RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Liku-Liku Perjalananku <4>

Posted by jupiter pada April 30, 2008

Liku-Liku Perjalananku
( Dibalik Keindahan Sunset )

Discovery Shopping Mall merupakan tempat tongkrongan kami berikutnya.

Setelah mengincar dan sedikit membujuk pelayan Black Canyon Coffee dengan mengeluarkan sedikit jurus rayuan maut Ki Gendeng Pamungkas (KGP).

Seorang pelayan yang kebetulan sedikit kecentilan, akhirnya menyanggupi untuk menyediakan meja kosong diantara meja-meja yang sebetulnya sudah pull book semua tersebut, khusus buat kami.

Meski pada awalnya dia terlihat ragu karena meja darurat yang disediakannya untuk kami itu, hampir melanggar batas wilayah tempat tongkrongan. Namun berkat ‘SKSD’ yang kami lancarkan, akhirnya kami bertiga sukses mendapat tempat tongkrongan di area yang sangat strategis tersebut. (Gila ya! Buat dapetin tempat tongkrongan yang asik aja, mesti mengeluarkan jurus KGP dulu. Fhiuh!!).

Setelah memesan tiga jenis minuman sesuai selera masing-masing. Aku dan KJP langsung bergabung dengan turis-turis asing maupun lokal, yang tengah sibuk mengabadikan keindahan sunset yang memayungi pantai Kuta.

Subhannallah, untuk KJP yang kebetulan tinggal di daerah yang masih berada di lingkungan pantai, pemandangan indah seperti ini mungkin sudah di anggap sangat biasa.

Tapi untuk aku yang kebetulan lahir dan besar di daerah yang di kelilingi oleh pegunungan. Pemandangan pantai Kuta di sore hari seperti ini, betul-betul merupakan pemandangan yang sangat-sangat memukau dan mendamaikan hati.

Aku memang tidak pandai berenang, tapi entah mengapa aku sangat menyukai keindahan pantai dibanding keindahan pegunungan. Setiap ada kesempatan liburan, aku selalu ngotot mengajak sahabat-sahabatku untuk menghabiskan waktu liburan di daerah pantai terdekat (Anyer).

“Nenek moyangku seorang pelaut”. Darah Bugis yang mengalir meskipun mungkin hanya tinggal setetes di pembuluh darahku, seketika langsung bergolak menahan rasa haru. Mataku menatap takjub pada keindahan alam yang selalu aku idam-idamkan tersebut.

Tidak ada hal yang paling indah di dunia ini, selain memiliki kesempatan untuk menikmati keindahan matahari terbenam dengan ditemani ice cappuccino dan sebatang rokok (Wow! Indah sekali hidupku). Terima kasih sahabat-sahabatku, kebekuan hati dan pikiranku untuk sementara langsung bisa mencair.

Sementara aku sibuk mengagumi keindahan pantai Kuta. KJP sibuk wara-wiri mengabadikan keindahan sunset atas permintaanku. Candra sendiri malah sibuk melanjutkan rayuan maut kepada kekasihnya yang tadi sempat tertunda. (Sayang banget ya, can. Kekasihmu gak bisa gabung bareng kita)

Kurang lebih setengah jam kemudian, di saat sunset mulai meninggalkan keindahan pantai Kuta. Sesosok gadis berperawakan dan berparas sangat rapi datang menghampiri meja tongkrongan kami.

“Ups! Siapa nih? rapi kali penampilannya”. gumamku sambil mencuri-curi pandang, mengagumi penampilan gadis yang langsung menyapa Candra dengan sangat akrab.

“Kakak-kakakku tersayang, kenalin. Ini Sapi yang tadi gue ceritain”. Kata Candra kepada aku dan KJP sambil melemparkan senyum sumringahnya.

Aku dan KJP saling melempar pandang penuh arti, sebelum akhirnya menyambut uluran perkenalan gadis yang dipanggil Sapi tersebut dengan sedikit grogi. (Gila lo, can! cewek secantik dan serapi begitu, lo kasih panggilan Sapi?. Beneran sadis, lo!).

Gadis yang memperkenalkan diri sebagai Sapi itu pun langsung mengambil kursi kosong yang ada tepat di sebelahku (Yaaah, rezekynya KJP lagi, deh! Bisa dapat pemandangan indah pengganti sunset yang sudah mulai raib ditelan lembayung senja. Hiks!)

Seperti paras serta penampilannya yang sangat rapi, cara bicara Sapi pun sangat tertata. Pembawaannya terkesan jauh lebih dewasa dibanding usianya yang hampir setengah dari usia KJP (Jadi berasa tua banget ya, suhu. Untung style kita beda tipis sama dia. Jadi gak mungkin banget untuk dia manggil emak sama kita. Kqkqkq…).

Entah karena merasa nyaman dengan pembawaan kami yang sama sekali tidak menciptakan jarak, atau mungkin memang pada dasarnya dia orang yang sangat terbuka.

Untuk selanjutnya dengan sangat lugas dan tanpa kami minta, Sapi mulai menguraikan perjalanan hidupnya, yang membuat aku dan KJP semakin merasa betah bercengkrama dengan makhluk indah pengganti sunset tersebut.

Pasti bakalan ada yang sirik lagi, nih. Gue nambahin KJP muji-muji Sapi mulu. Cuekin aja, Pi. (Ups! beneran gak enak banget, Can. Nama panggilan yang lo kasih. Kagak ada id yang bagusan lagi ngapa? Jadi gak tega nih, manggilnya).

Sapi?? Akh, bodo amat sama candra. Gue ganti sendiri aja deh id panggilannya. Ehm, id ‘Jelita’ kayaknya lebih pantas deh buat gadis secantik dan serapih dia. Penampilannya kan gak beda jauh sama Agnes, malah kayaknya lebih menarik dia dibanding artis favoritku itu (Setuju gak, suhu? Harus setuju! *Khusus buat KD tutup mata dulu, ya!).

Oks, untuk nambahin panas hati orang-orang yang ngiri pada kelebihan yang dimiliki adik kita yang satu ini. Aku mau menggambarkan sedikit lebih detil lagi tentang penilaianku setelah bercengkrama dengan Jelita alias id nyeleneh (Sapi) yang di kasih sama Candra yang super tega.

Profesi Jelita sendiri adalah sebagai DJ di salah satu Kafe favorit sekaligus model di sebuah majalah gaul terbitan pulau Dewata. Kedewasaan pembawaan serta kematangan cara berpikirnya sama sekali tidak mencerminkan usianya yang masih sangat belia.

Ibaratnya buah mangga, Jelita ini matang sebelum waktunya. Namun kematangannya yang tidak terlihat dibuat-buat itu, sama sekali tidak menurunkan daya tariknya yang aku yakin, mampu memukau setiap lawan bicara yang berhadapan langsung dengannya.

Jujur aku katakan di sini, bagiku dan mungkin juga bagi KJP yang sudah banyak makan dan minum air laut. Kamu tuh orangnya asik banget, ta. Ini bukan pujian kosong, lho! Tapi kenyataan. Buktinya biarpun kita baru kenal, aku dan KJP merasa nyaman banget berada di dekat kamu. (Gerah-gerah deh lo, can. Hahaha…)

Yo wes! Untuk menghindari hujan bakiak yang dilemparkan oleh Candra and the gank. Sementara sampai di sini dulu pujian buat Jelita or Sapi kalian itu. Mudah-mudahan setelah ini muka geradakanku jadi ketularan muka rapinya Jelita, deh. Amiiiin. (Jupiter doc/01Mei’08)

To be continue…

3 Tanggapan to “Liku-Liku Perjalananku <4>”

  1. tiangcandra said

    mau liat gak majalahnya yg ada si sapi?

    eh si sapi itu jangan dipuji2 mulu,dia itu diam2 suka membaca2 blog yg ada tulisan ttg dia lho.jangan salah.hahaha

  2. Sagita said

    Jupe, ingat g malam stlah ketemuan ama Cipcip n Sapi? kita berdua kebayang teyus y ama doi, lupa dah ama KD. (ups!) kqkqkq
    Cip, biarin DJ Sapi qt puja puji, kalo doi sdh g nginjek tanah baru qt bantai, yuuuukkk.. hehehe

  3. Jupiter said

    Yo’i suhu. Akur dah kalo tuk yg satu itu. Selagi bisa dinikmati, haram hukumnya kalo kita sia-siakan.

    But, kalo yg diangkatnya dah melayang ketinggian trus malah balik nendang kita. Saatnya Mandau ama Parang deh yg bicara. (Betul apa betuuuuuul?!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: