RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Berawal dari diri sendiri

Posted by jupiter pada Maret 4, 2008

Berawal dari diri sendiri
Oleh : Jupiter

Kehidupanmu, saudariku, dibaluti oleh kesunyian, dan jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya kiranya aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang sedang memandang cermin. (dari ‘Suara Sang Guru’- Khalil Gibran)

Laksana pelangi, hidupku selalu dikelillingi beragam warna. Terkadang gelap, terkadang terang. Hembusan sang bayu seolah tak pernah lelah meniupkan berbagai aroma rasa tuk melengkapi kekayaan bathinku. Hatiku kadang dibuatnya melayang dan melambung tinggi ke negeri sejuta peri. Namun tak jarang hembusannya tiba-tiba menarik paksa, kemudian menjatuhkanku ke dasar lembah yang sangat seram dan tak bertuan.

Dua purnama yang lalu, kebahagiaanku telah direngut paksa oleh cengkraman setan-setan ego. Langkahku dibuatnya timpang, asaku kehilangan sayap lebarnya. Tubuhku menjadi lumpuh hingga tak sanggup lagi untuk terbang. Jiwaku terperosok ke dalam sebuah gua yang sangat gelap dan lembab, sama sekali tidak tersentuh cahaya. Hanya rembesan air hitam dari dinding gua yang bisa membuat aku sanggup untuk bertahan hidup.

Hingga pada suatu hari, tepatnya di hari kasih sayang yang selalu diperdebatkan oleh sebagian teman, karena dianggap merupakan budaya jiplakan dari negeri peri berambut pirang. Tiba-tiba seorang pangeran datang menghampiri dan berdiri dengan gagahnya di mulut gua yang menjadi persembunyianku.

Aku tercengang, mulutku terbuka lebar menyaksikan aura yang dipancarkannya. Tatapan matanya begitu teduh dan bersahaja, pembawaannya yang gagah dan sangat berwibawa menambah kilau pesona yang dipancarkannya.

Beberapa detik kemudian, kedua tangan gagahnya mencoba menyentuh satu ruang kosong di jiwaku. Begitu lembut, begitu melenakan. Tanpa sadar mataku terpejam sangat rapat, tubuhku menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan. Kucoba meresapi makna dari sentuhan tersebut.

Hambar!!! Hatiku sama sekali tak tergerak, suhu di sekujur tubuhku tetap dingin. Sama sekali tidak ada perubahan, jiwaku tetap terdampar dalam jurang kehampaan. Selanjutnya usapan lembut jemari sang pangeran terasa mulai berubah kaku.

Penasaran, perlahan kucoba membuka kelopak mata untuk melihat apa yang terjadi.

Ups!! Ternyata sekujur tubuh sang pangeran telah tertutup oleh butiran salju. Tatapan mata teduhnya telah berubah menjadi tatapan dingin dan mengerikan, senyum hangatnya berganti dengan seringai keputusasaan. Sekujur tubuhnya menggigil menahan hawa dingin yang dengan cepat menyusup ke dalam aliran darahnya. Sekejap kemudian, seberkas cahaya hitam berkelebat dan menyambar tubuh gagah sang pangeran.

Mulutku masih menganga, kedua kelopak mataku masih terpana pada keajaiban yang secepat kilat telah terengut kembali dari gundahnya rasaku, ketika tiba-tiba gendang pendengaranku mendengar suara ghaib menggema di seluruh dinding gua;

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan daripada berjalan bersama orang ‘yang tersedia’. Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai daripada orang yang berada di sekelilingmu. Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang hanya dengan ‘seseorang’ yang mampir hanya untuk semalam.”

Sejenak aku terdiam, mencoba meresapi makna dari suara ghaib tersebut. Kusandarkan tubuhku pada dinding lembab gua, seketika rembesan deras air-nya membasahi sekujur tubuhku. Dalam diam, aku kuyup, namun kali ini tubuhku sudah menjadi kebal dari rasa dingin. Seluruh pakaianku basah, namun aliran darahku mulai menghangat. Satu rasa nyaman yang telah lama menghilang perlahan mulai menyusup lembut dan memenuhi setiap ruang kosong di dalam jiwaku.

Ah… pada akhirnya aku mulai bisa beradaptasi dengan sunyi dan menjadi mampu meresapi nikmatnya arti sendiri. Kuraba katup di jantung hatiku, denyutnya sudah tidak sekerap waktu pertama aku terperosok ke dalam gua. Hembusan nafasku tak lagi memburu. Aliran darahku yang dulu selalu berubah panas dan dingin tak beraturan, kini telah menghangat. Semediku telah mulai membuahkan hasil, kestabilan emosi dalam diri menjadi lebih terkendali.

Jangan kau menekuk sayap yang bisa melewati pintu ataupun menundukkan kepala yang tidak membentur langit-langit, ataupun ketakutan bila nafasmu dapat meretakkan dinding. Jangan kau hidup dalam nisan yang dibuat oleh orang mati untuk yang hidup.”

Suara ghaib itu kembali memenuhi seluruh penjuru gua, menggema di setiap dinding kemudian meresap jauh ke dalam satu ruang di hatiku yang masih temaram. Ku tarik nafas dalam, kubalikan tubuh kemudian kubasuh lusuhnya wajahku dengan rembesan air dari dinding gua yang ternyata telah berubah bening dan tidak sedingin dulu.

Seberkas cahaya tiba-tiba masuk dari sela-sela atap gua dan jatuh tepat pada dinding gua di depan wajahku. Laksana cermin, beningnya air yang merembes di dinding gua seketika memantulkan raut wajah yang tergambar dengan sempurna. Meski tak secantik bidadari dan tak segagah pangeran tadi, wajahku terlihat begitu bercahaya. Mendung tak lagi menggayuti kelopak mataku, senyum itu? Benarkah itu senyumku? Senyum itu terlihat begitu tulus dan tanpa beban.

Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan, sampai kamu mampu melupakan kegagalan dan rasa sakit hati.”

Bisikan ghaib itu bagaikan suara seorang penyiar stasiun radio yang berasal dari negeri yang sangat jauh. Suaranya begitu jernih dan merdu, barisan kalimat bijak yang disampaikannya syarat dengan muatan pencerahan yang sanggup mendamaikan gundahnya hatiku.

Dalam sendiri, aku merasa ditemani. Bisikan-bisikan suara ghaib serta pantulan wajah di dinding gua, telah mampu menghadirkan satu rasa yang telah lama hilang. Rasa yang menghadirkan gemuruh di dalam dada, mengerapkan laju detak jantung dan menghadirkan rona merah di kedua pipiku.

Ya! Aku telah jatuh cinta pada mereka.

Jatuh cinta pada suara ghaib yang sebetulnya berasal dari lubuk hatiku sendiri. Jatuh Cinta pada raut ketenangan yang terpancar dari wajahku sendiri.

Setelah ribuan badai menghantam dan melumpuhkan badan. Cinta yang selama ini hilang, telah kembali pulang ke dalam rumah hatiku. Cinta yang sangat tulus yang telah menghadirkan kembali nada-nada kegemaran, serta menebarkan rasa damai ke seluruh penjuru di dalam ruang hatiku yang dulu selalu sunyi.

Inilah awal dari perjalanan hidupku yang kedua, awal yang begitu sempurna. Kulanjutkan perjalananku dengan berbekal rasa cintaku pada diri sendiri. (Jupiter doc/04Mar08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: