RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Menyibak Tabir Peristiwa

Posted by jupiter pada Maret 5, 2008

Menyibak Tabir Peristiwa
Oleh : Jupiter

Dengarlah kisahku sahabat, dengarkan!

Kemarin malam aku sendirian di dunia ini. Dalam sendiri aku merasakan kesepian yang sangat mencekam, hanya seringai setan serta tiupan angin kencang yang menemani malam sunyiku.

Dalam hening, bibirku tak mampu kugerakkan, kelopak mataku tak mampu kupejamkan, sepuluh jemari tanganku tertekuk kaku.

Taring-taring malam yang sangat kelam menggigit leher dan memutuskan pita suaraku. Cakar-cakar tajamnya merobek kedua kelopak mataku. Hembusan nafas dinginnya membekukan ruas-ruas jemari tanganku.

Tubuhku tak berdaya melawan kebengisan sang penguasa malam yang mengusung hawa kematian. Aku terkapar di atas selembar papan berpaku. Terluka dan bersimbah darah.

Sementara di bawah siraman cahaya pucat sang ratu malam, puluhan kurcaci menari dan melagukan nyanyian kemenangan raja dan ratu mereka. Para kurcaci itu bersorak gembira menyaksikan proses kekalahan jiwaku, yang setahap demi setahap mulai ditinggalkan oleh kesabaran serta ketegaran atas penderitaanku.

Tatapan mataku nanar, menatap satu demi satu kurcaci yang menari dan menyanyikan lagu kematian sambil mengelilingi ringkihnya tubuhku. Bibir pucatku bergetar hebat, menahan ngilu yang mulai meresap ke seluruh sendi tulang yang menjadi penyangga tubuhku. Aku menjerit kencang, namun pita suaraku sudah terbakar.

Dalam keputusasaan, tiba-tiba seberkas cahaya putih menyambar tubuhku. Seketika pandanganku menjadi gelap.

***

Pagi harinya, senandung keceriaan yang dilantunkan oleh seorang peri menuntun kelopak mataku untuk terbuka sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya pupil mataku dapat melihat dengan jelas sosok cantik yang ada di hadapanku.

Senyum hangat mengembang dari bibir merah delima sang peri, begitu melihat aku telah kembali siuman. Senandungnya terhenti.

Dengan penuh kelembutan, lidah halusnya mulai menyapu sisa-sisa aliran hangat di kedua sudut mataku. Kemudian menjalar ke kedua pipi, hidung dan menyergap serta melumat rakus bibir pucatku.

Seketika nafasku memburu, jantungku berdegup kencang, jemari tanganku tak lagi tinggal diam. Sampai akhirnya kami terhempas secara bersamaan dengan senyum mengembang, senyum kepuasan setelah mereguk manisnya nirwana yang disuguhkan oleh sang peri pagi.

***

Siang harinya, sekelompok penyihir berjubah hitam dengan berkendara sapu terbang, datang menjemput peri pagiku.

Periku enggan untuk pulang, namun sorot mata bengis ratu penyihir memberikan perintah kepada para pengikutnya untuk merengut paksa tubuh sang peri dari dekapan eratku. Kedua pergelangan tanganku di tarik kemudian dipelintir kebelakang, oleh beberapa penyihir yang bertubuh besar dengan raut muka yang sangat menyeramkan.

Aku meronta dan mencoba untuk melepaskan diri, ketika melihat dua penyihir menyeret paksa dan membawa terbang peri pagiku. Kedua tangannya menggapai, meminta pertolongan. Jeritan histerisnya memanggil-manggil namaku, seolah dengan begitu dia bisa terlepas dari cengkraman para penyihir kejam tersebut.

Beberapa saat kemudian, periku dibawa terbang melayang, menjauh, sebelum akhirnya menghilang di balik gumpalan awan hitam.

Dengan geram aku menatap tajam para penyihir yang masih tertinggal. Seringai kejam mereka memamerkan taring runcingnya.

Aku tak gentar, sekuat tenaga kucoba untuk melawan dan melepaskan diri dari cengkraman cakar-cakar mereka. Namun cengkraman para penyihir malah semakin kuat, aku diangkat kemudian dibawa terbang setinggi atap. Selanjutnya secara tiba-tiba, mereka langsung melepaskan cengkramannya.

BUK!! Tubuhku jatuh menghempas lantai. Untuk kedua kalinya, aku kembali kehilangan kesadaran.

***

Sore harinya, partikel-partikel air laut yang menyusup melalui jendela kamar yang masih terbuka, memaksa aku untuk kembali membuka mata.

Seketika bias matahari yang menghantarkan spektrum warna warni cahaya tertangkap oleh retina mataku. Dari balik jendela, aku melihat sesosok bidadari berjalan gemulai di atas permadani cakrawala senja yang menjuntai di pundak jendela.

Antara sadar dan tidak, aku bangkit kemudian terduduk diam dan terpaku menatap keindahan yang terpancar di depan mata.

Sampai akhirnya jemari lembut sang bidadari mengajakku untuk berdiri, kemudian membimbingku untuk menari dan melantunkan beberapa buah sajak kehidupan yang menyiratkan kerinduan langit kepada bumi.

Dengan bermandikan cahaya pelangi, kami menari dan menyanyikan nada-nada langit dan bumi dengan riang. Ketika pada akhirnya lelah menghampiri, bidadari menawarkan segelas anggur senja yang disembunyikannya di balik pelangi.

Sesaat sebelum aku sempat mereguk nikmatnya anggur senja tersebut, tiba-tiba gelas yang sudah berada di dalam kepalan tanganku bergetar hebat. Kulihat wajah bidadari seketika memucat.

Gelas senja di tanganku pecah, meninggalkan luka yang mengucurkan darah segar yang bercampur percikan anggur senja.

Bersamaan dengan itu, gema suara adzan menyusup dan menghisap ludah kata-kata yang keluar dari mulut manis sang bidadari. Selanjutnya gumpalan kabut hitam menggulung dan melumat tubuh indahnya. Bidadari senja menghilang tanpa sempat mengucapkan sajak perpisahan.

Ketika kesadaran kembali menyapa jiwa, keheningan kembali merajai hatiku.

***

Demikianlah beberapa kisah yang menyapa perjalanan sehariku, sahabat.

Beberapa ruh peristiwa yang datang dan kemudian menghilang, pada akhirnya hanya sanggup menyisakan kabut tebal serta asap hitam yang diakibatkan oleh belukar liar yang terbakar di dalam dada.

Segala kisah yang menyapa, bagaikan lidah hari yang lewat dan mengajariku untuk memasuki tasbih mata langit, serta dzikir bumi yang menyingkap tabir rahasia keabadian. Semoga sayapku tidak menjadi lumpuh karena selalu didera sajak kehampaan. (Jupiter doc/05Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: