RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Menunggu Balasan

Posted by jupiter pada Februari 10, 2008

Menunggu Balasan
Oleh : Jupiter

Hari masih pagi, ketika permukaan bumi mulai menyerap panas dari sinar matahari yang masih malu-malu menampakan wujud utuhnya. Kristal-kristal es yang terbentuk dari uap air di atas rumput dan dedaunan di halaman belakang rumahpun telah mulai mencair. Satu persatu titik-titik embun itu akhirnya jatuh ke tanah. Menebarkan aroma alam yang menyegarkan indra penciuman yang selalu bersahabat dengan jutaan virus nikotin, yang telah mengendap di dalam system pernafasanku.

Semilir angin yang mulai berubah menjadi hangat, ditambah nyanyian yang disenandungkan oleh ratusan perkutut yang masih menunggu para pemburu kicau merdunya, seolah menjadi teraphy yang sangat ampuh dalam mengusir kabut yang selama ini telah membekukan hati dan pikiranku. Meski belum sempat tertidur, namun pagi ini tubuhku benar-benar merasa segar kembali.

“Indah sekali pagi ini.” Gumamku sambil menghirup dalam-dalam aroma pagi yang entah sudah berapa tahun ini selalu aku abaikan.

Sesaat terlintas kembali satu proses yang telah berlangsung selama beberapa malam, ketika aku terus bertarung melawan ego diri sendiri. Satu proses yang terasa sangat panjang, dimana setan-setan penyebar kebencian selalu bergentayangan dan merasuki pekatnya hati serta pikiranku.

Proses yang memunculkan dua pertanyaan yang terus berputar dan menari di dalam penatnya kepalaku. “Mengapa kami tidak bisa saling memaafkan dan mengapa kami sulit sekali untuk berdamai?”.

Dua pertanyaan yang sangat sulit untuk kutemukan jawabannya, karena menyangkut dua perasaan yang sudah sangat berbeda. Semakin aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaan tersebut, semakin panas kepalaku dibuatnya.

Disaat kesadaran tengah menyapa dan disaat aku sudah bisa mengurai kembali satu persatu permasalahan yang sebetulnya telah terjadi diantara kami. Pada akhirnya aku menemukan beberapa perbedaan yang menjadi sumber dari lingkaran kabut yang selama ini selalu menyelimuti jernihnya pikiran dan hati kami berdua. Mulai dari rasa kecewa yang menjadi pemicu dari segala kekacauan yang telah terjadi, sampai dengan kesalah pahaman yang mengakibatkan kemarahan serta kebencian yang membara di jiwa. Kini, semuanya sudah bisa aku pahami.

Dari segala perbedaan yang mewarnai hubungan jarak jauh kami dan terlepas dari keterlibatan pihak luar yang akhirnya menjadi kambing hitam karena telah memperkeruh keadaan. Rasa pesimis telah melahirkan sisi keangkuhan serta keegoisan di hati dan pikiran kami masing-masing. Yang untuk selanjutnya menghadirkan sikap pasrah dan menyerah di tengah kancah peperangan. Perang melawan ego diri sendiri, perang ingin memenangkan keadaan yang tidak pernah berpihak, yang pada akhirnya kekacauanlah yang berhasil menjadi pemenangnya.

Siang ini, entah sudah berapa puluh kali aku mondar mandir dari kamar tidur ke ruang keluarga, dari ruang keluarga ke kamar tidur lagi. Setiap tiga puluh menit sekali aku mencoba mengintip inbox-ku, berharap menemukan satu email balasan yang sudah tiga hari ini aku tunggu-tunggu. Namun penantian tinggalah penantian, email yang aku tunggu tidak kunjung tiba.

Mungkin saat ini dia benar-benar sudah mengganggap aku tidak ada! Pikirku sambil memutus kembali connection speedy dengan pasrah. Kemudian aku kembali ke ruang keluarga untuk menemami bunda yang tengah asik menghabiskan waktu di depan layar kaca, dengan menonton satu acara yang sebetulnya bukan merupakan acara favorite bunda.

Ups! Ralat! Pada dasarnya bunda memang tidak pernah mempunyai acara favorite apapun di semua saluran televisi. Beliau hanya mengikuti apa yang tengah aku nikmati, yang sebetulnya aku sendiri sama sekali tidak mengerti juga, apa yang sedang aku tonton. Tubuhku memang ada di depan televisi, namun pikiran serta hatiku sama sekali tidak berada di sana.

Ini adalah hari ke tiga puluh, setelah kami berdua sepakat memutuskan untuk saling membebaskan diri. Tenggang waktu tiga minggu yang menjadi masa sulit kami, telah dapat aku lewati. Satu minggu terakhir yang menggenapi satu purnama semenjak perpisahan kami, telah aku awali dengan melayangkan sebuah coretan hasil “semedi”ku setelah berhasil kembali berdamai dengan diri.

Entah apa yang ada dibenaknya saat ini, hatiku merasa gelisah namun aku sudah tidak mempunyai keberanian untuk menduga-duga. Terakhir ketika aku mengandalkan ketajaman perasaanku tersebut, aku menemukan kekecewaan yang sangat menyakitkan, ternyata feeling kami sudah tidak saling terhubung lagi. Apa yang aku rasakan sama sekali sudah tidak sama dengan apa yang dia rasakan.

Semalam, bersamaan dengan datangnya kesadaran diri, setan-setan yang selama ini bergentayangan dan mengobrak-abrik kesabaran diripun akhirnya berserabutan pergi. Berganti dengan satu rasa damai yang sanggup membuka satu ruang pekat yang telah memenjarakan sebaris kata maaf yang selama ini tertutup sangat rapat.

Setelah beberapa malam terus berjuang untuk melawan ego diri sendiri. Pada akhirnya embun beku itu kini telah menyatu kembali dengan bumi, kabut di hati dan pikirankupun telah tersapu kembali oleh hembusan sang bayu. Keindahan pagi tadi seolah menjadi pelengkap damai yang aku rasakan.

Sepahit apapun kenyataan yang telah terjadi dan sekuat apapun aku berusaha untuk menekan serta mengaburkan segala kenangan yang telah terkecap. Pada dasarnya segala rasa indah itu tidak akan pernah benar-benar bisa hilang dan selamanya akan selalu melekat dalam diri.

Rasa cinta mungkin bisa memudar, namun rasa sayang selamanya tidak pernah mengenal batas yang benar-benar jelas. Meski kesadaran selalu datang belakangan, namun sepenuhnya aku yakin; sebaris kata maaf tidak pernah mengenal kata terlambat. Itulah inti dari coretan yang aku layangkan tiga hari yang lalu, yang sampai detik ini belum mendapatkan tanggapan apapun dari dia yang aku tunggu.

Pohon memang tidak menahannya untuk tinggal, namun angin topan itu sudah terlanjur membawa terbang daun yang memang sudah enggan untuk sekedar menerima uluran permintaan maafku. Meski begitu, “bintang jatuh” yang tidak pernah benar-benar bisa pergi ini, sampai kapanpun akan selalu menjadi bunga dalam mimpi-mimpi indahku. (Jupiter doc/11 February 2008)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: