RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Pilihan Hidupku

Posted by jupiter pada Maret 12, 2008

Pilihan Hidupku
Oleh : Jupiter

Malam ini dan seperti malam-malam lainnya. Kembali aku larut dalam penjelajahanku di dunia maya demi sekedar memungut berbagai kata bijak yang sanggup membangkitkan ide menulisku, atau sekedar mengintip hiruk pikuk yang terjadi di ‘jendela tetangga’.

Kegiatan penjelajahan ruang maya ini sudah delapan bulan menjadi rutinitas harianku, disamping menjaga serta melayani segala keperluan harian bunda yang makin hari kondisi kesehatannya makin menurun.

Hari ini. Tidak terasa sudah satu tahun, sejak aku meninggalkan kegiatan rutinku yang selama tiga belas tahun selalu ditenggelamkan dalam berbagai project improvement, demi memajukan perusahaan multinasional milik seorang ‘Yakuza’ yang berkantor pusat di Hiroka-Jepang.

Ah… masa-masa sibuk yang dulu terasa seperti penjara elite itu, ternyata masih menyisakan kerinduan dalam hari-hari santai yang sekarang ini aku jalani. Teriakan-teriakan kasar namun tegas dari para ‘Yakuza’ yang merasa tidak puas dengan project yang sedang aku kerjakan, masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telingaku.

Begitu juga dengan segala pujian spontan yang disertai limpahan bonus berupa kenaikan jabatan, atau berbagai kesempatan untuk menikmati fasilitas hiburan yang mereka hadiahkan. Yang selanjutnya selalu sanggup melambungkan semangat kerjaku, untuk bisa terus bersaing dengan rekan kerja yang sebagian besar adalah para pria yang sok berkuasa.

Dikala penat menyapa. Terkadang aku merasa telah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan, yang telah mencampakan pekerjaan yang sangat menjanjikan serta meninggalkan pergaulan dengan sahabat-sahabat lamaku yang sampai saat ini masih setia memantau perkembangan hidupku.

Namun begitu melihat kondisi kesehatan bunda yang sudah semakin mengkhawatirkan. Rasa penat itu langsung menguap, berganti dengan rasa syukur, karena masih diberi kesempatan untuk menemani hari tua bunda yang entah tinggal berapa lama lagi bisa aku manjakan.

Kehidupan serta pergaulanku layaknya angin serta air yang menghembus dan mengalir begitu saja. Berbagai masalah seolah tak pernah mengenal kata bosan menampar bahkan mencambuk semangatku, dalam menjalani hari-hari yang kadang berjalan terasa sangat lamban.

Hitam dan putih kehidupan silih berganti mewarnai perjalanan hidupku. Berbagai raut wajah hilir mudik, menyapa dan kemudian meninggalkanku kembali dalam kesendirian.

Sepintas kulirik jam dinding yang ada di kamarku, tak terasa ternyata sudah dini hari. Pantas dari tadi telingaku sudah tidak mendengar lagi, suara gaduh dari tetangga yang sedang mengadakan arisan keluarga.

Setelah hampir lima jam aku tak beranjak dari kursi kerja yang selalu menenggelamkan lamunanku, hingga melupakan segala kebutuhan primer yang selalu aku abaikan. Rasanya otot-otot di pinggang dan juga punggungku sudah terasa kaku semua.

Perlahan aku bangkit untuk sekedar meluruskan pinggang, kutarik lenganku ke kiri dan ke kanan, berharap dengan begitu aliran darahku menjadi lancar kembali. Dari sudut mata, kulihat gelas kopi hitamku sudah minta di isi kembali

Setelah menyalakan sebatang ‘A Mild’ serta mengisi kembali gelas ketiga kopi hitamku. Aku duduk kembali di kursi kerja yang baru aku ganti dua hari yang lalu, karena yang lama sudah terasa tidak nyaman untuk dijadikan sebagai tempat ‘semediku’.

Sambil menikmati kepulan asap rokok serta tegukan kopi hitam yang telah menjadi sahabat-sahabat paling setia, karena selalu menemani malam-malam penjelajahanku. Iseng, aku buka slide demi slide gambar sahabat-sahabat lamaku.

Wajah-wajah itu?

Oh God! Aku benar-benar merindukan kehadiran wajah-wajah itu kembali. Kebersamaan yang dulu begitu hangat dan selalu ceria, mungkinkah bisa aku ulang kembali?

Wajah-wajah yang dulu terlihat sangat polos dan tanpa beban itu, kini telah ditenggelamkan oleh berbagai kesibukan dalam mengurus keluarga kecil mereka masing-masing.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat mendengar keluhan dari beberapa orang dari mereka yang merasa telah terjebak dalam satu lingkaran keluarga baru yang tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Dari curahan hati mereka, aku menjadi tahu. Kalau sebetulnya kehidupan yang sedang mereka jalani sekarang telah merampas segala keceriaan yang dulu selalu mewarnai kebersamaan kami.

Hanya satu sahabatku yang statusnya masih tetap sendiri sepertiku. Namun sekarang ia pun tengah dihadapkan pada satu pilihan hidup yang sangat sulit seperti yang pernah aku alami dulu, ketika terpaksa harus menekan hasrat yang berbeda demi membahagiakan orang tua yang selalu menjunjung tinggi norma-norma agama, serta martabat keluarga di mata masyarakat yang seolah telah menjadi keharusan yang tidak bisa diganggu gugat lagi.

Di tahun yang katanya sudah modern ini, status sosial tetap saja berada pada urutan nomor satu. Seorang perempuan akan dianggap tidak laku, kalau sampai usia lewat dari 25 tahun belum juga melepaskan masa lajangnya.

Bahkan mirisnya lagi, menurut sebagian orang yang mengatas namakan dirinya sesepuh yang sangat mengerti serta memahami nilai-nilai agama. Perempuan seperti aku ini, dianggap telah menyalahi kodrat sebagai wanita yang seharusnya sudah berumah tangga dan menghadirkan tangisan seorang cucu buat mereka.

Aku memang bukan ahli agama, bahkan mungkin aku termasuk orang yang sangat awam dalam mendalami nilai-nilai yang diajarkan oleh keyakinan yang sejak kecil telah melekat dalam diri dan telah diturunkan oleh kedua orang tuaku.

Namun sebodoh dan sebebal-bebalnya aku, kebahagiaan orang tua masih berada pada urutan nomor satu dibanding kebahagiaanku sendiri.

Aku memang tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada mereka dalam bentuk seperti yang diharuskan oleh agama, dengan menghadirkan sesosok menantu serta tangisan cucu buat mereka.

Tapi aku tahu bagaimana caranya menjaga perasaan serta memenuhi kebutuhan mereka di hari tua, yang tidak pernah bisa di berikan oleh anak-anaknya yang sudah berkeluarga.

Ah… ini mungkin terdengar seperti ocehan pembelaan pada ketidak sempurnaanku sebagai perempuan semata. Tapi saat ini, aku sudah tidak perduli pada tanggapan maupun gunjingan para tetangga, kerabat dan orang-orang dekat yang selalu mempermasalahkan status kesendirianku.

Bagiku yang terpenting sekarang ini adalah bagaimana caranya melimpahkan kebahagiaan serta menjaga kesehatan bunda yang sudah semakin renta. Dan bagaimana caranya agar masa tuaku kelak tidak menyusahkan mereka.

Inilah pilihan hidupku, menjadi perempuan yang tidak menjadi beban bagi siapapun. (Jupiter doc/13Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: