RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Chat Yang Menyegarkan

Posted by jupiter pada Maret 17, 2008

Chat Yang Menyegarkan
Oleh : Jupiter

Berkubang dalam kesedihan memang sangat tidak mengenakkan. Sebuah kesedihan yang merembet menjadi deraian air mata membuat buntu jalan pikiran. Aku tengah berusaha memproteksi diri agar tidak mudah diombang-ambing perasaan, akibat selalu memanjakan serta memelihara kesedihan.

Terpikir olehku mengapa aku tidak bisa melakukan hal yang lebih positif, selain mengurung diri di dalam kamar yang hanya ditemani oleh alunan syair-syair melankolis yang semakin menenggelamkan kesedihanku. Untuk bisa keluar dari segala kesedihan ini, aku harus bisa membangun suasana riang dalam diri, sekalipun dalam duka lara yang luar biasa.

Ya, mendengarkan lagu-lagu yang lebih riang misalnya atau berbuat jahil terhadap orang-orang yang tengah serius bekerja, seperti yang dulu sering aku lakukan terhadap teman-temanku. Pasti hal seperti ini bisa mengikis habis kesedihanku.

Hmm, tapi jahil sama siapa? Kenyataannya kondisiku sekarang memang sedang sendirian, tak ada satupun teman yang bisa aku jadikan sasaran sifat jahilku.

Dalam kebingungan, tiba-tiba seorang teman dengan id ym yang baru saja aku setujui, masuk dan langsung menyapaku dengan nada yang serius. “Hai, lagi sibuk ya? Label kamu apa?”

Sesaat aku tertegun, nih orang belum kenal tapi kok sudah langsung nanya label segala? Kemudian aku jawab dengan nada yang datar, “Andro. Kamu sendiri?”

“Sama, kata teman-teman sih aku andro juga.” Jawabnya tak kalah datarnya

Aku garuk-garuk bingung, sepertinya orang ini lagi malas ngobrol tapi kenapa dia malah nyapa aku duluan, ya? Ah, bodo! Yang penting siang ini aku ada teman ngobrol, daripada larut dalam lagu sedih terus, “Kok kata teman-teman sih? Emang kamu sendiri ngerasanya gimana?”

“Hmm, gimana ya?! Sebetulnya aku sendiri takut menggunakan kata pelabelan ini.” Jawabnya terkesan ragu

Wah! Pucuk dicinta ulampun tiba, nih. Sepertinya aku bisa menemukan topik obrolan yang pas buat melupakan kesedihanku. “Lho, kenapa mesti takut? Takut sama siapa? Emang siapa yang melarang?”

“Ngelarang sih enggak. Cuma males saja ribut sama para feminis yang selalu meneriakan pelabelan ini sebagai budaya patriarkhi.” Jawaban yang penuh dengan ketidak gairahannya ini malah makin membangkitkan rasa penasaranku, dalam memberikan siraman yang menyegarkan kepada teman chat baruku ini.

“Oo… itu toh maksudnya. Cuek aja lagi, yang penting kita kan nggak ngikutin budayanya. Yang ditentang para feminis itu sebetulnya budaya patriarkhinya, dalam artian; pelabelan yang digunakan dengan tujuan untuk merendahkan atau mengagungkan salah satu label saja. Bukan pelabelan seperti yang kita gunakan seperti sekarang ini.” Jelasku mulai menguasai topik yang akan dibahas.

“Maksudnya?”

“Label yang kita gunakan di sini, hanya untuk menggambaran identitas atau kepribadian kita saja, biar topik yang akan kita bahas bisa lebih nyambung. Obrolan butch, andro & femme itu kan beda-beda.” jelasku mulai bersemangat

“Masa sih?”

“Yup! Ini berdasarkan pengalamanku pribadi, ya. Kalau ngobrol sama butch, topik yang dibahas lebih bebas, vulgar, ngocol, pokoknya lebih terbuka dalam segala hal. Sementara kalau ngobrol sama andro, topiknya lebih santai, terbuka tapi tidak terlalu bebas atau vulgar. Nah kalo ngobrol sama femme, topik yang dibahas biasanya lebih lembut, misalnya ngebahas penampilan atau kegiatan sehari-hari.” Sampai di sini aku kebingungan sendiri mau ngomong apa lagi.

“Hahaha, bisa saja kamu. Eh, tapi benar juga denk. Pantas pas chat kemarin aku dicuekin abis sama teman baruku yang ngaku dirinya femme. Hmm, ternyata aku salah ngambil topik kali, ya?!”

Yes! Dia mulai kena umpan asalku.

“Emang waktu itu kamu ngebahas apa?” lanjutku pura-pura serius lagi

“Apa ya? Lupa! Pokoknya obrolan kita nggak pernah nyambung, blas.”

“Hahaha, dulu aku juga pernah ngalamin seperti itu. Chat pertama di tanggapin tapi ogah-ogahan, besoknya status chat dia off terus. Pas ada kesempatan kopi darat, aku tanya kenapa dia kok seperti ngehindarin aku gitu. Tau gak, apa jawabannya?” tanyaku sambil berusaha mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri

“Apa?” tanya teman chatku, seakan menunggu keseriusan jawabanku

“Kata dia, ngobrol sama aku kayak bukan lagi ngobrol sama cewek. Nggak pernah serius alias kebanyakan bercanda. Cyapeee dech!” Kali ini jawabanku benar-benar asal.

“Gitu ya?!”

“Yo’i! Terus aku juga pernah chat sama teman baruku yang ngaku identitasnya seorang pure butch. Gilaaaa, yang dibahasnya bikin aku sport jantung. Aku sempat dibuat bingung, yang aku ajak chat ini cewek apa cowok? Macho abissss.” lanjutku mengungkapkan sebuah pengalaman nyata yang pernah aku alami.

“Jadi, feminis itu sendiri sebetulnya labelnya apa?” pertanyaan yang memerlukan jawaban yang serius ini sejenak membuat aku mengerutkan kening, sebelum akhirnya bisa menjelaskan sesuai dengan yang pernah aku dengar dan aku baca, walaupun sumbernya sudah lupa.

“Ya sama lah seperti kita-kita. Mereka perempuan juga. Cuma kalo berdasarkan pemahamanku yang cetek ini, mereka itu termasuk type perempuan pemberani yang selalu berusaha menegakan keadilan buat kaum perempuan, terutama yang seperti kita-kita ini. Dengan kata lain feminis itu sama dengan aktivis pembela perempuan. Eh, tapi cowok juga bisa lho, di kategorikan sebagai feminis. Cuma bukan dalam artian phisik, mereka yang memperjuangkan keadilan buat perempuan biasanya dikategorikan sebagai aliran feminis juga.”

“Hmm, gitu ya? ngerti aku sekarang. Kamu kok bisa menguasai soal beginian, sih? Emang kamu aktivis juga? Jangan-jangan kamu sebetulnya feminis juga, ya?”

“Aktivis? Feminis? Nggak lah! Mana ada feminis yang men-sahkan identitas pelabelan? Aku cuma berusaha memahami apa yang selalu diributkan teman-teman kalau sudah menyangkut masalah pelabelan. Intinya aku tidak pernah memihak yang pro maupun yang kontra terhadap pelabelan tersebut. Yang penting, aku percaya sama logikaku sendiri. Selama tidak melanggar HAM, why not?” jawabku mulai terkesan tegas dan berprinsip.

“Jadi menurutmu, pelabelan itu nggak masalah, ya?”

“Bagiku pelabelan sah-sah saja, selama kita bisa menempatkan mana yang baik dan mana yang tidak. Seperti halnya dosa, sepintar dan sesuci apapun yang namanya manusia, baik itu ulama, pendeta, bhiksu, maupun para pemuka agama lainnya, tidak ada yang bisa memastikan apakah yang mereka atau kita lakukan sehari-hari itu berdosa apa tidak? Semuanya kembali ke yang di atas.”

“Hahaha, anda betuuuulll! Thank’s ya, atas pencerahannya. Senang bisa chat sama kamu. Mumet di kepalaku jadi mulai berkurang. Kayaknya sekarang aku sudah bisa mulai konsentrasi kerja lagi, nih.”

“Ok. Thank’s juga sudah mau mendengarkan ocehanku yang sama sekali tidak aku jamin kebenaran sumber logikanya, dan tidak pernah tercantum di dalam ayat atau pasal manapun dalam UU Negara kita. Senang juga bisa bahas topik yang nyambung dan menyegarkan sama kamu. Selamat bekerja lagi, ya.”

Pembicaraan kosong di siang hari bolong itupun ditutup dengan gelak tawa kami berdua, yang kembali hanya berupa ketukan kata-kata dan symbol emotion belaka. (Jupiter doc/18Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: