RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Kulabuhkan asaku pada ilalang

Posted by jupiter pada Maret 1, 2008

Kulabuhkan asaku pada ilalang
Oleh : Jupiter
Malam beranjak pergi. Gemerlap cahaya bintang yang menghiasai hamparan langit kelam, beberapa jam yang lalu telah memudar. Ribuan kelompok kunang-kunang yang tak pernah terkalahkan oleh teknologi paling maju buatan manusia pun, telah kembali pulang ke sarang mereka yang entah berada di mana.

Aku masih berdiri di mulut gua dengan menggengam erat sebuah asa yang telah dititipkan oleh sang dewi malam, ketika pori-pori pada lapisan luar kulit tubuhku mulai merasakan kehadiran sinar mentari pagi yang kembali menghangatkan seluruh permukaan bumi. Pandanganku menatap takjub pada keindahan suasana padang savana, yang dipenuhi oleh rumput ilalang dan bunga-bunga liar berwarna kuning yang sudah mulai mengering dan siap untuk diterbangkan oleh semilir angin pagi.

Ah… seandainya masih mungkin. Akan kupetik ilalang-ilalang ini untuk kumasukkan ke dalam vas yang berada di pojok kamar, lalu kubiarkan bunga-bunga keringnya itu berguguran dengan sendirinya, sehingga memenuhi seluruh lantai dan dinding kamar. Namun semua itu sudah tak mungkin lagi bisa aku lakukan, karena aku tak pernah mempunyai kemampuan untuk mengalahkan tiupan kencang yang dihembuskan oleh sang dewa angin.

Bara di tungku hatiku memang telah lama redup, namun perubahan suhu yang tiba-tiba ini, telah membekukan sebagian besar sel-sel aktif yang ada di dalam pikiranku. Mata hatiku sudah tidak mampu lagi melihat keindahan bola-bola kristal yang selalu meluncur turun dan mengaburkan pikiran kreatifku.

Aku masih ingat pada suatu senja berkabut, ketika aku tengah menyusuri jalan setapak di kaki bukit yang sangat terjal. Dalam kegamangan langkah kakiku, seorang bidadari tiba-tiba datang menghampiriku dengan senyum mengembang serta kedua tangan yang terbentang lebar. Tangan kanannya menggenggam seikat ilalang yang nampak sangat biasa dan tidak berbau, sementara tangan kirinya mengulurkan seikat mawar merah berduri yang sangat indah serta menebarkan aroma yang sangat wangi.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari dan menyambar mawar merah yang indah tersebut tanpa menghiraukan seikat ilalang yang sama sekali tidak terlihat menarik itu. Kucium aroma wanginya dalam-dalam sampai kemudian membuat aku mabuk kepayang. Waktu itu sama sekali tak kurasakan perihnya luka memanjang yang diakibatkan oleh goresan duri-duri yang membalut keindahan mawar tersebut.

Pada saat luka itu mulai meradang, seluruh syaraf di hati dan pikiranku mulai berontak sehingga mengaburkan kekebalan tubuhku. Seketika rasa perihnya menjadi tidak tertahankan. Tanpa sadar, telapak kakiku menginjak bongkahan batu licin di pinggiran tebing. Aku kehilangan keseimbangan. Kakiku tergelincir, tubuhku menggelinding ke dasar jurang yang sangat curam.

Dengan meringis, sekuat tenaga aku mencoba untuk bangkit, sekujur tubuhku penuh dengan goresan luka akibat terbentur dinding tebing. Beberapa duri tajam dari mawar merah indah tadi, kulihat menancap tepat di atas luka lama yang masih tersisa.

GOD!!! Luka itu telah kembali terkoyak lebar dengan aliran darah yang lebih deras dari yang pernah terjadi. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus segera mengembalikan bunga mawar yang melenakan ini kepada pemiliknya. Karena kalau tidak, aku bisa mati secara perlahan akibat kehabisan cairan merah penopang kehidupan.

Kini, setelah hampir dua purnama berlalu. Bunga mawar yang telah kutinggalkan jauh di belakang masih menebarkan aroma wanginya yang belum bisa hilang sempurna dari tajamnya indra penciumanku. Namun aku tidak boleh larut lagi, segumpal asa yang dititipkan oleh sang dewi malam akan selalu menemani dan menguatkanku dalam menghapus semua kenangan yang sulit untuk dilupakan.

Seperti halnya dengan ilalang yang selalu terlihat begitu pasrah atas dirinya. Walau sering diinjak dan tidak pernah dihiraukan, bahkan pada akhirnya terbuang dan tercampakan, namun dia tidak pernah menyerah. Ilalang selalu sanggup tumbuh dan berkembang meski di lahan kritis yang penuh dengan bebatuan sekalipun, akarnya selalu menancap kuat di tanah dan bertahan dalam segala cuaca.

Aku memang tidak pernah meminta dilahirkan dalam kesendirian, namun hidupku harus terus berjalan. Jiwaku tak boleh larut lagi dalam ketiadaan serta tercampak dalam keterasingan.

Dalam sisa perjalananku yang tinggal sejengkal ini, aku akan selalu berkaca pada ketegaran ilalang yang meskipun tak terang laksana bintang, tak secantik dan seindah mawar, bahkan tak berbalut wangi selayak melati, namun dia selalu mampu membuat kehidupan yang ada di sekitarnya menjadi lebih berwarna.

Apabila kelak hujan kembali memorak porandakan seluruh alam, yang aku butuhkan hanya beberapa saat berteduh, kemudian melangkah lagi dengan membawa satu keyakinan;

“Apapun yang terjadi dan seandainya langkahku tersesat lagi di padang tandus dengan tanah yang gersang, namun asa dalam diri tak akan pernah mati oleh api dan tak pernah bisa rapuh oleh hujan”.

Selama lantakan emas masih terbit dari timur dan menyala menerangi jagat raya, selama itu pula aku yakin. Bahwa setelah mendung dan hujan membahasa, langit akan kembali terang bercahaya.

Bila saat itu tiba, aku akan berdiri di ujung pelangi untuk menyambut kedatangan bidadari yang tentunya masih menyimpan seikat ilalang yang dulu pernah aku abaikan. Semoga aku bisa bertahan dan jiwaku selalu dikuatkan, agar kelak bisa memadukan asa bersama ketegaran ilalang yang akan selalu kunanti. (Jupiter doc./29Feb08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: