RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Sandiwara Kehidupan

Posted by jupiter pada Maret 31, 2008

Sandiwara Kehidupan
Oleh : Jupiter

Apa yang akan terjadi seandainya kita dihadapkan pada pilihan, antara melanjutkan perjalanan dengan penuh kebimbangan atau memelihara terus harapan yang sudah nyata-nyata kosong?

Hwuaaahhh…!!! aku memukul-mukul jidat sendiri.

Sudah tiga hari ini pikiranku benar-benar lagi “blank”. Segala yang kulakukan menjadi serba salah. Aku tidak tahu pasti apa sebetulnya yang sedang aku inginkan dan aku butuhkan. Rasaku hambar, semangatku hilang.

Kucoba untuk mencari penghiburan diri dengan mencoba konsentrasi di depan televisi. Tayangan sinetron yang biasanya selalu aku tunggu karena menghadirkan sosok pemeran utama yang selalu sanggup membangkitkan imajinasiku, malam ini entah mengapa penampilannya terasa menjadi biasa-biasa saja, feelingku sama sekali tidak tersentuh.

Dengan malas, kucoba untuk mengganti channel. Sebuah acara musik yang biasanya selalu aku saksikan secara live di studio TV bersama beberapa sahabat dan selalu menjadi acara kegemaranku. Malam ini semua lagu yang dibawakan oleh group band favoritku tersebut menjadi terasa basi dan sangat membosankan.

“Huh! Mellow lagi, mellow lagi. Cyape dech!” Sungutku merasa tersindir oleh bait-bait lagu yang seperti sedang mengejek segala kegundahan hatiku ini.

Kutekan channel berikutnya yang tengah menayangkan sebuah acara komedi yang menurut teman-temanku, banyolan-banyolan yang disuguhkannya selalu segar dan sangat menghibur.

Selanjutnya aku menunggu adegan spontan serta banyolan yang katanya selalu lucu itu, dengan harapan bisa menggugah dan menghadirkan sedikit senyum di hatiku yang sedang beku ini. Tapi sampai tayangan komedi itu selesai, hatiku sama sekali tidak tergerak. Tetap hambar dengan tatapan kosong mengikuti beberapa adegan, sampai akhirnya aku merasa bosan sendiri dan kemudian dengan kesal aku mematikan TV.

“Kok malah dimatiin?” tegur mama mengagetkanku. “Emangnya kamu, lagi nunggu acara apa? dari tadi kok di pindah-pindah mulu. Mama ampe pusing ngeliatnya.” Lanjut mama sambil menatapku bingung.

Ups! Kiranya dari tadi aku tidak sendirian. Mama yang tadi sempat aku lihat masuk ke dalam kamar, ternyata sudah duduk kembali di belakangku. Waduh! Kenapa aku bisa sampai kehilangan kesadaran begini, ya? pikirku bingung.

“Nggak lagi nunggu acara apa-apa kok, ma. Lagi nggak puguhan aja, abis acaranya nggak ada yang bagus. Sinetron cengeng semua, lagu-lagunya cengeng juga, banyolannya garing. Bikin bete semua.” Jawabku sambil menyalakan TV kembali, kemudian memberikan remote controlnya kepada Mama.

“Terus kamu mau ngapain? Mau tidur?” tanya mama begitu melihat aku mau masuk ke dalam kamar.

“Yei! Siapa yang mau tidur. Emangnya mama, begitu masuk kamar langsung mendengkur. Mau ngelanjutin kerja aja, akh. Daripada melototin acara yang nggak jelas kayak gitu, cuma bikin bad mood aja. Mending ngelonin si *kokom, deh.” Elakku menyanggah dugaan mama. (*kokom=komputer)

“Jadi mama nonton sendirian lagi, nih?” mama merengut manja

“Lah emangnya kenapa kalo mama nonton sendirian? Aku juga biasanya sendirian. Lagian aku kan nggak kemana-mana, ma. Pintu kamar juga tetap di buka, kok. Nih, cuma dihalangin tembok ini doang.” Kataku sambil memukul tembok penyekat ruangan.

Akhir-akhir ini kemanjaan serta kebandelan mama terasa makin berlebihan. Setiap masakan serta makanan yang aku buat dan aku kasih selalu melahirkan komentar yang memanaskan telinga. Di lidah mama, semua makanan selalu dianggap kurang manis atau kurang asin. Padahal di lidahku sendiri rasanya sudah pas banget.

Dan yang membuat aku selalu bertambah jengkel, ujung-ujungnya Mama selalu minta untuk ditambahi gula atau garam pada makanannya. Padahal mama adalah penderita diabetes yang sama sekali sudah tidak bisa nahan kalau sudah pengen buang air, serta penderita darah tinggi yang sudah dua kali terserang stroke. Dan apabila keinginananya tersebut tidak segera dituruti, mama pasti langsung nangis seperti anak kecil yang mainannya aku rebut. Hhhh… benar-benar menguji kesabaranku.

“Percuma ada kamu di sini juga, mama tetap saja sendiri mulu!” ujar mama dengan memasang muka sedih, hingga akhirnya membuat aku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kamar.

“Ya sudah aku temanin, deh.” Kataku sambil duduk kembali di dekat mama.

Selama hampir tiga puluh menit, terpaksa aku harus mencoba untuk bisa menikmati tayangan sinetron yang membuat ekspresi wajah mama selalu berubah-ubah.

Ketika ada adegan yang menyedihkan, mama langsung menangis lebih keras daripada si aktor atau aktris kawakan yang memerankan adegan sedih tersebut. Dan apabila tiba pada adegan yang mengharukan, mama tetap mengeluarkan air mata yang dilanjutkan dengan isak tangis haru.

Aku benar-benar dibuat repot karena harus selalu bisa menetralisir keadaan dengan mengembalikan ingatan mama, serta menjelaskan bahwa semua adegan yang menghanyutkan perasaannya itu, hanya sekedar akting dan merupakan contoh dari sandiwara kehidupan semata.

Sekedar Akting? Sandiwara kehidupan? Dua kalimat ini tiba-tiba berputar di dalam kepalaku.

Yup! Bukankah segala kegundahan yang tengah aku rasakan ini sebetulnya juga hanya merupakan bagian dari sandiwara kehidupan? Pikirku sambil mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali segala peristiwa yang sudah berhasil aku lewati.

Bukan baru kali ini saja aku mengalami perasaan gundah seperti ini. Dulu aku pernah dihadapkan pada pilihan hidup yang lebih sulit, dan hampir membuat aku putus asa sehingga sempat berpikir untuk berhenti sebelum waktunya, dari ricuhnya panggung sandiwara kehidupan ini.

Tapi toh pada akhirnya aku bisa melewati semua masalah berat tersebut dengan sangat mulus, bahkan setelah itu aku mampu melangkahkan kaki kembali dengan sangat anggun plus berwibawa. Sehingga membuat orang-orang yang tadinya merendahkan kemampuanku menjadi berbalik menundukkan kepala.

Seperti halnya aktris dan aktor kawakan yang sudah berhasil mengaduk-aduk perasaan mama, akupun harus bisa memainkan peran yang telah menjadi bagianku ini, dan harus bisa menuntaskannya sampai pada akhirnya “sang sutradara” meneriakan satu kata penutup, “CUT!!”.

Secercah harapan tiba-tiba tumbuh dan perlahan mulai mengusir kegundahan hatiku. Meskipun tanpa skenario, aku harus sanggup untuk memainkan peran yang sudah di percayakan oleh “sang produser” yang menjadi pemilik segala kehidupan.

“Nak, si Rini anaknya bu Anto, katanya besok mau tunangan. Padahal dia kan masih kuliah.” Mama tiba-tiba membahas obrolan yang selalu aku hindari karena ujung-ujungnya pasti akan memojokan pilihan hidupku, yang sudah memutuskan untuk tetap menjalani sisa hidup tanpa ‘pasangan’.

“Hmm, bagus lah. Eh, itu kan anaknya Mark Sungkar. Mama pasti gak tahu, ya?” Jawabku asal sambil mencoba mengalihkan arah pembicaraan, dengan membahas tayangan sinetron yang diperankan oleh anak dari salah satu aktor idola yang juga pernah jadi teman mama di masa mudanya dulu.

Waaa… waaa… !!! tiba-tiba mama menangis kencang.

Ya, salah ngomong lagi, deh! Gumamku dalam hati begitu melihat reaksi mama yang selalu tiba-tiba membuat pening kepalaku itu. Mama pasti teringat pada kejayaan masa mudanya lagi, deh. Pikirku sambil kemudian mencoba dengan segala cara untuk meredakan kembali kesedihan mama, dengan memancing obrolan seputar kejayaan masa mudanya dulu.

Dan pada akhirnya, malam ini kembali aku harus menekan segala perasaan bosanku dengan menghabiskan waktu di depan TV, tanpa bisa menikmati rangkaian acara yang disuguhkannya. Karena pikiranku sudah disibukan dengan satu pilihan yang telah sampai pada satu keputusan, untuk melepaskan segala harapan kosong yang selama ini selalu membebani pikiran serta memberatkan langkahku.

Bismillah, mudah-mudahan aku sanggup memainkan dan menyelesaikan segala skenario kehidupan yang telah dipercayakan-Nya, dengan tanpa beban. (Jupiter doc/31Mar08)

***

Satu Tanggapan to “Sandiwara Kehidupan”

  1. Sakura/henay said

    ah dengan hidup aja semuanya penuh sandiwara😛 jadi tingal jalani apa adanya selagi bisa di usahakan ya usahan hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: