RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Barang Itu Menua (Sepo doc)

Posted by jupiter pada Mei 23, 2008

Barang Itu Menua
Friday, May 23, 2008
Oleh: Jupiter
Aku tersenyum malas ketika seorang sales door to door menawarkan produk rumah tangga dengan setengah memaksa. Aku katakan baik-baik bahwa aku belum membutuhkan barang yang ditawarkannya tersebut. Sales itu bertubuh sedikit tambun dengan kemeja putih yang sudah mulai berubah warna. Mungkin karena terlalu banyak debu yang menyerap di antara rembesan peluh yang mengucur deras.

Astaga, ternyata dia tidak begitu saja menyerah. Dia mengeluarkan beberapa produk lain yang ada di dalam tas dora emon-nya; mulai dari alat pengusir tikus electrik, coffee maker, egg steamer, juice maker, infrared massage hammer, dan lain-lain. Aku hanya tersenyum sambil tetap menggelengkan kepala. Gerak gerikku terlihat enggan melayani penawarannya yang tidak kenal pantang menyerah itu.

Sebetulnya bisa saja aku mengusirnya. Kegigihannya sudah mulai mengganggu privacy-ku. Tapi entah mengapa tindakan kasar itu tidak mampu kulakukan terhadap orang-orang yang berjiwa pantang menyerah seperti dia. Muncul rasa iba dalam hati saat melihat kesabarannya menghadapi penolakan. Dia tetap bisa memamerkan senyum tulusnya yang akhirnya mencairkan kekesalanku.

Apalagi ketika melihat Bunda mulai tertarik dengan demo infrared massage hammer yang diperagakan pada kedua kakinya. Setelah mengalami stroke untuk yang kedua kalinya, kondisi kaki Bunda memang sulit untuk digerakan.

Bunda melirik ke arahku, seolah memohon untuk dibelikan produk yang dianggapnya ajaib tersebut. Aku mulai garuk-garuk kepala begitu melihat tatapan permohonan dari Bunda. Ini merupakan kelemahanku yang paling telak. Aku nggak tega menolak keinginan orang-orang yang sangat istimewa dalam hidupku.

Di saat aku menimbang-nimbang, tiba-tiba ponselku bernyanyi.

“Ya, Sayang? Sori tadi keputus, baterenya low,” jawabku sambil tetap memerhatikan ekspresi wajah sales yang sedang memeragakan produk unggulannya kepada Bunda.

“Bunda lagi jadi kelinci percobaannya Mas yang nawarin alat pijat modern, nih!” jawabku lagi ketika dia menanyakan keadaan Bunda. Aku menyebutkan satu persatu produk yang ditawarkan oleh sales bebal itu.

Tiba-tiba dia menjerit kegirangan. “Wow! Juice maker yang kayak diiklanin ama Ulfa itu, kan? Mau dong, Yang! Aku sudah seminggu mencari barang itu. Belum ada di mal di sini.”

Ups! Kepalaku tiba-tiba jadi bertambah gatal. Nambah lagi, neh! Sepertinya kegigihan sales bertubuh tambun itu tidak akan menjadi sia-sia. Infrared massage hammer dan juice maker-nya sudah mendapat respon yang positif dari dua orang yang sangat istimewa di hatiku.

“Hmm… iya, ntar aku tanya dulu, ya! Kalau cocok seperti yang lagi kamu cari, pasti aku ambil, deh!” kataku mengaminkan permohonannya. Selintas kulihat air muka si sales berubah cerah ketika berhasil mencuri dengar percakapan kami.

Setelah itu aku menyudahi pembicaraan di ponsel. Tanpa diminta, sales yang sudah merasa mendapatkan mangsanya itu langsung menjelaskan secara rinci kegunaan serta kelebihan juice maker. Bahkan dengan semangat menggebu-gebu, dia langsung memperagakan cara penggunaannya. Aku hanya manggut-manggut, melihat kelincahan gerakannya. Akhirnya, tas dora emon-nya kehilangan beban juga.

***

Pada kesempatan lain, adik perempuanku yang tinggal di luar kota datang mengunjungi Bunda. Dia memintaku untuk menemaninya berbelanja pakaian untuk kedua anaknya yang masih balita.

Awalnya aku memang hanya sekedar menemani dia berbelanja, tapi ketika melihat beberapa potong pakaian yang menurutku cocok apabila dikenakan oleh kekasih serta buah hati kami, aku langsung tertarik dan mengambil beberapa potong. Lumayan, ini untuk menambah perlengkapan penyambutan kedatangannya kelak. Aku membayangkan masa-masa yang selalu kunantikan itu sambil tersenyum-senyum.

“Untuk siapa, Kak?” tanya adikku heran, melihat beberapa potong pakaian yang dilihatnya sama sekali tidak sesuai dengan ukuran tubuhku maupun ukuran tubuh anak-anaknya.

“Titipan teman. Tadi dia nelpon minta tolong dibelikan,” jawabku asal. Adikku hanya mengangguk sambil menggumam tak jelas. Aku yakin sebenarnya dia pasti merasakan aura kebohongan pada jawaban asalku tadi. Sebodo, ah, pikirku tidak memedulikan mimik muka bingung serta kalimat tak jelas pada gumam adik bungsuku itu.

Kini, barang-barang yang telah kubeli untuk menyambut kedatangannya masih mengisi satu rak di dalam lemari pakaianku. Namun hari yang kutunggu tidak akan menghampiriku. Dari pantulan cermin di lemari, aku menangkap segaris sembilu pada sorot mata sayuku. Harapan itu telah berlalu, menguap diredam heningnya sang waktu.

Aku menarik napas panjang. Aku sesak. Aku cair bersama sisa es krim dalam mangkuk kecil yang masih terhampar di telapak tanganku, ketika kata-kata terakhirnya kembali terngiang di telingaku, “Biarkan semua berjalan seperti ini, apa adanya. Hidupmu adalah milikmu, dan hidupku akan kujalani sendiri.”

Aku tahu, itu artinya hubungan kami sudah berakhir. Berakhir untuk selamanya. Tak ada ‘aku dan kamu’ lagi.

Setelah melalui ratusan hari dan minggu, dia tidak mengharapkan hubungan kami terjalin dalam bentuk apapun. Seperti debu yang tertiup oleh angin, musnah begitu saja. Dan aku tak mampu lagi berbuat apa-apa selain merelakan kepergiannya.

Aku menyandarkan tubuh yang mulai terasa berat pada pintu lemari. Sampai hari menjadi gelap aku belum beranjak, masih kutatap dengan bingung pada tumpukan barang-barang yang sudah menua usianya. Tanpa pemiliknya.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Tentang Cinta
posted by Lakhsmi, 12:15 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: