangan dipaksakan, mama tunggu di sini aja, ya. Biar aku dan adik-adik aja yang ngewakilin mama nengokin makam papa.” Kataku yang di aminkan oleh ketiga adikku.

Dengan sorot mata yang terlihat tidak terima dengan kondisi phisiknya yang sudah jauh dari prima tersebut, akhirnya bunda pasrah ketika kami menitipkan beliau pada seorang ibu penjaja kembang yang dengan sukarela langsung menyodorkan kursi tunggunya kepada bunda.

Perjalanan bunda bertemu belahan jiwanyapun berakhir di kursi ibu penjaja kembang yang mangkal di sepanjang pinggiran jalan pemakaman.

***

Bunda, setelah sekian lama. Kini aku bisa melihatnya, melihat cinta sejati yang tidak hanya berupa kata-kata. Aku melihatnya dengan sangat jelas dari besarnya tekadmu walau hanya untuk bisa menyentuh nisan belahan jiwamu.

Dalam haru yang sangat membiru, ingin rasanya aku membekukan sang waktu agar tidak beranjak memandang wajah tegarmu. Wajah yang selalu dipenuhi dengan aura kedalaman Kasih yang sangat indah…

Bunda, besarnya kasih serta kuatnya tekadmu selalu sanggup menebarkan benih asa di sepanjang hidupku. Aku sangat bangga memiliki bunda setegar dan sehebat dirimu. Kuhirup terus hembusan udara kasih di setiap helaan nafasmu.

(Jupiter doc/dalam nafas kasih bunda/02Oktober08)

3 Tanggapan to “Nafas Kasih Bunda”

  1. Jo said

    Dear Jupe,

    Bunda, satu-satunya orang setelah Tuhan yang dapat mengajarkan kita akan arti cinta sejati. That’s why kita bisa jadi seperti sekarang😉

  2. Jupiter said

    Setubuh banget Jo, untuk saat ini cinta sejatiku hanya untuk Dia dan Bunda.

  3. eleanor jezebel rose said

    aku jadi kangen mama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: