RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Pusaran Waktu

Posted by jupiter pada Juni 12, 2008

KISAH PERJALANAN
(Pusaran Waktu)

Sore itu matahari tertutup awan kelabu tebal namun udara di permukaan laut terasa sangat panas. Kent memandang laut tidak berkedip, sinar sang surya yang siap tenggelam membuat air laut kemerahan. Di pelupuk matanya tergambar silih berganti kisah masa lalu serta harapan masa depan yang mulai berubah samar.

Sesaat kemudian ia menggelengkan kepala berungkali, “Tidak! Aku tidak boleh seperti ini terus. Segala perbedaan yang aku rasakan ini, sudah waktunya aku cukupkan sampai di sini. Tiga tamparan sudah cukup untuk aku jadikan sebagai pelajaran, bahwa apa yang selama ini aku cari memang tidak ada di sini.”

Perlahan Kent memandang berkeliling, di kejauhan terlihat beberapa pulau bertebaran di permukaan laut namun ia tidak lagi dapat melihat perahu yang tadi ditumpanginya. “Tanpa perahu tadi, aku tidak akan pernah bisa kembali melihat keindahan pulau-pulau itu.” Gumam Kent pelan sambil mengusap tengkuknya yang mulai dibanjiri oleh keringat dingin.

“Sepertinya aku sudah terjebak di pulau tak berpenghuni ini. Apa yang harus aku lakukan?” Kent berpikir keras. Setelah memandang hamparan langit yang mulai berubah kelam, akhirnya ia memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam pulau yang terdiri dari gunung, bukit dan bebatuan tersebut. “Mudah-mudahan di dalam sana aku bisa menemukan tempat untuk sekedar melepaskan lelah, sampai akhirnya aku bisa kembali melanjutkan perjalanan singkatku ini.”

Angin bertiup sepoi-sepoi basah, kawanan burung laut terbang melintas di atas kepalanya. Kent berjalan dengan gontai mencoba menembus lebatnya hutan, ia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya sampai akhirnya tiba di satu tempat yang jarang didatangi manusia, suasana di tempat tersebut terasa sangat mencekam.

Tenaganya yang sudah terkuras membuat pandangannya mulai berkunang-kunang, sehingga ia tidak lagi sanggup menahan keseimbangan tubuhnya ketika salah satu kakinya tersandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang. Tak ampun lagi Kent jatuh terperosok ke dalam jurang, menggelinding ke bawah membentur semak belukar, mengait ranting-ranting pepohonan rendah.

Ketika tubuhnya sampai di dasar jurang, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya sementara keningnya terasa sangat pedih. Perlahan tangannya bergerak meraba. Ada cairan mengalir di keningnya, turun ke pipi kiri. Saat itu keadaan belum sepenuhnya gelap, pantulan terakhir cahaya matahari masih bisa membuat Kent mengenali bahwa cairan merah yang ada di tangannya adalah darah. Darahnya sendiri. “Aku terluka,” pikir Kent mendadak merasa ngeri melihat darahnya sendiri, detik berikutnya pandangannya menjadi gelap.

Beberapa jam setelah matahari terbenam, kesadaran Kent mulai pulih kembali. Ketika kedua matanya dibuka, bintang-bintang yang bermunculan di langit segera menyadarkan ingatannya bahwa hari sudah menjadi malam. Perlahan dipalingkan kepalanya ke kanan, hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Sepasang telinganya mendengar suara sangat lirih diantara desau angin. “Siapa pula yang bersenandung di tengah hutan begini rupa?” Mendadak bulu kuduk Kent mulai berdiri.

Kemudian dipalingkan kepalanya ke samping kiri. Awalnya hanya kegelapan juga yang dilihatnya. Namun kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu matanya yang masih berkunang-kunang dapat melihat dengan samar satu lekukan batu di dasar jurang, dengan jarak kira-kira sepuluh tumbak dari tempatnya terkapar, “Dari pada di tempat terbuka dan menyeramkan begini, lebih baik aku segera pindah tempat ke lekukan batu itu.” Gumam Kent dalam hati dan mulai beringsut untuk bangkit.

Walau sekujur tubuhnya terasa sakit serta seluruh sendi tulangnya terasa ngilu ketika digerakan. Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri serta dengan mengandalkan sisa tenaga yang masih ada, tertatih-tatih akhirnya Kent berhasil mencapai lekukan batu yang ternyata adalah mulut sebuah goa. Ketika sampai di mulut goa, ia langsung tidak sadarkan diri lagi.

Keesokan paginya, udara lembab yang keluar dari dalam goa yang menyelimuti seluruh permukaan kulit tubuhnya memaksanya untuk membuka mata. Dalam keadaan sekujur tubuh menggigil, Kent merasakan tubuhnya terasa lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan semalam.

Perlahan disandarkan tubuhnya ke dinding goa. Ketika menghirup hawa lembab yang keluar dari dalam goa, ia merasakan tubuhnya menjadi segar, dadanya lega dan tenaganya berangsur pulih kembali.

Ketika kesadaran serta kekuatannya mulai pulih. Kent mencoba meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samar-samar dilihatnya banyak sekali tulisan-tulisan, tertutup oleh debu yang menebal, tergugus oleh ketuaan zaman. Tulisan-tulisan itu kacau balau tak beraturan. Semakin lebar Kent membuka kedua matanya. Apa yang dibaca olehnya itu awalnya sulit untuk dimengerti. Tapi ketika dibaca ulang dan disambung satu persatu, tulisan tua dan tak beraturan tersebut ternyata merupakan rangkaian kalimat yang memberi pengertian tentang sebuah pelajaran kehidupan.

Sepanjang zaman samudera tak akan pernah tenang
Gelombang selalu datang menantang dan menghantam
Ribuan pagi ribuan petang datang silih berganti
Tubuh mulai ringkih menanti hadirnya satu kepastian
Hingga renta tetap bertahan tak memalingkan pandangan
Menunggu datangnya bias pelangi dalam pusaran kelam
Bilakah ini akhir penantian dan permulaan satu harapan
Hanya kepada Yang Maha Kuasa tertambat seluruh jawaban
Agar tubuh rapuh menjelang lapuk ini bisa bebas menempuh
Gemerlap cahaya terang yang memayungi jalan keabadian

Selesai membaca, Kent mencoba untuk memahami makna dari rangkaian kalimat tak beraturan itu. Tapi tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa sedingin salju di puncak gunung es, hingga ia menggigil keras. Rahang mengembung geraham bergemeletakan.

Kent berusaha bertahan. Tapi sia-sia. Sedikit demi sedikit tangannya yang menahan tubuhnya terkulai lemah ke samping. Badannya jatuh terbujur ke dasar goa, tubuhnya yang sedingin es itu tidak dapat digerakan sedikit pun. Kedua matanya terpentang lebar, namun ia tidak bisa melihat apa yang ada di sekitar ataupun di atasnya.

Satu kejadian aneh seketika menyelubungi Kent. Dia seperti tenggelam dan tersedot ke dalam pusaran waktu, selanjutnya ia merasakan jiwanya terlempar ke masa sebelum dirinya dilahirkan. Anehnya Kent merasa seakan berada dalam pusaran waktu itu, pusaran waktu yang dipenuhi dengan kilauan cahaya sangat terang. Cahaya putih yang selanjutnya membuat ia tertidur nyalang. (Jupiter doc/12Juni08)

*Terinspirasi dari karya besar Bastian Tito “Delapan Sabda Dewa” *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: