RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Realita oh Realita

Posted by jupiter pada Maret 31, 2008

Realita oh Realita
Oleh : Jupiter

Aku baru saja keluar sebagai pemenang dari pertempuranku melawan penyakit hati, ketika tiba-tiba tiga ponselku menjerit dengan kompak.

“Assalammualaikum!” jawabku di ponsel pertama

“Wa, besok kamu datang ke hotel Anu, ya! Ada Seminar buruh se-Jabar yang mengundang serikat kita. Kamu sudah ditunjuk sebagai wakil dari perusahaan kita didampingi si Fany!” Sembur Edo tanpa menjawab salamku terlebih dahulu.

“Apa? Seminar buruh? Hei! Kamu gak lagi amnesia kan? Aku kan sudah bukan kharyawan di situ lagi! kok aku yang ditunjuk sebagai wakil perusahaan, sih?” kataku bingung, menanggapi perintah kerja yang sebetulnya sudah bukan tanggung jawabku, sejak acara perpisahan serta upacara serah terima jabatanku dengan mereka setahun yang lalu.

“Justru itu, tema seminar nanti kebetulan mengangkat masalah yang dulu pernah kamu ajukan. Kawan-kawan kita gak ada yang menguasai masalah yang akan di bahas nanti. Lagi pula si Fany kan orang baru, mana berani dia presentasi di depan orang banyak dan asing seperti itu. Bisa mati berdiri, dia. O’ya, masalah status kamu yang sudah bukan kharyawan. Tenang saja, yang nanti hadir di sana belum ada yang tahu, kok. Mau ya, wa?! Pleaseee, demi nama baik kawan-kawan di serikat kita.” Bujuk Edo, dengan memanfaatkan embel-embel solidaritas yang selalu sanggup melemahkan penolakanku.

“Aduuuh, gimana sih, kalian. Aku gak enak kalau nanti sampai ada yang tahu, kalau aku sudah bukan bagian dari kalian lagi.”

“Udaaah, kalau yang itu gak usah dipikirin. Pak Ketua sendiri kok yang jadi jaminannya kalau status kamu sampai bocor. Sekarang ini, beliau kan sudah menjabat sebagai wakil Ketua di Pusat juga.” Jelas Edo meyakinkan keraguanku.

Selanjutnya tanpa menunggu kepastian kesanggupanku lagi, Edo langsung memberikan informasi mengenai segala perlengkapan yang harus aku bawa dan aku siapkan untuk bahan presentasi di seminar nanti. Berikut undangan serta id peserta seminar yang menurutnya akan segera di kirim melalui Fany.

Fhiuhhh! Aku menghembus nafas berat, ketika pada akhirnya Edo menyelesaikan pidato yang tiba-tiba membuat pening kepalaku itu. Inilah salah satu kelemahan yang belum bisa aku enyahkan. Pada saat terdesak seperti ini, ternyata aku masih belum bisa menyuarakan isi hatiku yang sebetulnya menolak tugas yang sudah bukan tanggung jawabku tersebut.

Perasaan tidak enak terhadap kawan-kawan lama, juga rasa iba melihat ketidak mampuan mereka dalam melanjutkan tanggung jawab kerjaku. Akhirnya kembali membuat aku terjebak dalam pertikaian di dalam diri yang baru saja berhasil aku menangkan.

Masih dengan air muka kebingungan, aku melirik ponsel kedua yang ternyata masih berkedip, meninggalkan satu pesan singkat dari salah satu sahabat lamaku juga. “Lagi sibuk, ya? Telpon balik, dunk! Penting!”

Hmm, ada apa lagi, ya? tanyaku dalam hati, sebelum akhirnya aku me-reccal no. nya Widi. “Ada apa, Wid?” tanyaku pada Widi yang dijawab dengan tarikan nafas beratnya.

“Sudah dengar kabar tentang kak Dina, belum?” Widi balik bertanya padaku mengenai sahabat terbaikku yang sempat meninggalkan akhir yang kurang baik itu.

“Hmm, belum! Emang ada apa dengan dia? Dia baik-baik saja, kan?” tanyaku dengan nada yang menunjukan keenggananku untuk membahas dia lagi.

“Justru sebaliknya, kabar dia lagi buruk banget. Sejak kak Dewa keluar, dia makin liar. Sebulan ini dia sudah tidak pernah masuk kerja lagi. Kata anak buahnya sih alasannya sakit, tapi gak ada yang tahu dia sakit apa? Menurut informasi terakhir dari manager personalia, sepertinya dia mau kena PHK. Kasihan banget kan, kak!” penjelasan Widi ini seketika langsung mencairkan keenggananku

“Ups! Kok bisa sampai separah itu, sih? Emang dia sakit apa? Kalo dia memang sakit, dia kan bisa minta surat rujukan dari dokter yang nangani penyakitnya. Kalau sudah ada bukti, mana mungkin perusahaan bisa begitu saja PHK dia. Empat belas tahun, loh! dia sudah berbakti di situ!” ujarku sedikit emosi, mendengar berita yang sangat mengejutkan mengenai kondisi ‘mantan’ sahabatku itu. Walau telah meninggalkan kesan yang kurang baik, tapi entah mengapa, aku masih perduli pada nasibnya yang tidak seberuntung aku, yang mendapat kebijaksanaan ketika mengajukan pensiun dini setahun yang lalu.

“Itulah masalahnya, kak. Menurut informasi yang aku dengar. Dia itu sakitnya bukan “sembarangan”, jadi tidak bisa menunjukan bukti bahwa dia itu benar-benar sedang sakit.” Jelas Widi makin membuat aku kebingungan.

“Bukan sembarangan? Maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Menurut informasi dari anak buahnya, sakitnya dia itu karena “dibikin sama orang”. Kakak sendiri tahu, kan?! Dari dulu dia itu banyak sekali musuhnya. Perusahaan mana sih, yang mau nerima surat rujukan dari DUKUN?!” jelas Widi dengan nada suara yang terdengar miris.

“Hmm, iya juga, sih. Terus kalau dia sampai di PHK, kebijaksanaan dari perusahaan atas jasa dia selama ini, bagaimana?” tanyaku sambil membayangkan kembali raut kekecewaan serta kemarahan di wajah Dina, ketika mengetahui surat pengajuan pensiun dininya tidak disetujui, bahkan dengan sengaja malah dirobek oleh atasannya di depan wajahnya sendiri. Karena dianggap belum memenuhi syarat dalam segi usia, padahal usianya tidak beda jauh denganku.

“Katanya sih, paling tinggi dia dapat penghargaan masa kerja sebesar empat belas kali gaji pokok. Setelah dihitung-hitung oleh orang HRD, tunjangan masa kerja dia itu masih minus.” Lanjut Widi memberikan penjelasan yang semakin membuat aku bingung.

“Minus gimana?”

“Minus kalau dipake buat nutup hutangnya ke koperasi. Itu loh, pinjaman yang di ambil buat beli Honda Jazz yang tabrakan sehari setelah keluar pengumuman siapa-siapa saja yang di setujui pengajuan pensiun dini yang dulu.”

“HAH?? Jadi, mobil itu dia beli pake duit pinjaman? Kirain dulu itu, dia beneran dapat uang warisan dari orang tuanya. Habis dia ngomongnya ke aku begitu, sih!” ujarku betul-betul kaget.

“Dia itu dari dulu emang paling gengsi sama kak Dewa. Mana mau sih, dia keliatan lebih rendah dari kakak. Segala cara dia halalkan hanya untuk sekedar menaikan gengsinya di depan kakak.” Lanjut widi memberikan penjelasan yang membuat aku mengerutkan dahi.

“Ya ampun, Wid. Kok kamu bisa punya pikiran seperti itu? Emang aku seperti apa, sih? Mana pernah aku manas-manasin dia. Malah sebaliknya, dari dulu aku yang selalu ngingetin dia untuk bisa menghentikan sifat nge-boss nya itu.”

“Iya, kita semua juga tahu. Makanya kata teman-teman, cuma kakak yang bisa bantu dia untuk bisa ‘benar’ lagi. Omongan kita-kita sih, mana ada yang bisa nembus kepala dia yang sudah lebih keras dari batu karang itu. Dari dulu, cuma omongan kakak yang bisa meluluhkan kekerasan hati dia.” Kata-kata Widi ini membuat aku seketika membayangkan kembali kisah manis persahabatan kami dulu, sebelum akhirnya dinodai oleh petualangan cintanya yang telah menghadirkan sosok perempuan ‘bermuka dua’.

“Begitu ya? terus sekarang kondisinya gimana? Kamu sudah ketemu sama dia, kan?” tanyaku mulai paham arah pembicaraan Widi, yang ujung-ujungnya pasti minta aku untuk masuk lagi ke dalam lingkaran hidup ‘mantan’ sahabatku yang sudah semakin kusut, karena tidak pernah bisa mengatur gaya hidup ‘liar’nya itu.

“Sudah, kemarin. Kondisi dia betul-betul sangat memprihatinkan. Jauh banget dari sosok keren dia yang dulu. Badannya habis, hartanya habis dan parahnya lagi, semangat hidupnya sepertinya sudah mulai habis juga!”

“Waduh! Terus menurut kalian, aku harus bagaimana? Bukannya aku gak kasihan, tapi aku masih trauma sama kasus yang dulu. Kalian tahu sendiri, bagaimana pengorbananku dulu untuk menyadarkan tingkah konyolnya dia. Aku gak mau sampai terjebak lagi ke dalam lubang yang sama. Pada dasarnya, segala masalah dia itu hanya bisa diselesaikan, kalau dia sendiri sudah ada kemauan untuk berubah. Sedekat-dekatnya aku, tetap saja aku hanya sebatas orang luar. Itu kata-kata terakhir dari dia yang sudah buat aku sadar.”

Mendengar alasan keberatanku. Widi tidak berani mendesak aku lagi untuk mencoba melakukan pendekatan, kepada Dina yang menurutnya sudah seperti mayat hidup itu. Kami pun mengakhiri pembicaraan yang pada akhirnya meninggalkan satu beban lagi di kepalaku. Beban moral sebagai sahabat yang dulu sudah pernah tidak di anggap.

Dengan malas, kubuka satu message yang masuk ke ponsel ketiga yang ternyata dikirim oleh salah satu rekan bisnisku. “Ibu yth. Mohon pengertiannya sehubungan dengan pembayaran yang tidak bisa kami lakukan pada bulan ini.”

PLAK! Aku memukul jidat sendiri.

Lengkap sudah ujian kesabaranku hari ini! Untuk kali ini, bukan hanya perang bathin yang harus aku hadapi. Tapi perang sesungguhnya yang terjadi di dalam kehidupan nyataku. Betul-betul tantangan hidup yang seketika membuat berat lagi isi kepalaku. (Jupiter doc/26Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: