RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Menjemput Hari Kemenangan

Posted by jupiter pada Oktober 1, 2008

Aku, Damai dan Lebaran
(Menjemput Hari Kemenangan)

Malam ini kembali aku bersenggama dengan kata
Tak terhitung banyaknya huruf dan angka yang berjejalan di kepala
Dengan mengerahkan segenap daya kucoba melapangkan dada
Kuhentakan nada demi menuangkan ribuan kata yang terpenjara

Beberapa hari yang lalu aku terpaku pada satu cerita pilu
Bibirku bergetar menahan amarah yang tidak bisa keluar
Dada bergolak melihat kenyataan rimbaku penuh kemelaratan
Mata membeliak ditikam serbuan hujan yang tak berkesudahan
Atas nama kemanusiaan aku mengutuk segerombolan penjagal
Kedua tanganku gemetar menghiba surga untuk para korban

Kemarin malam kedua tanganku kembali menadah gemetar
Memohon ampunan penguasa alam atas segala kealfaan kata
Kekhilafan sikap yang sudah terlanjur dicatat oleh malaikat
Kelalaian hati yang tak pernah berhenti memagut mimpi
Kesalahan diri yang telah mengabaikan hikmah yang tersirat

Dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara penjaga malam
Membisikan untaian kata yang menyejukan hati dan juga kepala

Selama rembulan masih bisa bersinar terang
Jangan pernah kamu risaukan datangnya masa depan
Ketakutan hanya akan membuat dada berlubang
Teguran yang datang merupakan simbol kasih sayang Tuhan

Sore tadi aku beranjak sejenak dari dunia maya
Kucoba mencerna segala peristiwa yang terjadi di dunia nyata
Tanpa sengaja kulihat ada bias pelita menuju jalan yang kudamba
Perlahan kuayunkan langkah dengan lantunan dendang penuh irama

Di malam penuh kemenangan tanpa genderang aku tengadah pasrah
Untuk pertama kalinya aku dapat melihat bias pelangi memancar
Satu demi satu butiran sisa hujan yang membeku mencair perlahan
Kepingan harapan di masa silam sedikit demi sedikit mulai terangkai
Nafas bijaksana merontokan ribuan uban yang mengincar kulit kepala

Diantara syahdu dendang takbir-Mu
Gradasi warna langkah mulai tertata
Tirai selubung tanya mulai terbuka
Pelangi di ujung ramadhan menopang sukma
Biasnya seperti mozaik yang menari di mataku
Meredakan hujan merobohkan portal

Tiada lagi risau yang menghujam
Hilang sudah lirih yang merintih
Aku terbang melayang bersama damai
Dalam gema takbir “Allah Hu Akbar”
Ku ucapkan selamat menjemput hari kemenangan
“Minal Aidin Wal Fa Idzin. Mohon maaf lahir dan bathin.”

Semoga kita dilahirkan kembali menjadi puisi
dengan metafora yang tak pernah berdusta
dan rasa yang enggan berbuat dosa

Semoga kata dilahirkan kembali sebagai mantra
dengan makna yang tak lagi menyakiti mata
dan hati yang tak lekas menjadi basi

(Jupiter doc/Dalam buaian kemenangan/01Oktober08)

2 Tanggapan to “Menjemput Hari Kemenangan”

  1. Anonymous said

    maaf lahir bathin ya jup aku suka ini, cool!

    Semoga kita dilahirkan kembali menjadi puisi
    dengan metafora yang tak pernah berdusta
    dan rasa yang enggan berbuat dosa

    Semoga kata dilahirkan kembali sebagai mantra
    dengan makna yang tak lagi menyakiti mata
    dan hati yang tak lekas menjadi basi

    ujan

  2. Jupiter said

    Amiiin… mohon maaf lahir dan bathin juga ya, sis… atas segala ucap dan prasangka yang mungkin pernah mewarnai jalinan persaudaraan kita. Sebagai manusia biasa kita hanya bisa berencana dan berusaha, mudah2an niat baik kita selalu diluruskan jalannya oleh Allah Swt. Bismillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: