RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Dibalik Sebuah Kegagalan

Posted by jupiter pada Mei 25, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Dibalik Sebuah Kegagalan)

Malam ini ditengah kesibukanku mengutak-atik deretan angka serta urutan bahan dasar produksi yang harus aku siapkan untuk keesokan harinya, kembali aku menyempatkan waktu untuk membaca beberapa artikel yang selama ini telah aku jadikan sebagai “Vitamin Kehidupan” yang selalu bisa meredam berbagai sisi negatif yang selalu tiba-tiba muncul walau tanpa pernah aku undang.

Artikel yang aku baca kali ini mengulas seputar motivasi dalam menyikapi kegagalan. Sebetulnya topik seperti ini sudah ratusan kali aku baca dan sudah aku hapal di luar kepala. Pada saat pikiranku sedang terang, semua yang dijabarkan pasti akan langsung bisa aku serap dan untuk selanjutnya aku takadkan dalam hati untuk menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Namun itu hanya bisa terjadi apabila pikiran serta hatiku sedang dalam keadaan tidak bertentangan. Sementara kenyataannya, kondisi yang aku harapkan itu jarang sekali terjadi. Seperti layaknya pergantian musim yang selalu meleset dari yang diperkirakan oleh para ahli meteorologi, pikiran dan hatiku tidak pernah bisa kompak.

Seperti yang terjadi malam ini, walau sudah kucoba untuk memusatkan pikiran hanya pada masalah pekerjaan. Namun di dalam hatiku seolah ada yang berontak, menghentak dan siap untuk memberikan serangan yang maha dasyat untuk memecahkan konsentrasi berpikirku.

Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menekan segala gejolak hati yang aku tahu pasti hanya akan menggoyahkan ketegaranku saja. Beberapa detik aku berhasil menahannya, namun pada detik berikutnya hentakan itu semakin kuat dan semakin mendesak hingga membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak.

Akh, aku tak boleh seperti ini terus. Kali ini aku harus bisa bertahan dan tidak menyerah begitu saja pada dorongan yang hanya akan menenggelamkan harapanku pada kekosongan lagi. Aku harus kuat! Aku pasti bisa meredam segala kecengenganku ini! Hidupku harus terus berjalan dan tidak terjebak lagi dalam segala urusan yang melibatkan perasaan yang pada akhirnya hanya akan membuat jiwaku semakin terluka.

Sejenak aku berhenti menghentakan angka-angka. Kupejamkan mata dan kutarik nafas dalam, kemudian aku keluarkan lagi dengan perlahan. Setelah beberapa kali melakukan kegiatan tersebut, sesak di dadaku perlahan mulai berkurang. Lamat-lamat kabut yang tadi tiba-tiba menyelimuti pikiranku mulai menguap.

Selanjutnya kuganti tampilan Microsoft Word dengan Media Player, kunyalakan sebatang rokok kemudian beranjak untuk mengisi kembali gelas kopi hitamku yang ternyata sudah tinggal ampasnya saja.

Rangkaian senandung cinta yang selanjutnya memenuhi seluruh penjuru kamar seolah mewakili gejolak hatiku. Kuhempaskan tubuh pada sandaran kursi kebesaranku. Kepulan asap yang aku keluarkan seakan menyiratkan tebalnya kabut yang tadi memenuhi dan menyesakan dadaku. Dalam diam kucoba untuk menjernihkan kembali pikiran.

Kegagalan? Apa sebetulnya makna dari segala kegagalan yang menyapaku ini? Mengapa hati dan pikiranku tidak pernah bisa lepas dari bayangan kegagalan itu. Sudah ribuan kata serta kalimat yang aku serap dan aku keluarkan demi untuk menghilangkan penyakit hati juga pikiranku ini. Namun harapan yang sudah kosong itu seolah tidak pernah mau beranjak. Hanya mampu aku hilangkan sesaat, namun di saat berikutnya kehadirannya selalu tiba-tiba dan tak pernah sanggup aku tolak.

Ditengah lamunanku, tiba-tiba seekor lalat menyusup melalui sela gorden jendela kamar yang memang sengaja aku buka. Lalat yang tersesat itu selanjutnya berputar-putar mengganggu dan membuyarkan lamunanku.

Kukibaskan tangan, kubuka lebar kain gorden dengan harapan lalat pengganggu itu akan segera keluar. Namun yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan, walau gorden sudah tidak menghalangi jalan keluar, tapi lalat sialan itu malah terus membentur-benturkan dirinya pada kaca jendela.

Hush-hush!! Usirku sambil mengibaskan selembar kertas mencoba mengarahkan lalat itu ke jendela yang sudah aku buka lebar. Namun bukannya mengikuti arahanku, lalat yang terjebak itu malah kembali membentur-benturkan dirinya ke kaca jendela tanpa berusaha mencari jalan keluar.

”Bodoh kali, kau! Sudah tahu jalan keluar sangat lebar, malah ngajak berantem kaca!” Umpatku kesal dan akhirnya membiarkan lalat itu meneruskan kegiatan konyolnya tersebut tanpa berusaha untuk mengarahkannya lagi.

Selanjutnya tanpa sadar aku jadi terus mengikuti atraksi konyol yang dipertontonkan oleh makhluk bodoh dan menjijikan itu, sampai akhirnya ia kehabisan tenaga dan jatuh dengan sendirinya.

Beberapa detik kemudian, segerombolan semut yang entah datang darimana langsung mengerubungi lalat sekarat tersebut. Seperti kedatangannya yang tiba-tiba, semut-semut itupun akhirnya menghilang dengan membawa bangkai lalat tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Mulanya aku menganggap kejadian yang barusan aku tonton itu hanya merupakan kejadian biasa yang sama sekali tidak ada yang istimewa. Namun ketika aku sudah menutup jendela dan bermaksud untuk melanjutkan lamunanku. Tiba-tiba aku merasa beban yang menyesakan dadaku tadi sudah tidak ada. Kabut yang menyelimuti pikiranku pun sudah benar-benar menghilang. Semangat untuk kembali melanjutkan pekerjaan tiba-tiba kembali membara.

Hmm, ternyata kekonyolan yang dipertontonkan oleh lalat tadi telah membuatku sadar. Kalau selama ini aku tidak jauh berbeda dengan apa yang tadi binatang bodoh itu lakukan.

Meskipun sudah sadar kalau segala perasaan ini hanya akan membuatku kembali terjebak dalam kesedihan, namun aku sendiri malah seperti enggan untuk mendengarkan beragam arahan, baik yang aku dapat secara lisan dari beberapa sahabat maupun dalam bentuk tulisan seputar motivasi dan pencerahan yang selalu aku baca.

Aku cenderung malah lebih percaya pada keyakinanku yang sebetulnya salah, hingga untuk kesekian kalinya aku kembali membentur-benturkan diri pada masalah yang sebetulnya tidak jauh berbeda.

Waduh! Kalau begitu, aku sebetulnya sama bodohnya dengan lalat tadi. Hiiiy!! Aku bergidik membayangkan nasibku pada akhirnya berakhir tragis seperti makhluk bodoh yang mati karena kehabisan tenaga dan mubazir menggunakan potensi dirinya itu.

Aku tidak boleh mati konyol seperti lalat tadi! Semut yang hanya binatang saja bisa menemukan jalan keluar meskipun kelihatannya sudah tidak ada sela. Masa aku manusia yang diciptakan lebih sempurna dengan diberikan akal serta pikiran tidak bisa seperti mereka. Aku harus bisa! Aku harus bisa seperti semut yang selalu bisa mencium aroma keberhasilan serta menemukan jalan keluar meskipun tanpa mendapat pengarahan.

Tidak ada kegagalan! Yang ada hanyalah hasil yang belum sesuai dengan yang aku harapkan. Gagal itu biasa. Dengan gagal berarti aku mendapat pelajaran, sehingga aku mempunyai pengalaman untuk bisa menemukan peluang serta jalan keluar agar tidak terjebak lagi ke dalam masalah yang sama.

Terima kasih Lalat bodoh. Terima kasih juga Semut cerdik. Atraksi yang kalian pertunjukan tadi, akhirnya bisa menyadarkan pikiran dangkalku tentang hikmah yang terkandung di balik sebuah kegagalan. (Jupiter doc/25Mei08)

“Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: