RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

The Golden Age of Classical Myths – Part. 8

Posted by jupiter pada Mei 1, 2008

The Golden Age of Classical Myths-Part.8

Sol (Helios)
Sol adalah dewa matahari, putra titan Hyperion dengan titanid Theia, saudara Luna, dewi bulan yang pucat, dan Aurora, dewi fajar keemasan.

Tiap hari dia melintasi angkasa dengan mengendarai keretanya yang ditarik kuda-kuda berapi dari timur ke barat memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi. Kala senja tiba dia akan turun ke bumi menuju Sungai Ocean di ujung barat di mana menunggu perahu emas yang akan membawanya kembali ke istana emasnya di timur.

Sol memiliki seorang putra dari Peri Clymene, yang bernama Phaeton. Suatu hari Phaeton bertengkar dengan Epaphos, putra Jupiter dari Io. Epaphos menantang Phaeton untuk membuktikan bahwa dirinya sungguh putra sang dewa matahari.

Phaeton kemudian pergi menghadap ayahnya agar diizinkan mengendarai keretanya yang ditarik kuda-kuda berapi selama satu hari. Mula-mula sang ayah tak mengizinkan. Namun karena Phaeton terus mendesak akhirnya Sol memberinya izin.

Sol menasehati agar putranya berhati-hati mengendarai keretanya di jalur yang tiap hari dilaluinya dan menjaga agar kereta tersebut tidak meleset sedikitpun dari jalur tersebut. Phaeton mengiyakan pesan ayahnya tersebut. Dengan hati mekar oleh rasa bangga dia keluar dari gerbang istana emas ayahnya mengendarai keretanya.

Tiba-tiba di tengah perjalanannya Phaeton dihadang oleh rasi bintang Scorpio yang mengejutkannya sehingga tanpa sengaja dia menghela kuda-kudanya secara keliru.

Kuda-kuda tersebut berlari tanpa kendali melewati garis edarnya. Kadang terlalu ke bawah sehingga bumi terbakar oleh terik apinya (konon karena hal ini penduduk yang tinggal di sekitar garis khatulistiwa berkulit gelap karena terbakar terik kereta matahari), kadang terlalu ke atas sehingga langit membara.

Dari bumi Terra berseru kepada Jupiter agar segera bertindak menyelamatkan alam dari kehancuran. Jupiter menampakkan diri di awan-awan sambil menggenggam petirnya yang kemudian dilontarkannya ke arah Phaeton. Phaeton bersama kereta dan kuda-kudanya, yang kini padam apinya, terjatuh ke bumi dan hancur.

Segera ibunya dan saudari-saudarinya, para Heliad, berlari mendapatkan mayatnya yang mengambang di permukaan Sungai Eridanus dan menangisinya berhari-hari lamanya sampai Jupiter mengubah mereka menjadi pohon-pohon poplar.

Sol sendiri meski berduka atas kematian putranya tidak dapat menyalahkan tindakan Jupiter. Dia tetap menjalankan tugasnya seperti biasa tiap hari. Hanya saja kadang kala dia teringat akan putranya dan menangisinya Maka apabila kadang-kadang di tengah hari hujan turun sementara matahari tetap bersinar, orang akan berkata bahwa Sol sedang menangisi putranya.

Ada versi yang menyebutkan bahwa ibu Phaeton adalah Peri Rhoda yang dicintai oleh Sol. Oleh karena itu Pulau Rhodes disucikan bagi Sol. Di pelabuhan pulau tersebut dibangun patung besar Sol (colossus) yang menjadi salah satu keajaiban dunia.

Selain Rhoda ada juga seorang peri bernama Clytie yang mencintai Sol namun bertepuk sebelah tangan. Berhari-hari lamanya Clytie duduk di atas tanah yang dingin, sama sekali tak beranjak dari tempatnya, hanya memandangi Sol yang melintasi angkasa di atas keretanya.

Kala malam tiba, dia akan menunduk menangis berharap dapat menyaksikan pujaan hatinya lagi besok. Hanya embun malam dan air matanya yang menjadi santapannya. Lama kelamaan wujudnya pun berubah. Kakinya berubah menjadi akar yang tertanam dalam tanah dan wajahnya berubah menjadi bunga yang selalu menghadap ke atas, ke arah sang surya bersinar. Kita mengenalnya sebagai bunga matahari. Sama seperti Clytie yang menundukkan kepala saat Sol telah menuntaskan tugasnya begitu pula bunga matahari akan merunduk saat malam tiba.

Luna (Selene)
Luna, dewi bulan yang pucat, tiap malam melintasi angkasa dari istana emasnya di timur dengan mengendarai keretanya yang dihela dua ekor sapi jantan bertanduk sabit.

Dia memberikan cahayanya yang lembut keperakan bagi bumi di malam hari. Dalam perjalanan dia selalu disertai bintang-bintang yang dipimpin oleh Vesper, Bintang Senja. Kala fajar menyingsing, bersama mereka dia akan menuju ke Sungai Ocean di sebelah barat dan kembali ke istananya di timur dengan mengendarai perahu.

Di wajah Luna yang cantik dan murni selalu membayang kabut duka😦 Konon suatu malam, saat dia sedang menjalankan tugasnya menerangi bumi, dia berjumpa seorang pemuda gembala yang tampan bernama Endymion di Gunung Latmos. Luna jatuh cinta pada Endymion. Namun sayang Endymion yang dianugerahi keabadian oleh Jupiter juga memohon agar diizinkan tidur selamanya Maka dia tak akan pernah terbangun oleh sentuhan lembut jemari Luna yang membelai wajahnya untuk mengatakan pada Luna bahwa dia juga mencintainya.

Luna dilukiskan sebagai wanita cantik bergaun dan berkerudung keperakan, wajahnya pucat oleh duka.

Aurora (Eos)

Aurora adalah dewi fajar keemasan yang berjari-jari merah bagai mawar. Tiap pagi, saat Luna hampir menuntaskan perjalanannya, Aurora akan membuka gerbang istana emasnya di timur lalu terbang dengan sayap-sayapnya yang bercahaya redup namun makin lama makin terang. Diikuti oleh Lucifer, Bintang Fajar, melintasi angkasa dari timur ke barat sambil menghalau bintang-bintang memasuki Sungai Ocean. Kecuali rasi Ursa Mayor dan Minor yang tak pernah tenggelam dan terbit di ufuk saat fajar menyingsing maupun senja menjelang.

Aurora membawa sekendi air dingin dalam perjalanannya dan memercikkan air tersebut ke atas permukaan rerumputan, dedaunan, dan bunga-bunga sebagai embun pagi.

Meski menikah dengan Aeolus, dewa angin, Aurora juga menjalin cinta dengan Orion. Orion adalah seorang pemburu bangsa Boetia yang tampan dan perkasa. Ketika menjalin cinta dengan Aurora, Orion pernah sesumbar akan memusnahkan semua hewan buas di muka bumi dan mempersembahkannya bagi Aurora.

Apollo yang mendengar hal tersebut kemudian mengirim seekor kalajengking raksasa untuk membunuh Orion. Aurora memohon bantuan Diana agar menyelamatkan Orion. Diana yang menyanyangi Orion sebagai sesama pemburu bersedia menyelamatkan Orion.

Pada saat Orion sedang dikejar-kejar oleh kalajengking raksasa tersebut, Diana bersiap-siap membidikkan panahnya untuk membunuh kalajengking tersebut. Tiba-tiba Apollo muncul dan mengaburkan pandangan Diana sehingga anak panahnya meleset, justru mengenai Orion yang tewas seketika.

Diana yang berduka karena tak dapat menepati janjinya pada Aurora kemudian menempatkan Orion di angkasa sebagai rasi bintang Orion, sedangkan kalajengking rakasasa tersebut oleh Apollo juga ditempatkan di angkasa sebagai rasi bintang Scorpio dalam posisi sedang memburu Orion.

Selain Orion, Aurora juga pernah menjalin cinta dengan Tithonus, putra Raja Laomedon dari Troy. Tithonus yang mencintai Aurora selalu bangun saat fajar merekah untuk menyaksikan kekasihnya tersebut menjalankan tugasnya mengumumkan kepada bumi bahwa sebentar lagi matahari akan kembali memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi.

Dari hasil hubungan mereka lahirlah seorang putra bernama Memnon. Sayang sekali saat Jupiter menganugerahkan keabadian bagi Tithonus, Aurora lupa memohon kemudaan abadi bagi kekasihnya tersebut, sehingga seiring berjalannya waktu Tithonus menjadi renta sementara ajalnya tak kunjung tiba. Akhirnya karena iba melihat Tithonus yang telah semakin lemah dalam kerentaannya, Aurora mengubahnya menjadi belalang, makhluk yang selalu bangun di saat fajar menyingsing.

Aurora dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dengan jari-jari yang berwarna kemerahan bagai mawar serta bersayap. (Jupiter doc)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/Mei’08)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: