RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Pelajaran dari Ikan

Posted by jupiter pada Mei 24, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Memetik Pelajaran dari Ikan)

Memandang keindahan pantai serta menyusuri aliran air di sungai adalah salah satu kegemaranku sejak aku mulai nekat pergi merantau. Maklum dari kecil aku lahir dan dibesarkan di satu kota yang jauh sekali dari sungai apalagi pantai.

Meskipun beberapa kali sempat pindah rumah, namun tetap rumah tinggal yang dipilih oleh orang tuaku selalu berada di lingkungan komplek yang jauh sekali dari keindahan lautan. Sepanjang mata memandang hanya pegunungan yang membentengi kota kelahiranku.

Banyak orang bilang, pemandangan di daerah pegunungan lebih indah apabila dibandingkan dengan pemandangan di lautan, yang katanya hanya berupa hamparan air dan sama sekali tidak memiliki banyak variasi.

Hmm, pegunungan memang indah dan sangat menantang untuk bisa ditaklukan. Tapi apabila kita sudah tahu dan hapal seluk beluk kerimbunan hutan serta tebingnya, semua tantangan itu akan segera menguap. Dan untuk selanjutnya sesulit apapun sebuah pendakian akan menjadi tidak menggairahkan lagi. Karena kita sudah bisa memperkirakan sampai pada titik resiko terburuknya.

Sementara lautan, sejauh mata memandang yang terlihat memang hanya hamparan air yang seolah tidak berujung. Namun dibalik hamparan air tersebut tersimpan banyak sekali keajaiban serta tantangan yang sama sekali tidak pernah bisa diprediksi cara untuk menaklukannya.

Seperti hantaman ombak serta ganasnya terjangan badai yang sering kali tidak mampu terdeteksi kedatangannya oleh beragam peralatan super canggih, hasil karya cipta otak manusia. Ini membuktikan kekuasaan samudera lebih bisa mencerminkan betapa maha-nya sang Pencipta dan betapa kecilnya kita sebagai manusia, yang selalu lekat dengan segala keponggahan yang sebetulnya sama sekali tidak berdaya apabila dihadapkan pada kemarahan samudera.

Demikian pula dengan kekayaan alam yang tersimpan jauh di kedalamannya. Para pakar geologi yang selalu dianggap sebagai orang yang paling mengerti segala ilmu bumi, sampai kapanpun tidak akan pernah sanggup menciptakan alat yang bisa mencapai dasar kedalaman samudera yang sebenar-benarnya. Karena sepintar dan sejenius apapun, pada dasarnya mereka tetap tidak jauh beda dengan kita, hanya manusia biasa yang diciptakan dengan segala keterbatasannya.

Setiap ada kesempatan menikmati keindahan samudera. Terkadang aku berkhayal, seandainya ada reinkarnasi aku ingin berubah menjadi ikan. Karena hanya dengan menjadi ikan, aku bisa berenang sampai ke dasar lautan, menikmati keindahan samudera serta menjelajahi seluruh penjuru pantai yang tidak mungkin aku lakukan apabila aku tetap hanya menjadi diriku yang sekarang.

Beberapa bulan yang lalu, ketika aku tengah memandangi ikan-ikan yang berenang di sungai. Beberapa sahabat pernah melontarkan ejekan kepadaku. “Apa sih yang menarik dengan ikan-ikan itu? Mentang-mentang doyan makan ikan, kalau sudah ketemu mereka suka lupa sama teman sendiri.”

Yup! Apa sebetulnya yang menarik dari ikan-ikan itu, selain kelejatan serta kegurihan dagingnya yang selalu mampu membuat aku menambah porsi makan siangku?

Apabila dilihat dari fungsi penciptaan serta populasinya. Ikan adalah salah satu makhluk ciptaan-Nya yang tentunya sangat bermanfaat bagi ekosistemnya, termasuk juga bagi manusia. Ikan dengan ukuran besar maupun kecil selalu bergerak dan tiada pernah berhenti bergerak sampai ikan itu mati.

Aku ingat sewaktu sedang asik mengamati ikan-ikan itu, mereka bergerak seringkali melawan arus sungai. Terkadang mereka mempertahankan gerakannya di posisi yang mereka kehendaki untuk berhenti sebentar.

Jarang sekali kulihat ikan-ikan itu bergerak mengikuti arus. Bahkan ikan-ikan itu terkadang bergerak bersama pasangannya melawan arus untuk bertelur di suatu tempat, atau mungkin mereka sedang mencari lokasi yang tepat untuk bisa dijadikan sebagai tempat yang nyaman untuk mereka “memadu kasih”. Seandainya ada yang mengikuti arus, hanya ikan yang sudah mati saja yang terseret oleh arus yang selanjutnya membawa bangkainya entah kemana.

Mengingat hal itu aku mencoba memetik satu pelajaran lagi, bahwa ternyata untuk mempertahankan hidupnya, untuk mengembangkan keturunan dan mencari makanan. Ikan-ikan itu berusaha untuk terus bergerak dalam menghadapi tantangan arus dan derasnya air yang mengalir. Dengan bergerak dan menghadapi tantangan mereka bisa survive di dalam ekosistemnya.

Bagaimana dengan kita, manusia? Aku rasa sama. Untuk bisa tetap survive menjalani hidup, kita harus terus bergerak. Semakin banyak serta beratnya cobaan yang menghadang, apabila kita jadikan sebagai tantangan dalam meraih suatu keberhasilan. Aku sangat yakin segala cobaan itu bisa terasa lebih ringan, sehingga akan membuat jiwa kita menjadi lebih matang dan siap untuk melewati tantangan hidup selanjutnya yang belum tentu akan lebih mudah.

Ikan terus bergerak. Demikian pula dengan kita, manusia. Bergerak adalah ikhtiar tiada henti untuk merealisasikan doa serta impian kita. Manusia yang berhenti berikhtiar tidak jauh berbeda dengan ikan yang sudah mati dan terseret arus sesuka arah aliran yang membawanya.

Manusia yang sukses meraih keberhasilan dan kebahagiaan, hanyalah manusia yang penuh optimis, penuh semangat dan antusias, serta yang tidak pernah berhenti untuk terus berikhtiar mengejar apa yang dicita-citakannya. Walau terkadang kita perlu berhenti sejenak untuk beristirahat, berkontemplasi, merenung, berdoa untuk mengisi bahan bakar ikhtiar. Sebagaimana ikan yang aku lihat terkadang berhenti tetapi tetap bergerak di tempatnya.

Kesimpulan akhir, hanya ikan yang mati saja yang berenang mengikuti arus.

Bagaimana dengan diriku sendiri?? Apakah aku akan berhenti bergerak, setelah beberapa kali mengalami kegagalan dalam menyikapi cobaan hidup? Pilihannya ada pada diriku sendiri. Karena keberhasilan dan juga kebahagiaan hidup adalah merupakan sebuah pilihan. Dan aku memilih untuk terus bergerak meskipun harus terluka karena melawan derasnya arus. (Jupiter doc./24mei’08)

“Setiap orang yang sukses awalnya adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka. Berbuat sebaik mungkin dalam berbagai hal. Bergerak terus menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (H. Jackson Brown, Jr.)

(Terinspirasi dari artikel seputar motivasi untuk kehidupan dan bisnis)

.

3 Tanggapan to “Pelajaran dari Ikan”

  1. KJP said

    Wuaaaahhh senengnya aku, akhirnya KGP balik ke gubuknya… Jupe, artikel2 kamu akhir2 ini penuh perenungan yak? I love it!

  2. Anonymous said

    Teh,
    ikan itu buat dimakan..bukan buat direnungin! kqkqkqkqkq (KD)

  3. Jupiter said

    Iya, sis. Kalo ikan yg mati emang enak banget kalo buat di pepes or di bumbu balado, trus dimakannya di tengah sawah pake nasi merah, sambal terasi plus lalapan daun ‘muda’ deh. Ehmm, baru ngebayangin aja dah ngiler. Jadi laper lagi, neh. Makan bareng ikan ‘muda’, nyok!!! (*psst, bukan nawarin sinyo lho, yaaa! hahaha…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: