RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Kebahagiaan Adalah Pilihan

Posted by jupiter pada Maret 21, 2008

Kebahagiaan Adalah Pilihan
Oleh : Jupiter

Apa sebetulnya makna dari kata Bahagia? Mengapa sulit sekali untuk menuangkan segala perasaan ini ke dalam bentuk tulisan?

Walau pada saat hendak menulis sebetulnya aku berkeinginan untuk mengungkapkan rasa bahagia, namun begitu jemariku mulai meliukan tarian hati, rangkaian kalimat yang keluar malah sebaliknya. Aliran kata yang selanjutnya berhasil aku rangkai berubah menjadi runtutan kisah yang kembali mengharu biru, dan pada akhirnya kembali melarutkanku dalam lautan kesedihan.

Aku tahu, bahagia dan sedih merupakan pilihan hidup. Dan ini adalah dua rasa yang sangat bertentangan, tapi hanya berjarak setipis kertas, sehingga mudah sekali beralih antara keduanya.

Seringkali aku menjadi bingung ketika ditanya, apakah aku bahagia? Kadang aku berpikir dan merasa bahagia di satu sisi, tetapi kadang aku juga merasa sangat tidak bahagia di sisi lain. Dan di kala kedua rasa tersebut datang secara bersamaan, aku kembali menjadi bimbang. Bimbang pada kebahagiaan semu yang selalu aku dapatkan.

Dalam setiap do’a. Aku tidak pernah sekalipun meminta untuk mendapat masalah, apalagi yang sangat menjengkelkan hati. Aku selalu menginginkan untuk selalu bahagia, tapi kalau rasa sedih itu hinggap jua, sanggupkah aku bertahan dan mengubahnya menjadi bahagia?

Dalam urusan cinta, aku termasuk orang yang mudah sekali terhanyut. Sehingga selalu mendapat kesulitan apabila dihadapkan pada hubungan yang terpaksa harus berakhir. Terkadang aku tak lagi bisa membedakan antara dunia nyata dengan dunia imajinasi. Dan ini sungguh sangat menyiksa.

Perjalanan cintaku tidak pernah mengenal kata mudah, kebahagiaan menjadi sesuatu hal yang sangat mahal, yang tidak pernah mampu aku tukar dengan segala materi yang aku punya. Berbagai persoalan selalu mengganggu kebersamaanku dengan pasangan, dan semuanya berpangkal dari karakter diriku yang sangat kompleks.

Pada dasarnya aku termasuk orang yang sangat penyabar, perhatian dan sangat toleran. Namun tidak jarang aku juga bisa berubah menjadi sangat labil, hipersensitif, emosional, bodoh, tidak toleran, dan insecure yang berlebihan. Begitu buruknya, sampai aku sendiri tidak memiliki ruang untuk berpikir sehat. Aku yang tadinya sangat pengertian berubah menjadi sangat pecemburu dan posesif. Semua karakter buruk ini sangat aku benci, karena selalu mengganggu kestabilan jiwaku serta mengacaukan hubungan yang tengah aku jalani.

Tak jarang aku bisa berubah menjadi sosok yang peragu dan bimbang, yang selalu berusaha menguat-nguatkan dan meyakin-yakinkan diri atas pilihan hidupku. Dalam situasi terdesak aku bisa menjadi begitu kuat dan yakin. Tapi sesudahnya aku akan kembali terlihat lemah dan hanya berusaha untuk pasrah. Ini menjadi semacam dilema moral dalam diriku.

Dalam kehidupan nyata, aku tidak mempunyai banyak pilihan. Kebahagiaanku selalu dipandang dari kedudukan sosial; berumah tangga, mapan dan mempunyai keturunan. Sementara pilihan hidupku sangat bertolak belakang. Aku sudah mengambil keputusan untuk menjalani kehidupan yang berbeda, dan tidak mengikuti apa yang telah di gariskan oleh norma-norma yang selalu mengekang kebebasan jiwaku.

Berbagai kegagalan telah menjadikan aku tenggelam dalam kesedihan yang sangat membekas. Masa lalu yang kelam, selain mengganggu, juga terasa membebani langkahku dalam berbagai relasi sosial. Ini merupakan kebodohanku yang paling fatal.

Aku yang penyabar berubah menjadi sosok dominan yang pemarah. Marah pada nasib yang sepertinya selalu tertimpa kemalangan, marah pada keadaan yang seakan tidak pernah berpihak, marah karena merasa terpenjara oleh pilihan hidupku sendiri, marah pada orang-orang terdekat yang sepertinya tidak pernah memerdulikan keberadaan serta kebahagiaanku, bahkan mengganggap segala yang telah aku lakukan selalu salah.

Inti dari semua kemarahanku ini sebetulnya, aku sedang marah pada diriku sendiri yang tidak pernah mampu untuk menekan segala hasrat yang selalu ingin memiliki, dan tidak berhasil menunjukan rasa bahagia atas pilihan hidupku sendiri.

Menulis menjadi terapi yang sangat ampuh bagiku untuk menghapus luka-luka masa lalu. Dalam dunia imajinasi, aku bisa mewujudkan segala kesedihan yang tidak mungkin aku pertontonkan di dunia nyata. Biarlah semua orang di dunia nyata tetap mengenal sosok aku yang ceria, yang selalu menebar senyum meski sebetulnya aku sedang dalam keadaan terluka.

Dalam proses terapetik inilah, aku bisa menggambarkan segala imajinasi melalui berbagai kilas-balik dengan banyak metafora, sampai pelan-pelan aku bisa menemukan kembali diriku yang selama ini hilang.

Walau karena itu pula hubunganku dengan keluarga, sahabat bahkan orang yang sangat aku cintai menjadi berantakan, karena mereka salah dalam menafsirkan apa yang telah aku tuangkan. Dan ini membuat aku menjadi makin sulit untuk percaya lagi kepada orang lain.

Kekecewaan yang selalu aku dapat dari orang-orang terdekat, membuat kecurigaanku menjadi sedikit berlebihan. Aku yang dulu sangat luwes dalam bergaul, kini cenderung selalu menjaga jarak dengan siapapun dan menjadi takut untuk memulai suatu hubungan yang baru.

Sesungguhnya aku teramat sangat menyayangi mereka, dan aku tidak pernah menginginkan untuk kehilangan satupun dari sosok mereka. Namun kebahagiaan bukanlah sesuatu hal yang bisa didapat dengan instan. Semuanya membutuhkan proses dan waktu yang sangat membutuhkan kesabaran. Dan tak jarang menuntut pengorbanan yang sangat besar serta membutuhkan hati yang sangat lapang.

Dan saat ini, segala proses tersebut akan aku mulai dengan menggali potensi positif yang ada di dalam diri, serta meredam segala sisi negatif yang selalu mengaburkan arah langkahku semula. Aku tak akan lagi berusaha untuk mencari kambing hitam atas kesalahan yang telah aku lakukan.

Mungkin hanya kelemahlembutan yang bisa memberikan aku kekuatan untuk tidak melawan atau membalas dendam ketika aku diserang, baik melalui perkataan maupun serangan terhadap fisik. Ini membutuhkan kekuatan yang luar biasa, sampai aku bisa tumbuh menjadi kuat dan mampu menganggap hal-hal yang menyakitkan, sebagai angin yang menyapa dan kemudian berlalu dengan sendirinya.

Beberapa sahabat pernah mengatakan bahwa mereka tidak bahagia karena mereka selalu hidup dalam kekurangan, ada pula yang merasa tidak bahagia karena merasa telah melakukan kesalahan dalam menentukan pasangan hidup yang tidak tepat, sebagian merasa telah gagal dan tidak dapat menemukan kebahagiaan dalam keluarganya karena tidak adanya keharmonisan dalam keluarga tersebut. Atau dengan kata lain mereka tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka dambakan atau impikan.

Dan aku tidak mau mengukur kebahagiaanku seperti yang telah mereka lakukan, yang selalu di ukur dari luar. Aku harus menemukan kebahagiaan dari dalam diriku sendiri.

Untuk itu aku akan selalu bercermin pada segala kebodohan yang telah aku lakukan di masa lalu. Aku yakin! Apabila seluruh pikiran dan indraku bisa aku kendalikan, maka segala hasrat dan keinginanku juga dapat aku redam, sehingga rasa bahagia sesungguhnya dapat segera aku rasakan.

Semoga saja aku sanggup menjadi orang yang selalu menemukan hikmah dalam setiap kesulitan yang menghadang, selalu bertahan dalam pola hidup yang sederhana dan selalu bersyukur terhadap segala karunia dan cobaan yang telah di berikan. Sehingga dalam kondisi sesulit apapun, aku dapat mewujudkan hari-hari bahagia dalam hidup yang sangat singkat ini.

Dan selanjutnya sanggup menularkan perasaan bahagiaku ini kepada orang-orang terdekat yang selalu aku sayangi. Inilah tujuan hidupku sesungguhnya, menjadi sosok yang selalu sanggup menghadirkan senyum dalam situasi apapun, senyum yang sangat tulus dan tanpa beban. Senyum yang tidak di nodai oleh kesedihan yang selama ini selalu aku tekan dan aku sembunyikan. (Jupiter doc/22Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: