RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Virus Yang Menghancurkan

Posted by jupiter pada Juni 4, 2008

KISAH PERSAHABATAN
(Virus Yang Menghancurkan)


Bertahun-tahun yang lampau di sebuah kota, tinggal dua orang sahabat yang sangat berbeda karakter, dia adalah seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Pengrajin emas ini adalah seorang materialis, gila hormat dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan pengakuan, harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak pernah mengindahkan kejujuran.

Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang jujur dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya.

Si pengrajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu mencintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar, bukan dengan kejujuran seperti yang selama ini ditunjukan oleh sahabatnya tersebut, menurutnya kejujuran adalah sumber dari kemiskinan. Karena merasa terkalahkan akhirnya, timbul rasa dengki di hati dan pikiran si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.

Pada suatu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia langsung memfitnah dan berbohong dengan menunjuk si pembuat kendi sebagai pelakunya, “Saya melihat pencuri masuk ke rumah orang ini.”

Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, mereka langsung menyeret paksa pembuat kendi ke hadapan penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri.

Pembuat kendi bersumpah bahwa ia tidak mengetahui apa-apa. Tapi apa daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri yang sebenarnya tertangkap, ini membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Selanjutnya ia dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.

Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, ketika ia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan dendam semakin membakar jiwa dan hatinya sehingga ia mengambil keputusan yang berbahaya. Selanjutnya ia mulai menyediakan racun dan memperalat seorang “anak muda bodoh” untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya dengan seratus keping emas.

Hari yang ditetapkan pun tiba. Pengrajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya keesokan harinya ia melihat, pembuat kendi tetangga yang juga sahabatnya itu masih sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera ia mencari “anak muda bodoh” suruhannya itu untuk menyelidiki apa yang terjadi. Setelah tidak berhasil menemukan anak muda tersebut, ia baru sadar bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu saja yang tidak diracun, tetapi anak muda yang sebetulnya tidak bodoh tersebut ternyata sudah melarikan diri dari kota dengan membawa seratus keping emas pemberiaannya.

Mengetahui kenyataan tersebut, pengrajin emas merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian yang bersemayam di dalam dirinya. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya tidak tahan dan kemudian meninggalkannya sendirian.

Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang jujur dan baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah pengrajin emas.

Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat kedatangan pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata:

“Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku.” Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu.

Pembuat kendi melanjutkan: “Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena nyawaku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku menganggap kamu tetap adalah sahabatku, aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.”

Kata-kata pembuat kendi seketika menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabatku, ketahuilah bahwa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik.”

Kata-kata pembuat kendi seketika membuat wajah pengrajin emas seperti di tampar, ia malu pada dirinya sendiri, malu pada kedengkian dan rasa dendamnya yang sebetulnya sama sekali tidak pantas ia limpahkan kepada sahabatnya yang ternyata betul-betul berhati bersih itu. Dengan suara yang bergetar dan dengan penuh penyesalan, ia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu dan ia berjanji bahwa selepas ini ia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

”Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia bisa segera melihat sekitarnya kemudian akan mendapatkan sahabat-sahabat baru datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, di manakah dia akan menemukannya? bagaimanakah dia akan bisa memperolehnya kembali? Tanpa ketulusan dan kejujuran mungkinkah semua itu akan bisa tercapai? Untuk sementara mungkin jawabannya bisa, namun itu hanya untuk sementara. Selanjutnya? Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.” (Jupiter doc/04Juni’08)

Sumber : Dari kumpulan kisah-kisah teladan

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: