RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Kebahagiaan Semu

Posted by jupiter pada Maret 11, 2008

Kebahagiaan Semu
Oleh : Jupiter

Jam sudah menunjukan pukul 20.00 wib, ketika dering ponselku menjerit entah untuk yang keberapa puluh kalinya pada malam yang tiba-tiba sibuk ini.

“Kalian mampir kemana dulu, sih? Kok gak nyampe-nyampe? Satu jam lagi acara mau di mulai, neh!” sembur Indah dengan nada suara yang mulai menyiratkan kekuatiran.

“Yup! Tenang saja, setengah jam lagi kita pasti nyampe. Yang lain sudah meluncur duluan. Gw lagi nunggu si Rika di pintu tol. Barusan dia ngabarin, katanya sepuluh menit lagi sudah mau keluar tol.” Jawabku sambil melirik jarum panjang di tanganku yang malam ini terasa berputar lebih cepat dari biasanya.

“Ya sudah, cepetan! Awas lho, gak boleh sampe telat!” sembur Indah sambil mematikan sambungan ponselnya dengan kasar, tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk mencari alasan lagi.

Hmm… gak berubah! Sahabatku yang satu ini dari dulu memang terkenal paling anti pada budaya jam karet yang sudah terlanjur mengakar serta beranak pinak, dalam budaya teman-temannya yang selalu menyikapi setiap acara pertemuan kami dengan santai.

Tepat sepuluh menit kemudian, setelah bus dari luar kota yang membawa sahabatku Rika tiba, aku langsung memberikan perintah kepada sopir taksi untuk segera menancap gas. Taksi yang membawa kami pun langsung meluncur ke tempat manggung Indah and the band yang terletak di jantung kota Bandung.

Jam 20.55 wib, kami tiba di lokasi. Sebuah kafe yang merupakan tempat nongkrong anak muda yang sangat nyaman, dengan suasana romantis yang disertai beberapa suguhan live music yang pada malam ini akan dibawakan oleh sahabat-sahabat lamaku sendiri.

Ah… moment yang sudah satu tahun ini selalu aku rindukan. Bertemu kembali dengan sahabat-sahabat terbaikku yang selalu setia dan sangat kompak, dalam memberikan dukungan kepada setiap sahabat yang tengah mendapat berbagai ujian kehidupan.

Tanpa sempat memerhatikan beberapa pasangan yang sempat membangkitkan radar istimewaku, dengan bergegas aku dan Rika langsung masuk ke dalam kafe. Begitu melewati pintu kafe, suasana romantis langsung terasa, terlebih ketika suara lembut Indah yang membawakan lagu My Heart Will Go On nya Celine Dion menyapa kedatangan kami.

“Waduh! Kita telat, neh. Indah pasti ngambek lagi.” Kataku sambil mencolek lengan Rika yang hanya mengangkat bahu, menanggapi suara penyesalanku tersebut.

“Wuiz, keren banget ya si Indah. Gile! makin cantik aja tuh, bocah!” Ujar Rika sambil sibuk melambaikan tangan kepada sahabat-sahabat kami yang sudah datang lebih dulu, ia sama sekali tidak menghiraukan sorot tajam yang terpancar dari tatapan mata Indah, begitu melihat kehadiran kami.

Aku yang melihat tatapan kecewa dari mata lentik Indah langsung menepiskan genggaman tangan Rika, kemudian menangkupkan sepuluh jemari tanganku di depan dada sambil sedikit membungkukan badan, sebagai isyarat permintaan maafku atas keterlambatan kedatangan kami.

Selintas kulihat Indah mencibirkan bibir di sela jeda lagu yang tengah di senandungkannya. Selanjutnya ia melemparkan senyum manisnya kepadaku sambil memberikan isyarat dengan kerlingan matanya, ke arah sofa yang terletak tepat di bagian depan sebelah kiri panggung.

Begitu melihat isyarat dari Indah, aku langsung menarik lengan Rika yang masih sibuk menyapa sahabat-sahabat kami yang lainnya. Kemudian kami berjalan setengah membungkuk ke arah sebuah meja yang sudah di pasang ‘reserved by Indah CS’.

Dalam kilatan lampu serta ingar-bingar gebukan drum, lengkingan gitar elektrik ditambah lantunan I Wil Survive yang selanjutnya dibawakan dengan sangat manis oleh si cantik Indah, suasana riuh langsung terasa. Beberapa pengunjung kafe terlihat mulai menggoyang-goyangkan tubuh, kepala serta kaki mereka mengikuti beat-beat lagu yang mulai terasa makin menghangatkan suasana.

Sesekali aku merapatkan tubuh juga telinga ketika Rika mengajakku bicara. Mataku menatap kagum pada penampilan panggung Indah yang semakin terlihat Profesional itu. Padahal baru dua tahun yang lalu ia mulai memutuskan untuk lebih serius berkecimpung dalam dunia hiburan yang sejak setahun yang lalu justru sudah aku tinggalkan. Hmmm, cepat sekali waktu berlalu. Gumamku ditengah lamunan.

Beberapa saat kemudian, Rika menarik tanganku untuk ikut turun dan bergabung dengan beberapa sahabat serta pengunjung kafe yang sudah menghentakan kaki, meliukan tubuh serta mengangkat tangan mereka di depan panggung.

“Woy… ayo cepetan turun! Ngapain ke sini kalau cuma mau duduk-duduk bengong doang. Kasihan si Indah tuh, udah teriak-teriak gitu, masih di cuekin juga!” seru Rika sambil berdiri dan mulai meliukan tubuhnya di depanku.

“Kagak ah! gw lagi gak enak body. Lo aja duluan, gih! Ntar gw nyusul, deh.” Elakku sambil menepis halus genggaman tangan Rika.

“Beneran, ya! Awas lho, kalo ntar gak ikutan turun!” ancam Rika sambil cemberut, kemudian meninggalkan aku yang selanjutnya terduduk sendirian di sudut sofa.

Semakin malam, suasana makin hingar. Lampu spootlight seperti kilat menyambar-nyambar. Musik yang berdentam keras seakan menghantam dada. Jantungku seperti meloncat. Telingaku mendadak tuli. Namun aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk bergabung dan berjingkrak-jingrak bersama Rika serta sahabat-sahabatku yang lain. Aku tetap duduk di sudut sofa ditemani kepulan ‘A Mild’ serta beberapa tegukan bir beralkohol rendah.

Melihat kepiawaian manggung Indah dalam memberikan suguhan musiknya, fantasiku seketika bermain. Aku membayangkan sosok yang lain menggantikan keceriaan yang tengah ditampilkan oleh Indah. Mataku tiba-tiba terasa perih.

Bukan! Bukan karena asap tembakau yang sudah memenuhi seluruh penjuru kafe. Rasa perih ini bukan hanya menyerang mataku saja, tetapi meresap ke dalam satu ruang yang telah kembali kosong di sudut hatiku.

Dalam keramaian, entah mengapa aku merasa sendiri. Pandanganku menatap kosong ke arah sahabat-sahabatku yang sudah larut dalam hentakan musik yang disuguhkan oleh Indah and the band. Ingatanku melayang pada kenangan yang kembali tergambar dengan sangat jelas, ibarat menonton cukilan-cukilan adegan.

Ternyata pada saat yang seharusnya bahagia inipun, aku belum bisa menepis kenangan serta harapan untuk bisa kembali melewatkan hari-hari bersamanya.

Sehabat, saudara bahkan bundaku sendiri, mungkin berpikir kalau aku termasuk sosok perempuan langka yang sangat kuat dan tegar. Seperti batu karang yang tidak pernah bergeming walau dihantam ribuan gelombang pasang.

Tapi kenyataannya tidak demikian, aku tak lebih dari perempuan yang selalu membungkus air mata dengan senyuman. Senyum yang selalu sanggup mengaburkan telaga yang menggenang di kedua sudut mata, yang setiap malam menjelang selalu menetes menjadi gerimis yang sangat perih dan menyesakan.

Seperti yang terjadi di acara reuni sahabat-sahabat lamaku ini. Bayangan dirinya malah makin membesar. Entah sampai kapan aku sanggup menepis semua harapan yang sebetulnya sudah tidak mungkin terulang kembali itu. (Jupiter doc/11Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: