RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Sinetron Malam

Posted by jupiter pada April 12, 2008

Sinetron Malam
Friday, April 11, 2008
Oleh : Jupiter

Apa yang kamu pilih antara melanjutkan hidup dengan penuh kebimbangan atau bertahan dengan harapan yang kosong? Hwuaaahhh….!! Aku memukul jidat sendiri.

Sudah tiga hari ini pikiranku benar-benar lagi blank. Segala yang kulakukan menjadi serba salah. Rasaku hambar, semangatku hilang.

Aku mencoba untuk mencari penghiburan dengan berkonsentrasi di depan televisi. Tayangan sinetron yang biasanya selalu aku tunggu, entah mengapa penampilannya terasa menjadi biasa-biasa saja. Feeling-ku sama sekali tidak tersentuh.

Dengan malas, aku mengganti saluran televisi. Wah, ada cara musik yang menjadi acara kegemaranku. Aku biasa menonton secara live di studio TV-nya. Malam ini semua lagu yang dibawakan oleh group band favoritku menjadi terasa basi dan sangat membosankan. Mellow lagi, mellow lagi. Cape deh.

Kupindahkan saluran berikutnya. Acara komedi yang menurut teman-temanku lucu. Sampai tayangan komedi itu selesai, hatiku sama sekali tidak tergerak. Hambar. Aku merasa bosan. Kumatikan TV dengan kesal.

“Kok malah dimatiin?” tegur Mama mengagetkanku. “Emangnya lagi nunggu acara apa? Dari tadi kok di pindah-pindah channel mulu? Sampe pusing ngeliatnya.”

Ups! Kiranya dari tadi aku tidak sendirian. Rupanya Mama yang tadi kulihat sedang berada kamar ternyata duduk di belakangku.

“Nggak lagi nunggu acara apa-apa kok, Ma. Acaranya nggak ada yang bagus. Bikin bete semua,” jawabku sambil menyalakan TV kembali, lalu memberikan remote control-nya kepada mama.

“Terus kamu mau ngapain? Mau tidur?” tanya Mama begitu melihat aku mau masuk ke kamar.

“Yey, siapa yang mau tidur? Mau ngelanjutin kerja aja, ah.”

“Terus, Mama nonton sendirian, dong?”

“Kenapa memangnya, Ma? Aku juga biasanya sendirian. Lagian aku kan nggak ke mana-mana, Ma. Pintu kamar juga tetap di buka, kok. Nih, cuma dihalangin tembok ini,” kataku sambil memukul tembok penyekat ruangan.

Akhir-akhir ini kemanjaan serta kebandelan Mama terasa makin berlebihan. Setiap makanan yang aku masak selalu melahirkan komentar yang memanaskan telinga. Di lidah Mama, semua makanan selalu dianggap kurang manis atau kurang asin. Padahal di lidahku sendiri sudah pas banget.

“Percuma, Mama tetap saja sendiri,” ujar Mama dengan memasang wajah sedih, hingga membuatku mengurungkan niat untuk masuk ke kamar

“Ya sudah, aku temani Mama, deh.”

Selama hampir tiga puluh menit, terpaksa aku menikmati tayangan sinetron menyebalkan yang membuat ekspresi wajah Mama selalu berubah-ubah.

Ketika ada adegan menyedihkan, Mama langsung menangis lebih keras daripada si aktor yang memerankan adegan sedih tersebut. Ketika ada adegan mengharukan, Mama tetap mengeluarkan air mata yang dilanjutkan dengan isak tangis haru. Aku benar-benar dibuat repot karena harus selalu menetralisir keadaan dengan mengembalikan ingatan Mama bahwa semua adegan yang menghanyutkan perasaannya itu hanya sekedar akting. Ini adalah sinetron.

Sekedar Akting? Sinetron? Dua kalimat ini tiba-tiba berputar di dalam kepalaku. Yap! Bukankah segala kegundahan yang aku rasakan ini sebetulnya juga merupakan bagian dari sinetron kehidupan?

Bukan baru kali ini aku mengalami perasaan gundah seperti ini. Dulu aku pernah dihadapkan pada pilihan hidup yang lebih sulit, tapi toh akhirnya aku bisa melewati semuanya dengan mulus. Aku membayangkan hidupku seperti film. Meski aku nggak tahu skenarionya seperti apa, aku yakin semua masalah akan berakhir saat sutradara meneriakan kata cut.

“Nak, si Rini anaknya Bu Anto, katanya besok mau tunangan. Padahal dia kan masih kuliah.” Mama tiba-tiba membahas obrolan yang selalu aku hindari karena ujung-ujungnya pasti akan berakhir dengan masalah pernikahan.

“Hmm, baguslah,” jawabku asal. Lalu cepat-cepat mencoba mengalihkan pembicaraan. “Eh, itu kan anaknya Mark Sungkar? Mama pasti nggak tahu, ya?” Aku membahas tayangan sinetron yang diperankan oleh anak dari artis yang juga merupakan teman Mama di masa mudanya dulu.

Tiba-tiba Mama menangis kencang.

Ya, salah ngomong lagi, deh, gumamku dalam hati begitu melihat reaksi Mama. Kepalaku pening mendadak. Mama pasti teringat pada kejayaan masa mudanya lagi.

Malam ini sekali lagi aku menekan segala perasaan bosanku dengan menghabiskan waktu di depan TV sambil mencoba melepaskan segala harapan kosong yang selalu membebani pikiran serta memberatkan langkah hidupku. Malam berlalu lagi. Aku mengucapkan bismmillah dalam hati. Aku ingin menjadi cahaya agar aku dapat mengubah kegelapan hatiku menjadi seribu kunang-kunang yang meneduhkan diri.

CUT!

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Personal Life
posted by Lakhsmi, 9:31 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: