RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Chat yang Menyegarkan (Sepo doc)

Posted by jupiter pada April 30, 2008

Chat yang Menyegarkan
Thursday, May 1, 2008
Oleh: Jupiter

Berkubang dalam kesedihan memang tidak mengenakkan. Kesedihan berlebihan membuat jalan pikiran menjadi buntu. Aku tengah berusaha melindungi diri agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh perasaan mellow, akibat selalu memanjakan serta memelihara kesedihan.

Kok kesedihan dipelihara? Ihh.

Aku kepengin melakukan hal yang lebih positif, selain mengurung diri di dalam kamar, ditemani lirik lagu melankolis yang semakin menenggelamkan kesedihanku. Untuk mampu keluar dari mood bete ini, aku harus berhasil menciptakan suasana riang dalam diri. Yap! Mendengarkan lagu ber-beat cepat, misalnya atau berbuat jahil terhadap orang-orang yang tengah serius bekerja, seperti yang sering aku lakukan terhadap teman-temanku dulu. Hihihi. Jahil mode on.

Hmm, tapi jahil sama siapa?

Dalam kebingungan, tiba-tiba seorang teman dengan id yang baru saja aku setujui, masuk dan langsung menyapaku dengan nada yang serius. “Hai, lagi sibuk ya? Label kamu apa?”

Sesaat aku tertegun. Orang yang belum kukenal tapi kok langsung bertanya soal label segala? Aku menjawab dengan nada datar, “Andro. Kamu sendiri?”

“Sama, kata teman-teman sih aku andro juga.” Jawabnya tak kalah datarnya

Aku menggaruk-garuk kepalaku, bingung; sepertinya orang ini malas mengobrol tapi kenapa menyapa aku duluan, ya? Ah, masa bodo! Yang penting aku mempunyai teman ngobrol, daripada menye-menye dalam lagu sedih terus-menerus.

“Kok kata teman-teman sih? Emang kamu sendiri ngerasanya gimana?”

“Hmm, gimana ya?! Sebetulnya aku sendiri takut menggunakan kata pelabelan ini.” Jawabnya terkesan ragu

“Lho, kenapa mesti takut? Takut sama siapa? Emang siapa yang melarang?”

“Ngelarang sih enggak. Cuma males saja. Nanti nggak nyambung dengan para feminis yang sudah bersusah payah mengedukasi tentang pelabelan yang dianggap sebagai budaya patriarki.”

“Ooo… itu toh maksudnya. Cuek aja lagi, yang penting kita kan nggak mengikuti budayanya. Yang ditentang para feminis itu sebetulnya budaya patriarkinya, dalam artian; pelabelan yang digunakan dengan tujuan untuk merendahkan atau mengagungkan salah satu label saja. Bukan pelabelan seperti yang kita gunakan seperti sekarang ini.” Jelasku mulai menguasai topik yang akan dibahas.

“Maksudnya?”

“Label yang kita gunakan di sini, hanya untuk menggambaran identitas atau kepribadian kita saja, biar topik yang akan kita bahas bisa lebih nyambung. Obrolan butch, andro, dan femme itu kan beda-beda.”

“Masa sih?”

“Yup! Ini berdasarkan pengalamanku pribadi, ya. Kalau ngobrol sama butch, topik yang dibahas lebih bebas, vulgar, ngocol, pokoknya lebih terbuka dalam segala hal. Sementara kalau ngobrol sama andro, topiknya lebih santai, terbuka tapi tidak terlalu bebas atau vulgar. Nah kalo ngobrol sama femme, topik yang dibahas biasanya lebih lembut, misalnya ngebahas penampilan atau kegiatan sehari-hari.” Sampai di sini aku kebingungan sendiri dengan ucapanku.

“Hahaha, bisa saja kamu. Eh, tapi benar juga deng. Pantas pas chat kemarin aku dicuekin abis sama teman baruku yang ngaku dirinya femme. Hmm, ternyata aku salah ngambil topik kali, ya?!”

“Emang waktu itu kamu ngebahas apa?”

“Apa ya? Lupa! Pokoknya obrolan kita nggak pernah nyambung, blas.”

“Hahaha, dulu aku juga pernah ngalamin seperti itu. Chat pertama di tanggapin tapi ogah-ogahan, besoknya status chat dia off terus. Pas ada kesempatan kopi darat, aku tanya kenapa dia kok seperti ngehindarin aku gitu. Tau nggak, apa jawabannya?” tanyaku sambil berusaha mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri

“Apa?” tanya teman chat-ku, seakan menunggu keseriusan jawabanku

“Kata dia, ngobrol sama aku kayak bukan lagi ngobrol sama cewek. Nggak pernah serius alias kebanyakan bercanda. Capeee deh!” Kali ini jawabanku benar-benar asal.

“Gitu ya?!”

“Yo’i! Terus aku juga pernah chat sama teman baruku yang ngaku identitasnya seorang pure butch. Gilaaaa, yang dibahasnya bikin aku sport jantung. Aku sempat dibuat bingung, yang aku ajak chat ini cewek apa cowok? Macho abissss!”

“Jadi, feminis itu sendiri sebetulnya labelnya apa?”

Sejenak pertanyaan ini membuatku mengerutkan kening, sebelum akhirnya aku mencoba menjelaskan sesuai dengan apa yang kudengar dan baca. Walaupun sumbernya nggak tahu dari mana. Lupa jreng.

“Ya, samalah seperti kita-kita, perempuan juga kan. Berdasarkan pemahamanku yang cetek ini, mereka adalah perempuan yang berusaha menegakan keadilan buat kaum perempuan, terutama yang seperti kita. Dengan kata lain feminis itu sama dengan aktivis pembela perempuan. Eh, tapi cowok juga bisa lho, di kategorikan sebagai feminis. Bukan dalam artian fisik. Mereka yang memperjuangkan keadilan buat perempuan biasanya dikategorikan sebagai aliran feminis juga.”

“Hmm, gitu ya? Ngerti aku sekarang. Kok kamu bisa menguasai soal beginian, sih? Emang kamu aktivis juga? Jangan-jangan kamu sebetulnya feminis juga, ya?”

“Aktivis? Feminis?! Mana ada feminis yang mensahkan identitas pelabelan? Aku cuma berusaha memahami apa yang selalu diributkan teman-teman kalau sudah menyangkut masalah pelabelan. Intinya, aku tidak pernah memihak kepada kelompok pro maupun yang kontra terhadap pelabelan tersebut. Yang penting, aku percaya sama logikaku sendiri. Selama tidak melanggar HAM, kenapa nggak?”

“Jadi menurutmu, pelabelan itu nggak masalah, ya?”

“Bagiku pelabelan sah-sah saja, selama kita bisa menempatkan mana yang baik dan mana yang tidak. Seperti halnya dosa, sepintar dan sesuci apapun yang namanya manusia, baik itu ulama, pendeta, biksu, maupun para pemuka agama lainnya, tidak ada yang bisa memastikan apakah yang kita lakukan sehari-hari itu berdosa apa tidak? Semuanya kembali kepada Yang di Atas.”

“Hahaha, Anda betuuuulll! Thanks ya! Senang bisa chat sama kamu. Mumet di kepalaku mulai berkurang. Kayaknya aku sudah bisa mulai berkonsentrasi kerja lagi, nih.”

“Ok. Thanks juga sudah mau mendengarkan ocehanku yang tidak aku jamin kebenaran sumber logikanya, dan tidak pernah tercantum di dalam ayat atau pasal manapun dalam UU Negara kita. Senang juga bisa membahas topik yang nyambung dan menyegarkan. Selamat bekerja lagi, ya.”

Pembicaraan kosong di siang hari bolong itupun ditutup dengan gelak tawa kami berdua, yang kembali hanya berupa ketukan kata-kata dan simbol emotikon belaka.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Perempuan
posted by Lakhsmi, 8:26 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: