RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Mengapa Aku Menulis?

Posted by jupiter pada Februari 7, 2008

Mengapa Aku Menulis?
Oleh : Jupiter

Tema diatas merupakan awal dari sebuah jawaban atas kritikan pedasku pada salah seorang penulis terfavorite, yang selanjutnya malah berbalik menjadi guru pembimbing dalam menuangkan segala coretanku.

Berkat kritikan pedas yang bersambut siraman tips dan trik menulis dari beliaulah, akhirnya ribuan kata yang selalu membuat penat isi kepala menjadi mengalir seperti air hujan yang aliran derasnya tidak pernah sanggup aku tahan dan aku samarkan.

Semua kata seolah keluar begitu saja dari kepala, kemudian berkolaburasi dengan kata-kata yang aku sadur dari berbagai sumber yang aku baca, selanjutnya berubah menjadi rangkaian kalimat yang tersusun menjadi sebuah cerita. Cerita yang mungkin bagi beberapa orang yang kebetulan tertarik untuk membaca dan merasa turut andil dalam terciptanya alur sebuah kisah yang terangkai, dianggap sebagai kisah yang membuat panas hati dan isi kepalanya sendiri.

Seperti yang tercantum di teras gubuk pribadiku ini, pada dasarnya aku bukanlah seorang sastrawan yang sanggup merangkai setiap kata menjadi rangkaian kalimat yang menyegarkan. Aku hanyalah seorang perempuan yang sangat sederhana dan tengah berusaha menuangkan segala beban di kepala melalui media yang tercipta secara otodidak ini.

Tidak ada ilmu khusus yang aku pelajari dalam proses menuangkan segala bebanku. Oleh karena itu cerita yang aku tulis seandainya di ibaratkan penyakit, mereka merupakan virus yang sangat ganas, yang apabila tidak aku keluarkan bisa berbalik membunuh segala kreativitas dan mengaburkan jernihnya pikiranku.

Rangkaian kata yang selanjutnya di tuangkan oleh beberapa pembaca yang merasa tersentuh oleh beberapa kisah yang aku tuangkan, seolah merupakan kumpulan balon cantik yang sengaja diterbangkan ke udara yang selanjutnya bersarang dan menempati salah satu ruang tamu di dalam gubuk reotku. Beberapa balon yang berwarna hitam jatuh di atas barisan ujung belati yang menjadi pagar yang mengelilingi gubuk reotku, dan kemudian pecah tepat di atas kepalaku,

DUARR-DUARR!!!

Aku kaget! Sesaat hawa panas langsung menyebar memenuhi kepala dan hatiku. Dalam kondisi seperti ini, aku mencoba melongokan kepala untuk melihat dengan jelas isi dari balon yang meletus tersebut. Dari serpihan balon-balon hitam yang pecah itu, aku melihat ada cairan merah seperti cairan cabe yang sebagian dari cipratannya membasahi kepalaku. Dalam hati aku bertanya pada diri sendiri, sudah sedemikian tajamnya-kah belati yang baru beberapa bulan ini aku asah?

Setelah beberapa saat aku dibuat termenung oleh bunyi letusan dan hawa panas yang tiba-tiba aku rasakan, tiba-tiba aku merasa geli sendiri.

Hmm, mungkin ini salah satu bukti bahwa ternyata karma itu benar-benar ada. Karma yang lahir dari perbuatan yang aku lakukan di masa lalu. Sebagai seorang penulis dadakan, aku lupa menyiapkan jala untuk menyaring arus kata-kata yang mengalir dari kepalaku. Letusan balon-balon hitam itu seketika mengingatkan aku pada satu kalimat bijak yang pernah di pesankan oleh salah satu guru pembimbingku;

Jika kamu sudah memutuskan untuk mempublikasikan hasil dari pelajaran menulismu, setiap saat kamu harus selalu siap untuk menyambut setiap tusukan belati yang mungkin akan berbalik menyerang setiap kata yang kamu keluarkan, untuk itu kamu harus selalu berjiwa besar.”

Mungkin letusan serta cipratan cairan cabe yang termuat dalam beberapa balon hitam inilah yang dimaksud tusukan belati oleh guru pembimbingku tersebut. Meski awalnya aku sempat terkejut dan merasa kepanasan, namun setelah aku mencoba melakukan koreksi terhadap setiap kalimat yang telah aku susun. Aku jadi teringat kembali pada satu pesan yang pernah disampaikan oleh salah seorang pembimbing tidak formalku yang lain;

Jangan biarkan pikiranmu dipenuhi dengan beban yang seharusnya tidak ada. Misalnya: kamu khawatir kalau tulisanmu itu nantinya tidak menarik, tidak sesuai EYD, atau dibayang-bayangi oleh perasaan takut menyinggung perasaan orang lain. Jika masalah-masalah seperti ini terus menghantui pikiran kamu, itu merupakan awal dari kegagalan kamu menjadi seorang penulis.”

Gagal? Aku gagal jadi penulis hanya karena beberapa letusan balon hitam itu? Oh… tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi! Aku merupakan “raja” di gubuk yang aku bangun sendiri, oleh karena itu aku bebas mengisinya dengan apa saja yang aku mau, aku tidak perlu menunggu persetujuan dari siapapun untuk hal yang satu ini. Ini adalah gubukku, pintunya memang selalu aku biarkan terbuka lebar, tidak ada satu syaratpun yang aku ajukan untuk singgah di gubukku ini. Namun untuk bisa masuk dan menempati satu ruang khusus yang aku sediakan di dalam gubuk reotku ini, tentunya tidak semudah itu. Hanya sahabat, saudara serta temanku saja yang aku perbolehkan untuk tinggal dan menetap disana.

Ketika aku berniat untuk membersihkan pecahan balon hitam serta cipratan cabe yang beraroma panas tadi, tiba-tiba aku teringat lagi pada satu pesan dari salah satu guru tidak formalku yang lain lagi;

Jika ada yang menusukkan belati terhadap karya-karyamu, itu menunjukan bahwa tulisanmu sudah mendekati kesempurnaan dalam alur penyampaiannya, karena telah berhasil untuk memancing emosi pembaca sehingga dapat menghasilkan timbal balik yang bisa kamu jadikan patokan, untuk bisa lebih mematangkan kualitas dari tulisanmu selanjutnya.”

WOW! Apa benar aku sudah sehebat itu? Perasaan bangga tiba-tiba sanggup menguapkan hawa panas yang aku rasakan sebelumnya. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa perlu berterima kasih kepada si pengirim balon-balon hitam tersebut.

Sebagai ucapan terima kasihku kepada para pengirim balon hitam yang secara tidak langsung telah menghadirkan semangat baru dalam mengembangkan hobby menulisku. Pada akhirnya aku membuka kembali pintu yang hampir aku tutup rapat tadi dan mulai membangun satu ruang yang lain di dalam gubuk reotku ini. Ruang ini aku khususkan untuk menampung setiap tamu yang hanya berniat untuk sekedar mampir tanpa mempunyai hasrat untuk menjadi salah satu bagian dari orang-orang terdekatku.

Kepada para pengembara yang sedang kelelahan dan memerlukan tempat singgah, aku persilahkan untuk mampir dan mengisi ruang chat yang telah aku sediakan di lantai dasar gubuk reotku ini.

Di ruangan baru itu, aku akan berusaha untuk memberikan jamuan terbaikku, khusus untuk para pengembara yang tersesat dalam perjalanannya. Jangan sungkan-sungkan untuk meninggalkan jejak kehadiran kalian di sana. Tetapi satu yang aku minta; Tolong… jangan sampai terjadi kerusuhan, karena gubuk ini merupakan tempat persembunyianku dari orang-orang yang mempunyai hobby untuk selalu membuat onar. (Jupiter doc/Feb’08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: