RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Puisi atau Sajak?

Posted by jupiter pada September 15, 2008

Satu Jam Yang Menyesakan Malam
( Puisi atau Sajak? )

Tik Tak Tik Tak Tik Tak…
Waktu terus melaju, hati menjadi beku, pikirku kembali buntu
Malam ini entah mengapa aku sangat rindu dengan ikhlas
Dan sangat ingin menghapus segala yang beraroma bekas

Aku tak tahu apakah coretan ini masuk kategori puisi atau sajak
Tak pernah ada ilmu khusus yang aku pelajari untuk menuangkannya
Buncahan kata mengucur dan mengalir dengan sendirinya
Laksana sekumpulan laron di musim pertama penghujan
Berlompatan, berdesakan, bergumul memenuhi pikirku
Aku tak sanggup lagi untuk menahan gejolaknya

Berungkali kucoba untuk menarik garis lurus alur sebuah cerita
Tapi semakin aku arahkan malah semakin bertambah berantakan
Ribuan kata berhamburan, berjejalan dan berlomba untuk bisa keluar

Malam ini aku tak perduli lagi dengan runtut
Segala beban ini harus bisa aku lepaskan
Kubiarkan kalian keluar dari penatnya pikirku
Mungkin dengan keluar, sesak di dadaku bisa berkurang
Semoga setelah ini, hati dan pikirku bisa kembali jernih
Agar aku bisa bebas dari himpitan yang selalu bernada lirih

***
Perkutut itu ribut sekali
Bangunkanku dari lembah mimpi
Suruh dia pergi!
Atau cekik mereka sampai mati!
Agar rupamu tak semakin meninggi

***

Kemarin kembali aku bermimpi
Mimpi yang serba tak pasti
Ada kamu, ada dia, ada aku
Kucoba meraih satu-satu
Tiba-tiba mimpi itu menjadi buntu
Kamu pergi
Dia pergi
Dan aku kembali bermimpi

***

Ini bukan yang pertama
Ini bukan pula yang terakhir
Entah apa yang aku rasa
Ini tidak biasa dan sulit untuk kuraba
Ada pedih, ada haru, ada rindu
Aku tahu pintu itu sudah tertutup sangat rapat
Beberapa kali aku mencoba untuk mengetuk
Tak ada suara, tak ada gema, tak ada gejala
Rasa telah berselimut jelaga sunyi
Dan aku tetap bertahan untuk sendiri

***

Ini comberan bukan kali! tegas kamu

Apa bedanya? tanyaku
Buatku mereka terlihat sama saja
Ada lubang, ada air, ada hitam, membaur dan mengalir

Tidak sama!
Coba perhatikan baik-baik!
Air di comberan hitam dan tidak mengalir
Mereka terlihat seperti kumpulan yang selalu diam
Tapi sebetulnya mereka sama sekali tidak sedang diam
Mereka sedang menunggu untuk bisa menghisap dan memakan
Mereka itu selalu lapar dan selalu siap untuk membantai
Bagi mereka, hitam adalah kesukaan yang bisa mengenyangkan

Beda sekali dengan kali
Air di kali tidak selalu hitam dan terus mengalir
Mereka terlihat membaur antara jernih dan hitam
Tak ada yang mereka kejar selain waktu yang berjalan
Mereka tetap mengalir tenang tanpa terbebani oleh hitam
Mereka memang sedikit usil tapi jauh sekali dari bathil
Bagi mereka, hitam dan jernih adalah bagian tak terpisahkan

Menjauhlah dari comberan karena laparnya bisa mematikan
Membaurlah ke dalam kali maka hidupmu akan lebih berarti

***

Mengapa kamu suka sekali dengan hitam?
Hitam itu identik dengan gelap
Gelap itu identik dengan kematian
Apakah kamu memang merindukan mati?

Aku terdiam mendengar tanyamu yang memojokan
Nafas sedikit tersenggal sebelum kulontarkan sanggahan

Didalam hitam aku menemukan gelap
Di antara gelap aku bisa melihat terang
Mungkin aku memang selalu merindukan mati
Tapi bukan mati dalam keadaan sendiri
Karena bagiku mati bukanlah yang hakiki
Mati adalah awal terjadinya reinkarnasi
Dari kehidupan yang bertitik akhir
Menuju kehidupan yang katanya abadi
Semoga jiwaku tak akan pernah mati
Sampai mati itu menjemputku sendiri

***

Cinta, apakah kamu masih percaya cinta?
Cinta itu buta, cinta itu bagian dari sandiwara
Tak pernah kutemukan cinta yang benar-benar cinta
Cinta ada karena kita yang selalu meminta

Cinta itu ilusi
Cinta itu fantasi
Cinta itu imajinasi
Kutepis cinta yang selalu membuatku menderita

(ungkapan miris seorang sahabat yang baru putus cinta)

***

Mereka selalu bilang nyatamu tak seindah yang kubayangkan
Aku tak perduli dan sungguh aku tak mau perduli
Tak akan kubiarkan celoteh mereka mencabik kenangan indah kita
Hanya kenangan indah ini satu-satunya yang masih aku punya
Walau tak akan pernah berubah menjadi nyata
Dan meski hanya merupakan bagian dari fatamorgana
Sampai kapanpun akan selalu aku jaga dan aku pelihara
Karena bersamamu kutemukan segala yang aku damba
Kunikmati bercinta dengan angan yang tak bisa menjelma nyata

***

Bodoh!
Goblok!
Dungu!
Kumaki hatiku yang tak pernah mampu mengusir mimpi

Dia sudah pergi!
Dia sudah enggan!
Dia sudah menghilang!
Aku tak mau mendengar dan berusaha untuk bisa tetap bertahan

Kamu cuma mainan!
Kamu hanya pelengkap!
Kamu tak pernah benar-benar dianggap ada!
Aku berusaha percaya tapi hati tak mampu untuk berdusta

Palingkan wajahmu!
Matikan rasamu!
Langkahkan kakimu!
Kucoba perlahan tapi pintu itu mengundangku kembali datang

Akh… bilakah bayangan indah itu akan kembali datang?
Atau mungkin akan benar-benar menghilang?
Kembali hanya rumput bergoyang yang sanggup menampung tanya

***

Aku berjalan limbung dengan perut yang sangat kembung
Aku terseok ketika tiba di jalan yang sangat berkelok
Aku tersandung ketika menendang batu yang bergelung
Aku tertatih ketika belati kembali mengucurkan perih
Aku terhenti ketika jiwaku kembali merasa sendiri
Aku tak akan pernah benar-benar berhenti
Aku akan terus melangkah walau jiwaku sudah sangat lelah
Aku hanya butuh sejenak untuk melepas segala penat

***

Kamu pernah menjadi perempuanku
Dia pernah menjadi perempuanku
Mereka pernah menjadi perempuanku
Tapi kamu, dia dan mereka tidak sama
Dia dan mereka sudah lama hilang dari pikir dan hatiku

Sementara kamu?
Sampai detik ini masih dan selalu menghantuiku
Hantu yang begitu indah dan tidak pernah mampu untuk aku cegah
Kubiarkan hantumu merambah dan menjelajah ke setiap celah
Sampai hantumu benar-benar merasa lelah dan kemudian menyerah

***

(Satu jam yang menyesakan malam/Jupiter doc/14Sep08)

17 Tanggapan to “Puisi atau Sajak?”

  1. Affy said

    Waduh, puasa2 gini, puisi elo bikin perut gw makin kriuk2 aja,Jupe…untung gw udah minum hemaviton sahur tadi, jadi nggak langsung gdubrak mbacanya, hehehehee…
    Tapi elo emang Leo banget ya kalau soal hati…ya udah, gw ikut do’ain, segala harapan2 dan angan2 elo suatu saat bisa jadi kenyataan ye…amin.
    Saat manusia benar2 berniat dan bertekad, saat itu pula sesungguhnya Allah akan berkehendak…
    Masih puasa kan, Say…awas loh, jangan ngintip yang “panas2″… kecuali panci dan penggorengan, hahahahaa…

  2. Jupiter said

    Puisi? emang ini puisi? Kok gw ngerasanya ini cuma sampah, yak?! (*protes mode on)

    Tak Tuk Tak Tuk
    jidatku terantuk
    nafasku bau kentut
    palaku manggut-manggut
    Goreng kerupuk takut-takut
    Panas dikit bikin bantut
    Perut laper kukuruyuk

    (Apaan sih, neh? *DZIGHT* tampol jidat Affy. Ups! mahap-mahap, salah sasaran. Maksudnya tampol jidat ndiri, kqkqkq…)

  3. Anonymous said

    ini ngomong apa sih? *puyenk :p
    ~rinai

  4. Jupiter said

    Ngomong apa, yak? *binun*

  5. Sinyo said

    Akh Jupe! Kalo melo gene bikin binyun..
    Mending ikut gue ke puun cinta teacha Lakhs, lagi ada pesta ntar sore sekalian buka puasa bersama, yuuukk yaaakk yuuukkk

  6. Anonymous said

    >>Satu jam yang menyesakan malam
    knapa malem2 sesak napas? asma ya?😀
    ~rinai

  7. cip- said

    gw rasa ini efek dr hom2an.jadi bgini ini dah hasilnya.ck ck ck …jd puitis bgt dah si KGP

  8. Jo said

    Hasil dari semedi di rumah pohon tuh, hehehe. Akhirnya sang kalong kembali dari pertapaan. SEMANGAT!!!

  9. Jupiter said

    @Sinyo, maneeee? katanya ada pesta, kok barusan aku intip masih sapi gitchu. Cuma dapet Lempok ma kambing doank.

    @rinai, iye neh lagi asma-ra dirasa. Mau nolongin gak? kasih nafas buatan, dunk!

    @cip2, iye puitis banget. Saking puitisnye idung gw ampe lo bikin kembang kempis juga (mampet sebelah, euy! hiks…)

    @Jo, belon bener2 kembali kok. baru nyoba bersih2 buat persiapan lebaran doank. SEMANGAT menunggu juga dah buat, lo. “Orang sabar kenyang makan ketan”

  10. rinaisenja said

    muah, muah, muah…
    dah cukup blom napas buatannya??

  11. Sinyo said

    Lha gue dr semalam di sana, katanya Jo mo nari hula-hula.. nyang ada kambing beJo yang nari..😆

    Hallo Rinai, boleh kenalan nggak? aku juga asma loh..:mrgreen:

  12. rinaisenja said

    uhuk uhuk uhuk. klo aku batuk redjan😀

  13. Jupie said

    ehummm… makacih nafas buatannya ya, nai… jadi seger lagi dah… kata si mbah, batuk redjan obatnya nafas buatan juga lho. (*twink-twink)

    Sinyoooo… kaga ada takutnye ye. tepe2 terang2an di mari.. ketauan bini baru nyaho, lho!

  14. rinaisenja said

    heleep, heleep, minta napas buatan duong, wikikik

  15. Jo said

    rinai, aku juga mau dunk nafas buatannya hehehe

  16. Jupiter said

    Halah! nambah lagi dah saingan gw. Rinai thayank sini aku kasih nafas buatan, mumpung lagi puasa neh jadi aromanya surga banget. *BLETAKKK!!*

    Ampun fy… ampuuuun… gw gak lagi omes kok, cuma lagi ngasih pertolongan pertama doank ama yg lagi batuk redjan (*ngacir ke pasar mo jual bakiak, lumayan dah buat bekal lebaran. kqkqkq…)

  17. rinaisenja said

    wikikikikkk😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: