RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Masa Depan Yang Mulai Usang

Posted by jupiter pada Maret 11, 2008

Masa Depan Yang Mulai Usang
Oleh : Jupiter

Aku tersenyum malas, ‘berdecak’ kecil, ketika seorang sales door to door menawarkan produk rumah tangga dengan setengah memaksa. Kukatakan kalau aku belum membutuhkan barang yang ditawarkannya tersebut.

Sales bertubuh sedikit tambun dengan kemeja putih yang sudah mulai berubah warna, karena sudah terlalu banyak debu yang menyerap di antara rembesan peluh yang terlihat mengucur deras itu, ternyata tidak begitu saja menyerah.

Dikeluarkannya lagi beberapa buah produk lain yang ada di dalam tas dora emon-nya; mulai dari alat pengusir tikus electric, coffee maker, egg steamer, juice maker, infrared massage hammer dan lain-lain.

Aku hanya tersenyum sambil tetap menggelengkan kepala, air mukaku sudah mulai enggan melayani penawarannya yang tidak kenal menyerah itu.

Sebetulnya bisa saja aku mengusirnya dengan kasar, kegigihannya itu sudah mulai mengganggu privacy ku. Tapi entah mengapa tindakan kasar itu tidak pernah bisa aku lakukan terhadap orang-orang yang berjiwa pantang menyerah seperti dia.

Rasa iba karena melihat kesabarannya yang meskipun selalu mendapat penolakan, namun ia tetap bisa memamerkan senyum ‘tulus’nya yang selalu berhasil mengalahkan keangkuhanku.

Apalagi ketika melihat bunda mulai tertarik dengan demo infrared massage hammer yang diperagakan pada kedua kakinya. Setelah mengalami stroke untuk yang kedua kalinya, kondisi kaki bunda memang sudah mulai sulit untuk digerakan.

Bunda melirik ke arahku, seolah memohon untuk dibelikan produk yang dianggapnya ajaib tersebut. Aku mulai garuk-garuk kepala tidak gatal begitu melihat tatapan permohonan dari bunda. Ini merupakan kelemahanku yang paling telak, aku tidak pernah tega untuk menolak keinginan orang-orang yang sangat special dalam hidupku.

Disaat aku tengah menimbang-nimbang untuk membeli produk yang sudah memikat hati bunda itu, tiba-tiba ponselku bernyanyi.

“Ya sayang… sorry tadi keputus, baterenya low.” Jawabku sambil tetap memerhatikan ekspresi wajah sales yang sedang memperagakan dengan telaten produk unggulannya di kedua kaki bunda.

“Bunda lagi jadi kelinci percobaannya mas-mas yang nawarin alat pijat modern, nih!” jawabku lagi ketika dia menanyakan keadaan bunda. Kemudian ketika aku menyebutkan satu persatu produk yang ditawarkan oleh sales ‘bebal’ itu, tiba-tiba dia menjerit kegirangan.

“Wow…! Juice maker yang kayak di iklanin ama Ulfa itu, kan? Mau dong, yang! Aku udah seminggu ini nyari barang itu, tapi di mall sini belum ada.”

Ups! Kepalaku tiba-tiba jadi bertambah gatal. Nambah lagi,neh! Pikirku sambil melihat-lihat barang yang dimaksud olehnya. Sepertinya kali ini kegigihan sales bertubuh tambun itu tidak akan menjadi sia-sia. Infrared massage hammer dan juice makernya sudah mendapat respon yang positif dari dua orang yang sangat special di hatiku.

“Hmm… iya-iya, ntar aku tanya-tanya dulu, ya! Kalo cocok seperti yang lagi kamu cari. Pasti aku ambil, deh!” kataku meng’aminkan permohonannya. Selintas kulihat air muka si sales berubah cerah ketika berhasil mencuri dengar percakapan kami.

Setelah aku menyudahi pembicaraan di ponsel. Tanpa diminta sales yang sudah merasa mendapatkan mangsanya itu, langsung menjelaskan secara rinci kegunaan serta kelebihan juice maker yang dimaksud oleh kekasihku tadi. Bahkan dengan semangat ’45’ dia langsung memperagakan cara penggunaannya.

Aku hanya manggut-manggut, melihat kelincahan gerakannya yang pada akhirnya berhasil mengurangi beban di tas dora emon-nya itu.

***

Pada kesempatan yang lain, adik perempuanku yang tinggal di luar kota datang mengunjungi bunda. Seperti biasa, kunjungannya yang sudah tidak bisa diperkirakan lagi dalam hitungan bulan, karena kesibukan suaminya yang selalu di tugaskan ke luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama itu, memintaku untuk menemaninya berbelanja pakaian untuk kedua anaknya yang masih balita.

Awalnya aku memang hanya sekedar menemani dia berbelanja, tapi ketika melihat beberapa potong pakaian yang menurutku cocok apabila dikenakan oleh kekasih serta buah hati kami.

Aku langsung tertarik dan mengambil beberapa potong. Lumayan buat nambahin perlengkapan untuk menyambut kedatangannya kelak. Pikirku riang, membayangkan masa-masa yang selalu kunantikan itu tiba.

“Untuk siapa, kak?” tanya adikku heran, melihat beberapa potong pakaian yang aku pilih yang dilihatnya sama sekali tidak sesuai dengan ukuran tubuhku maupun ukuran tubuh anak-anaknya.

“Titipan teman, tadi dia nelpon minta tolong dibelikan dulu kalau ada yang bagus.” Jawabku asal. Adikku hanya mengangguk sambil menggumam tidak jelas. Aku yakin, sebetulnya dia pasti sudah bisa menebak kebohongan pada jawaban asalku tadi.

Sebodo, ah! Pikirku, tak perduli pada mimik muka bingung serta kalimat tak jelas yang keluar dari gumaman adik bungsuku itu.

Kini, barang-barang yang dengan sengaja telah aku kumpulkan untuk menyambut kedatangannya masih mengisi satu lorong di dalam lemari pakaianku. Namun hari yang aku tunggu itu sepertinya sudah tidak mungkin lagi akan menghampiriku.

Dari pantulan cermin di lemari, aku menangkap segaris sembilu keluar dari sorot mata sayuku. Harapan itu sudah berlalu. Telah menguap diredam heningnya sang waktu.

Aku merintih. Aku mengeluh. Aku cair bersama sisa es krim dalam mangkuk kecil yang masih terhampar di telapak tanganku, ketika kata-kata terakhirnya kembali terngiang di telingaku;

“Biarkan semua berjalan seperti ini, apa adanya. Hidupmu adalah milikmu, dan hidupku akan kujalani sendiri.”

Dari sini aku menjadi tahu, itu artinya aku dan dia sudah berakhir. Berakhir untuk selamanya.

Setelah semua yang dilewati, sepertinya dia sama sekali sudah tidak lagi mengharapkan hubungan kami terjalin lagi dalam bentuk apapun. Seperti debu yang tertiup oleh angin, musnah begitu saja. Dan aku sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa untuk sekedar memperbaiki keadaan, selain merelakan kepergiannya.

Aku menyandarkan tubuh yang mulai terasa berat pada pintu lemari. Sampai hari gelap aku belum beranjak dan masih menatap bingung pada tumpukan barang-barang ‘masa depan’ yang sudah mulai usang tersebut. (Jupiter doc/12Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: