RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Fight or Flight ?

Posted by jupiter pada Mei 21, 2008

RENUNGAN JUPITER
( Fight or Flight ? )

Hidup memang selalu diwarnai terang atau gelap, badai atau pelangi. Ketika aku mencoba menengok ke belakang, ternyata banyak sekali badai yang terjadi karena aku sendiri yang telah membuatnya meski tanpa disadari.

Di balik goresan luka yang kembali menyapa. Ternyata luka yang di derita oleh orang-orang yang pernah aku sakiti tidak kalah panjangnya. Jejak derita yang aku tinggalkan pun masih terlihat dengan jelas.

Itu semua tidak akan mudah terhapus hanya dengan mengandalkan kekuatan kata maaf, kemudian hanya berharap mendapatkan pengampunan atau pembebasan dari hukuman atas kesalahan yang tanpa sadar telah aku perbuat.

Walau sudah kodratku sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, namun sedikitpun aku tidak pernah mempunyai niat untuk melakukan kesalahan tersebut. Apalagi kesalahan yang mengakibatkan hati orang-orang tersayang menjadi terluka. Sengaja atau tidak, yang namanya kesalahan selamanya akan tetap menjadi kesalahan yang tentunya harus di pertanggung jawabkan, dan ini sangat menjadi beban dalam pikiranku.

Berbagai upaya sudah aku lakukan untuk menghadapi tantangan kesalahan yang selalu aku lakukan diluar kesadaranku tersebut. Aku tahu tantangan memang sangat identik dengan kehidupan manusia. Seperti pepatah yang mengatakan “Tidak ada manusia yang sempurna, karena manusia diciptakan dengan segala keterbatasannya”.

Untuk meminimalkan ketidak sempurnaanku tersebut, awalnya aku berniat untuk meninggalkan gubuk persembunyianku ini untuk selamanya dan bertekad hanya akan mengkonsentrasikan diri pada bisnis yang sedang aku rintis.

Rasa lelah yang sudah memuncak, karena merasa tidak menemukan ketenangan yang selama ini selalu aku harapkan dengan menuangkan segala beban menjadi rangkaian tulisan, sempat membuat hatiku gamang.

Sejujurnya aku bukanlah type orang yang pandai menuangkan perasaan dengan balutan kata-kata yang sangat manis apalagi puitis. Apa yang aku tulis merupakan luapan beban atau perasaan suka yang menyapa hati serta pikiranku saat itu.

Agar tidak menyinggung perasaan orang-orang yang terhubung dengan luapan tulisanku, mungkin memang sudah seharusnya bagiku untuk merubah gaya menulis yang cenderung selalu apa adanya ini.

Tapi gaya menulis seperti apa yang harus aku ikuti? Apakah aku harus berubah menjadi seorang “plagiat” yang memuat tulisan manis serta puitis karya orang lain dengan mengatasnamakan sebagai tulisanku sendiri?

Atau, haruskah aku memanipulasi kejujuran perasaanku ini dengan hanya menuangkan perasaan sukaku semata?

Kalau memang harus demikian, ini berarti sama saja dengan kehidupan yang aku jalani di dunia nyata yang selalu menuntutku untuk pandai bersandiwara demi membahagiakan hati semua orang.

Phiuh!! Kali ini aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku tulis. Seperti halnya insan akademik yang hanya berani menulis apabila memiliki rujukan ilmiah. Saat ini kemerdekaan pikiranku sedang terbelenggu oleh ketakutanku sendiri yang tidak ingin melukai hati orang lain, akibat segala kejujuran perasaan yang aku tuangkan di gubuk persembunyianku ini.

Seandainya aku bercermin pada konteks hak dalam dunia kepenulisan, maka tidak seharusnya aku berpikir, berpendapat, dan bersikap sangat hati-hati seperti ini. Aku adalah manusia merdeka yang memiliki hak paling hakiki untuk menuangkan segala yang aku pikirkan dan aku inginkan. Dan tidak sepantasnya aku meredam, mengurangi, atau bahkan menghilangkan hak kebebasan menulisku tersebut, karena ini berarti aku telah mengerdilkan arti dari kemerdekaan diriku sendiri.

Namun apabila kembali pada konteks menjaga perasaan, aku adalah type orang yang sangat perasa. Aku sadar ini merupakan satu kelebihan yang sekaligus kelemahanku.

Dengan mengandalkan ketajaman perasaanku itu, walau tanpa di utarakan secara langsung, aku selalu bisa merasakan ketika ada orang lain yang merasa terusik dengan kejujuran yang aku tuangkan di sini. Dan karena ketajaman perasaanku itu juga, kebebasan pikiranku menjadi terhambat, terbelenggu dan bahkan terjajah oleh pikiran-pikiran negatifku sendiri.

Akh, ternyata susah sekali untuk berubah menjadi orang yang lurus-lurus saja dan selalu sadar pada apa yang telah ataupun tengah aku lakukan, hingga tidak menimbulkan goresan luka di hati orang lain.

Seandainya pada akhirnya pikiranku sudah “overload”, hanya ada dua cara yang bisa aku lakukan; “fight” or “flight”.

Bisa saja pikiran negatif ini aku lawan, namun tentunya aku harus siap dengan resiko untuk ditinggalkan. Sementara apabila aku mengambil sikap lari, sedikitnya aku tidak akan menambah lagi goresan luka di hati orang lain akibat dari curahan kejujuran yang selalu aku tuangkan.

Fight (Lawan) = Bertahan dengan resiko ditinggalkan / kehilangan
Flight (Lari) = Keluar dari masalah dengan resiko meninggalkan / kehilangan

Hahaha, ternyata hasil akhirnya sama saja, kehilangan. Apapun yang aku pilih resikonya ternyata sama besar. Untuk merubah gaya menulis, itu artinya aku harus keluar dari diriku sendiri. Dan ini tidak mungkin aku lakukan, karena (meminjam karya pujangga besar Chairil Anwar) “aku adalah aku” dan selamanya aku tidak bersedia untuk berubah menjadi orang lain.

Hmm, sepertinya untuk bisa menemukan jalan keluar yang tepat, aku memang harus melanjutkan perenunganku dengan lebih khusyuk lagi. Atau mungkin ada teman-teman yang bisa kasih masukan untuk menjernihkan pikiranku yang lagi terserang virus bebal ini? Mudah-mudahan telingaku masih normal, sehingga masih bisa mendengarkan masukan dari luar. (Jupiter doc./20Mei’08)

(*Suhu bawel, arsipnya dah aku buka lagi, tuh! O’ya, mulai bulan depan kayaknya warung OL ku lagi butuh perhatian lebih. So, sebagai tetangga yang baik, titip tengokin gubukku ini, ya. Biar tetep aman terkendali)

(*Buat ‘nda & ‘nggie, thanks banget kalian dah mengabulkan permohonanku untuk tidak membuat rusuh di faviliun gubuk mayaku lagi. Pisss bro!! Solidarity forever lah)

2 Tanggapan to “Fight or Flight ?”

  1. KD said

    Teh,
    you have to fihgt! I support you in any way. You don’t have to be someone else, the matter is how you use other words in expressing your ideas, so that no one will get hurt. It’s your choice, buddy, whether you need to get support from others or get the others offended. That’s a challange. Keep on writing, Sist! (KD)

  2. Jupiter said

    Thanks a lot sist…
    for your support…
    I really need it now.
    GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: