RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Liku-Liku Perjalananku <1>

Posted by jupiter pada April 30, 2008

Liku-Liku Perjalananku
( Kusambut Dekapan Hangatmu )

Sudah dua minggu berlalu sejak kepulangan dari perjalanan singkatku ke pulau Dewata. Dari setiap perjalanan biasanya dengan mudah aku bisa menuangkan segala rasa yang menyapa, baik itu perasaan suka maupun duka. Tapi entah mengapa kali ini konsentrasiku tidak pernah bisa fokus, beberapa tulisan yang aku coba rangkai selalu terhenti di tengah jalan.

Pergulatan di dalam bathinku yang tak juga kunjung reda, membuat daya khayal serta ingatanku selalu tiba-tiba menjadi kosong. Lima cerita telah aku tuangkan, namun selanjutnya aku biarkan hanya menggantung tanpa sanggup untuk aku tuntaskan.

Kegagalan itu ternyata bukan saja menenggelamkan semangat bersosialisasiku, namun telah merenggut pula gairah menulisku.

Walau aku telah menyibukan diri dengan mencoba menata kembali jalan hidup yang sempat kacau karena terlalu larut dalam beragam kekecewaan, namun ternyata segla usahaku tersebut belum membuahkan hasil. Aku tetap terpuruk dalam kubangan penyesalan dan kembali terjebak ke dasar lembah yang sangat pekat.

Sampai detik ini aku tidak tahu pasti, apa yang sedang aku kejar dan untuk siapa segala materi ini aku kumpulkan.

Gairahku seakan telah mati, tapak yang kutinggalkan sepertinya sama sekali tidak meninggalkan bekas. Langkahku seperti melayang dan sulit sekali untuk aku pijakan. Aku seperti telah kehilangan pegangan dan rasaku seakan mengambang, sama sekali tak mampu melihat arah masa depan.

Maafkan aku kawan. Aku tahu air liurmu sudah mulai membusa, lengkinganmupun sudah mulai berubah parau karena tak pernah berhenti membantu meniupkan kembali api semangat demi sekedar mencairkan kebekuan hatiku.

Namun bara di hatiku sudah terlanjur kuyup. Aku tetap tak mampu melepaskan diri dari cengkraman jeruji masa lalu ini, dan belum bisa keluar dari lingkaran kisah yang telah merampas harapan masa depanku.

Bukannya aku tidak menghargai segala perhatian yang telah kamu berikan. Sejujurnya aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan sosok seorang sahabat yang sanggup memberikan rasa nyaman pada jiwa kosongku. Aku bisa merasakan ketulusan dalam dekapan hangatmu itu. Namun apa daya tenagaku sudah terkuras, jiwaku telah benar-benar letih.

Seandainya masih bisa memilih, aku lebih memilih menjadi perempuan feminim yang berhati maskulin, daripada perempuan ‘maskulin’ tapi mempunyai hati yang sangat lembek seperti hatiku ini.

Sudah tidak terhitung usahaku untuk mencoba melepaskan diri dari jeruji pengap ini. Tawa, canda serta kegilaan yang selalu aku tebar ternyata tidak pernah sanggup mengusir kabut di dalam hatiku yang sudah terlanjur pekat. Pada saat sendiri, kesunyian itu selalu menenggelamkan kembali jiwaku dalam keterpurukan. Mungkin benar adanya pepatah yang mengatakan ; “Biarkan waktu yang bicara”.

Dalam dunia nyata, tak ada seorangpun yang akan menduga kalau ternyata aku memiliki jiwa serapuh ini. Kepiawaianku dalam menyembunyikan segala perasaan negatif dengan memamerkan keceriaanku, selalu bisa mengelabui penglihatan mereka. Hidupku selalu diselimuti oleh kepura-puraan, tersenyum walau dalam hati menjerit.

Maafkan aku kawan. Sejujurnya aku tahu, kamu sangat benci melihat aku seperti ini. Aku pun merasakan demikian. Aku benci pada diriku sendiri, benci pada jiwa kerdilku yang tidak pernah bisa sekuat dan setegar perempuan lain yang bisa langsung bangkit dan kembali melenggang dengan tenang, meski badai berulangkali menghantam dan menghajarnya sampai babak belur.

Inilah diriku yang sebenar-benarnya. Seorang perempuan berjiwa kerdil yang tak pernah sanggup mengendalikan kegalauan perasaannya sendiri.

Perempuan yang selalu berpura-pura tegar namun sebetulnya memiliki jiwa yang sangat labil.

Perempuan cengeng yang selalu bersembunyi di balik gelak tawa serta rangkaian kalimat yang menyegarkan yang sebetulnya bukan ditujukan untuk orang lain, tapi untuk mencibir ketidak mampuanku dalam mengendalikan perasaanku sendiri.

Aku masih ingat, beberapa hari sebelum kita bertemu di Bali. Saat itu aku selalu maju mundur dalam memutuskan keberangkatanku.

Jujur, bukan semata karena masalah keluarga. Tapi karena pergulatan dalam bathinku yang masih menyimpan sedikit trauma, setelah pertemuanku dengan beberapa sahabat maya yang berakhir dengan perpecahan persahabatanku dengan mereka. Persahabatan yang baru seumur jagung itu kandas dan merembet kemana-mana, karena aku tidak mampu meredam emosiku sendiri.

Aku sadar pada kelemahanku yang satu ini. Itulah sebabnya mengapa aku terkesan begitu plin-plan dalam menyetujui undangan pertemuan kita tersebut. Aku terlalu dihantui ketakutan akan kehilangan lagi.

Namun pada akhirnya, rasa penasaran serta kerinduan akan dekapan hangat persahabatanmu telah berhasil mengalahkan ketakutanku.

Dan ternyata, segala ketakutanku itu menguap dengan sendirinya begitu aku menjejakan kaki di Bandara Ngurah Rai dan melihat senyum yang sangat tulus terpancar dari raut wajah segarmu.

Benar apa yang kamu ingatkan sebelumnya, aku begitu takjub melihat kesegaran penampilanmu yang sama sekali tidak termakan usia. Di mataku penampilanmu tidak kalah segar dengan ‘anak putih abu-abu’ yang selalu tampil ceria. Sama sekali tidak aku rasakan kepura-puraan dalam dekapan hangatmu.

Terima kasih saudariku, dengan tulus kusambut dekapan hangatmu. (Jupiter doc/27April’08)

To be continue …

2 Tanggapan to “Liku-Liku Perjalananku <1>”

  1. Sagita said

    Com’on Jupe! Semangat! Keluarkan segala beban batinmu, aku siap menjadi pendengarmu, aku tunggu kelanjutannya ok?

  2. tiangcandra said

    ayo semangattttttttttttttt!!!!!!!!
    pasti bisa pasti bisa.been there done that.tp aku yakin pasti teh Jupe bisa.

    ayo kita ngopi lagi😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: