RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Merubah Gaya Menulis

Posted by jupiter pada Maret 19, 2008

Merubah Gaya Menulis
Oleh : Jupiter

Di tengah kegelapan malam dan diantara gemuruh suara hujan, aku terduduk tegak di atas kursi kerja. Mataku menatap kosong pada layar kaca, sepuluh jemariku tertekuk kaku di atas deretan huruf dan juga angka, pikiranku melayang entah kemana, dan hatiku? Hatiku sama sekali tak dapat aku rasa.

Perlahan kucoba untuk menegaskan kembali wajah itu. Wajah yang tadi siang sempat menghadirkan berjuta kata di dalam kepala. Benar! Wajah itu adalah wajah yang sangat aku kenal, bahkan setiap garis serta lekukannya begitu lekat dalam ingatan.

Lima jam yang lalu, aku telah kembali menemukan wajah itu. Kesegaran yang terpancar dari air mukanya, seakan menaburkan jutaan kata yang masih sangat acak. Taburan kata-kata yang melintas telah dengan sengaja aku abaikan, dan hanya aku sematkan di dalam ingatan demi menunggu datangnya malam.

Saat ini, sepuluh jemariku sudah sangat siap untuk menghentakkan kembali taburan kata-kata tersebut dan merangkainya dengan sangat lincah, hingga menjadi runtutan kisah yang saling bertaut. Satu kisah yang pasti akan sangat menarik untuk dibaca, karena di terbangkan dari cerahnya langit biru di masa yang telah lalu.

Sepintas masih kuingat beberapa kata yang meskipun telah berubah samar, namun masih bisa terbayang di dalam tumpulnya ingatanku. Binar, rindang, damai, tergelak, kocak, terang, lompat, biru, kejora, taman,… sampai di sini, gelombang kata-kata itu kembali terbang, melayang dan kemudian menghilang di telan gemuruh hujan yang mengguyur deras di luar kamar.

He-eh! Mengapa malam ini ingatanku berubah menjadi sangat bebal. Disaat aku mempunyai keinginan untuk memulai sesuatu yang baru, demi melepas segala beban yang secara tidak langsung telah menuntutku untuk berganti peran.

Tiba-tiba pikiran dan hatiku sama sekali tidak dapat terhubung, semua mendadak macet total dan menggantung hingga berubah menjadi kebisuan yang sangat menekan.

Jutaan kata yang biasanya mengalir deras layaknya semburan air jet pump yang dalam hitungan menit, sanggup memenuhi kebutuhan untuk sekedar menyiram tubuh beberapa orang di rumahku yang sudah lecek hingga menjadi segar kembali. Seperti hilang ditelan gemuruhnya hujan.

Gelombang kalimat yang biasanya mudah sekali terangkai dengan sendirinya, kemudian menjadi motor penggerak bagi sepuluh jemariku dalam meliukkan berbagai tarian hati. Mendadak sama sekali tidak bisa di ajak kompromi.

Apa sebetulnya yang terjadi pada diriku? mengapa sulit sekali untuk bisa merubah gaya menulisku?

Malam ini seluruh anggota tubuh yang biasanya sangat kompak dalam mencurahkan segala yang aku rasa dan aku alami, seakan berbalik menyerang dan mematahkan semangat menulisku.

Sampai pada akhirnya aku hanya bisa terdiam, tanpa sanggup merubah tampilan layar kaca yang masih tetap bersih dan tidak ternoda setitikpun.

Kemana perginya jutaan kata-kata yang bertaburan hingga memenuhi pikiranku tadi siang? Bahkan jalinan nada yang biasanya mampu membantu memeras imajinasi dari kepalaku pun, malam ini seakan menjadi bisu dan tidak berdaya.

Selintas terpikir dalam benakku. Daripada aku terus ngotot merangkai kata-kata yang sudah nyata-nyata hilang entah kemana, lebih baik aku menyerah saja dan menghentikan kegiatan menulis yang baru aku kembangkan secara otodidak dalam setahun belakangan ini.

Mungkin sebetulnya aku memang tidak mempunyai bakat dalam bidang yang aku andalkan, bisa menjadi sandaran hidupku di masa depan ini.

Di tengah titik keputusasaan, aku mencoba untuk merenung. Kusandarkan tubuh, kupejamkan mata, kulemaskan jemari tangan dan dalam beberapa saat aku mencoba untuk diam. Hanya diam! Dan tanpa melakukan kegiatan apapun selain mengatur nafas yang sudah mulai terasa sesak.

Saat kita memilih untuk melakukan sesuatu, pasti ada faktor-faktor yang melandasi, itulah motivasi. Dengan menggenggam kembali motivasi diri, niscaya kita akan ‘tersengat’ dan teringat kembali jalan yang hendak kita tapaki tadi.” Entah datang dari mana, barisan kalimat pencerahan ini tiba-tiba berputar di dalam penatnya kepalaku.

Motivasi? Motivasi apa yang membuat aku jadi mempunyai keinginan untuk merubah gaya? Sesaat aku berpikir, kutarik nafas dalam kemudian kuhembuskan lagi secara perlahan.

Gotcha! Aku tahu! Yang menjadi motivasiku untuk berubah adalah berasal dari keinginanku untuk bisa meredam emosi seseorang, yang merasa terusik dengan beberapa tulisan yang telah aku tuangkan. Dan ini bukan berasal dari kemauanku sendiri.

Untuk melancarkan kembali ingatan. Aku mencoba mengingat-ingat lagi beberapa kalimat pencerahan yang pernah aku dapatkan, dalam perjalanan menulisku yang baru ‘seumur jagung’ ini.

Apabila bukan berasal dari hati, jangan pernah sekalipun mencoba untuk keluar dari jiwamu sendiri. Karena itu sama saja kamu berusaha untuk bunuh diri. Seorang penulis sejati selalu berbicara dengan hati. Tanpa hati, sebuah tulisan tidak akan pernah memiliki ruh dan itu berarti, mati!”

Ups! Apakah aku benar-benar rela mematikan jiwa menulisku, hanya demi memuaskan seseorang yang pada dasarnya tidak bisa menerima aku apa adanya? Apa sebetulnya makna dari kalimat “apa adanya” ini? Sepertinya kalimat ini sangat akrab di telingaku dan selalu menari hingga memenuhi pikiranku.

Apapun arti sesungguhnya dari kalimat yang belakangan menjadi ‘momok’ dalam pikiranku itu. Aku adalah aku! Dan seperti inilah gaya menulisku. Semuanya keluar dan mengalir begitu saja, mengikuti apa yang saat itu sedang aku rasa dan aku alami.

Dan setelah semua beban itu berhasil keluar, aku selalu merasa ‘terlahir kembali’ hingga selanjutnya bisa menjadi sosok yang lebih baik.

Apabila gaya menulisku dirubah, berarti sama saja dengan merubah diriku menjadi sosok yang lain. Dan saat ini aku belum mau dan mungkin tidak akan pernah rela, untuk membunuh jiwa menulis yang telah aku kembangkan dengan susah payah ini.

Dua kalimat pencerahan yang hadir dalam ingatanku ini, seketika mampu mengembangkan kembali senyum di bibirku. Dan membangkitkan kembali gelombang kata-kata yang dalam beberapa jam yang lalu, telah tenggelam di telan ganasnya samudera keterpaksaan.

Pada hakekatnya tugas seorang penulis adalah, membawa keluar dunia yang ada di dalam ladang imajinasinya dan mengembangkannya menjadi sebuah cerita. Kemudian berlalu tanpa berkewajiban untuk menuruti kemauan setiap pembaca, yang sudah pasti akan berbeda-beda.

Dan aku bukanlah penulis bayaran yang harus mematuhi berbagai aturan, yang apabila semuanya sudah diterapkan bisa menghasilkan segepok uang.

Namun begitu, aku tetap berusaha untuk terus belajar dari setiap pemikiran yang tidak sepaham dengan apa yang telah aku tuangkan.

Semoga di hari depan, aku bisa mempersembahkan sebuah karya yang dapat memikat hati jutaan pembaca. Dan bisa memberikan makna atau pencerahan yang terkandung di dalam setiap karya yang berhasil aku luncurkan. Semoga hari pembuktian itu akan segera tiba. (Jupiter doc/19Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: