RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Ketika Galau Berganti Warna

Posted by jupiter pada Februari 5, 2008

Ketika Galau Berganti Warna
Oleh : Jupiter

Indah adalah nama salah seorang sahabat dekatku. Setelah hampir setahun kami kehilangan kontak. Tiba-tiba kemarin malam, dia menelepon dan mengundang aku untuk datang ke acara pentas musik. Yang kebetulan diselenggarakan oleh salah satu stasiun radio favorite yang ada di kotaku. Rencananya dia akan tampil bersama group band yang hampir semua personilnya merupakan teman seperjuanganku, sewaktu bermain musik dulu.

Ah, akhirnya setelah beberapa bulan ini aku terisolasi dari pergaulan. Tanpa diduga, mereka tiba-tiba akan datang dan mau memberikan satu suguhan musik, untuk mencerahkan jiwaku yang memang sedang haus akan hiburan ini.

Seketika ingatanku langsung melayang ke masa-masa bahagiaku dulu. Masa dimana musik merupakan bagian dari jiwaku, masa dimana kekompakkan dari sebuah persahabatan sangat berpengaruh dalam membentuk jiwa sosialku, masa dimana segala masalah hidup dianggap sebagai bentuk dari sifat “humoris” sang Pencipta.

Entah mengapa, tiba-tiba rasa rinduku begitu menggebu. Aku ingin kembali ke masa-masa yang penuh dengan kecerianku itu.

Tidak ada kata terlambat! Itu yang selalu diucapkan oleh sahabat-sahabatku. Meski kini usiaku sudah tidak muda lagi, namun aku yakin. Aku masih bisa mengulang masa-masa bahagiaku seperti dulu. Kesetiaan sahabat-sahabatku tidak perlu diragukan lagi. Sampai detik inipun, ternyata mereka masih mempunyai feeling yang sangat kuat. Feeling yang saling mengikat suasana hati masing-masing dari kami. Terlebih apabila salah satu diantara kami, ada yang sedang di ajak “bercanda” oleh Tuhan.

Mengingat semua kenangan manis tersebut. Sungguh ajaib, jiwaku seperti mendapat semangat baru. Semangat yang hampir tenggelam, karena aku terlalu larut dalam beragam ujian hidup, yang akhir-akhir ini sempat mengaburkan jernihnya pikiranku.

Ketika aku semakin asik tenggelam dalam keceriaan masa lalu, tiba-tiba senandung “Galau” nya Titi DJ membuyarkan lamunanku. Sepintas kulihat deretan angka yang tidak terdaftar di dalam memory ponselku, berkedip.

“Ah, siapa sih? Ganggu kesenangan orang aja,” gumamku merasa terusik, dengan malas aku reject panggilan tak dikenal tersebut.

Selanjutnya kucoba melanjutkan lamunan yang terpenggal tadi. Hmm… tadi sampai dimana, ya?

Pedih yang menghujam di sanubariku
Hancurkan keyakinan yang menjadi kekuatanku
Aku jatuh lagi… Sekali lagi jatuh
Untuk sekian kali, namun kali ini aku galau

Ring tone yang di senandungkan dengan sangat manis oleh Titi DJ ini, kembali membuyarkan lamunanku.

“Hi-ihh… iseng banget sih, nih orang! Bikin jadi “ilfil” aja!” Sungutku kesal, begitu melihat deretan angka yang tidak dikenal tadi berkedip lagi. Dengan setengah membentak, akhirnya kuputuskan untuk menjawab panggilan yang mengganggu lamunanku tersebut.

“HAL…,” sapaanku terhenti, ketika tiba-tiba satu teriakan dari seberang membuatku spontan menjauhkan ponsel dari lubang telinga.

“WOY! Lama banget sih ngangkatnya? Keburu gosong, neh! Emang lagi digantung ama siapa lagi, sih? Bilang aja ama gue, biar gue babat habis tuh orang! Berani-beraninya mainin perasaan sahabat gue yang selalu ketiban apes mulu, ini!” Tanpa memberikan kesempatan untuk menetralkan gendang pendengaranku, teriakan tujuh oktav-nya itu terdengar lagi.

“Hey! Wa-dewa… lo masih hidup kan?” teriaknya lagi, setelah ponsel aku jauhkan beberapa detik.

“Ya! Gue masih hidup dan masih belum tuli! Jadi lo gak usah teriak-teriak kayak orang kesetanan gitu. Ini kuping, euy! Bukan wajan! Budeg kuping gue, tahu?!” Bentakku kesal sambil memindahkan ponsel ke telinga sebelah kanan.

“Hua-Ha-Ha… ternyata lo masih ganas juga, toh! Dewa yang kayak gini nih, yang gue demen! Lagian ngapain sih, demen banget pake nada sambungnya si Melly itu? hobby kok ya di gantuuuung mulu. Dah basi tau! Dah gak jaman tuh, lagu. Makanya sekali-kali nyobain “pisang” juga, biar gak ketiban sial mulu,” protes si penelepon misterius yang ternyata si tomboy Rika, salah satu sahabat pecinta alamku dulu.

Aku sama sekali tidak menggubris protes iseng makhluk yang terkenal paling jahil dan sudah putus urat malu-nya itu. Kupingku benar-benar dibuatnya panas dan berdengung.

“Wa, lo di undang ama si Indah, kan?” Tanya Rika setelah hening beberapa detik. Kali ini volume suaranya diturunkan tiga oktav.

“He-eh! Emangnya kenapa?”

“Eh, nomor lo kok baru lagi, sih? Pasti lagi dikejar-kejar “deb collector” lagi, ya? Lagu lama, tuh!” godaku mengingatkan masa-masa pahitnya dulu. Ketika CRV yang baru dibelinya tiba-tiba di sita lagi oleh polisi, karena di duga mobil hasil curian.

“Sembarangan, lo! Jangan ungkit-ungkit masa lalu, deh! Sekarang gue dah tajir lagi, bo! Makanya besok gue mau bawa pasukan rimba kita buat ngebantai persembunyian, lo!”

“Bilangin ama bunda, besok Rika yang paling manis dan seksi mau bikin bunda terkencing-kencing lagi. Terus bilangin jug…,”

“Enak aja! Itu sih sama aja lo mau ngerjain gue. Asal lo tau ye, ternyata jadi mother sister itu cape banget, euy!” jelasku, memotong ocehannya yang sudah menyerupai asap yang di keluarkan dari lokomotif kereta api itu.

“Yee… siapa suruh?! itu kan pilihan hidup, lo! Lagian lo kualat juga sih, ama kita-kita. Main kabur begitu aja. Anak-anak pada nanyain lo mulu, tuh! Katanya gak seru naek ke Gede kalo kagak ada, lo. Kata mereka sih, jadi kagak ada pawang buat ngejinakin gue. Sialan banget ya, tuh bocah-bocah pele. Dikira gue macaaaan kali. Pake mesti bawa-bawa pawang segala.”

Hampir satu jam, Rika menumpahkan segala suka & dukanya. Setelah kepulanganku yang tidak sempat berpamitan kepada “sahabat-sahabat rimba” yang lain. Semenjak saat itu pula aku tidak pernah mendengar kabar dari Rika. Maupun dari sahabat-sahabat dekatku yang lainnya.

Hmm… mungkin ini merupakan salah satu bagian dari hikmah, atas beragam ujian hidup yang selama beberapa bulan terakhir ini, terus membelenggu pikiranku.

Pada akhirnya, di hari valentine nanti, aku kembali bisa berbagi keceriaan bersama sahabat-sahabat sejatiku lagi.

Terima kasih Indah…
Terima kasih Rika…

Kalian telah membawa kembali “warna lain” dari keceriaan yang selama satu tahun belakangan ini, sempat menghilang dalam suramnya hari-hariku.(Jupiter doc/Feb’08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: