RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Cahaya Hati

Posted by jupiter pada Februari 5, 2008

Cahaya Hati
Oleh : Jupiter

Ya Allah, ya Tuhanku… mengapa setan-setan ini tidak mau pergi juga. Kepala serta hatiku dibuatnya menjadi panas terus.

“Hush-Hush!!!” Kukibaskan kedua tanganku, berusaha untuk mengusir cakar-cakar tajam mereka yang seolah ingin merobek serta merenggut paksa merahnya hatiku.

Astagfirullah al adzim, kali ini aku kedatangan setan-setan yang sangat bebal. Meski sudah ku usir sekuat tenaga, namun mereka susah sekali untuk disuruh pergi. Terkadang mereka pergi sebentar, kemudian kembali lagi merasuki kepala dan memamerkan taring-taring runcingnya seakan sudah tidak sabar ingin melahap habis jernihnya otakku.

Emosiku dibuatnya pasang surut. Sekujur tubuhku mulai bersimbah keringat dingin. Dalam panas, aku menggigil. Kali ini aku sudah benar-benar tidak sanggup lagi melawan serbuan mereka. Tenaga dan pikiranku sudah terkuras. Setan-setan yang bersarang di dalam hati dan pikiranku, seolah malah mencibir dan berpesta pora menyaksikan segala ketidak berdayaanku. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengusir mereka dari ringkihnya tubuhku?

DUAAARRR!!! suara ledakan yang menggetarkan dinding kamar, seketika membangunkan aku dari tidur yang tidak tenangku.

“Masya Allah, suara apa itu? Kok gelap banget?” seruku kaget, sambil buru-buru bangun kemudian meraba-raba dinding kamar, mencoba membuka kunci pintu.

“Ada apa ini? bunda kemana, ya?” gumamku bingung setelah berhasil membuka pintu kamar. Tiba-tiba kakiku menendang satu benda keras.

KLONTRANNNG!!!

“ADUH!!!” seruku sambil mengangkat dan mengerakan ibu jari kakiku yang tiba-tiba terasa sangat pedih. Benda yang kutendang tadi terdengar menggelinding serta menimbulkan bunyi yang sangat berisik. Beberapa saat aku terdiam sambil mengucek mata berkali-kali, mencoba menyesuaikan pandanganku dalam kegelapan. Namun usahaku tidak membuahkan hasil, suasana di ruang tamu tetap saja gelap, mataku sama sekali tidak bisa menangkap cahaya apapun. Samar kudengar suara air yang jatuh di teras depan.

“Oh… hujan toh! Berarti suara ledakan tadi itu, suara cemetinya para malaikat yang sedang mengincar setan yang mengganggu tidurku barusan!” kataku sambil bergidik begitu ingat lagi mimpi burukku tadi. Dalam hati aku mengutuk PLN yang tumben-tumbenan iseng, membuat seluruh ruangan di dalam rumah ini menjadi gelap gulita.

Sambil menepis rasa takut yang tiba-tiba menyelinap di dalam diri dan dengan langkah sangat hati-hati, aku balik lagi ke kamar. Perlahan aku mulai meraba-raba mencari sesuatu di atas lemari es mungilku.

PRANNNNG!!!!

“Sialan!” Umpatku kaget, sambil mengira-ngira benda yang tidak sengaja aku senggol barusan.

“Hmm… itu pasti gelas kopi yang masih penuh karena baru aku seduh sebelum ketiduran tadi, apes banget sih aku.” Gumamku pelan ketika merasakan semburan hangat yang terasa lengket di kakiku.

Kucoba terus meraba-raba ke atas meja komputer, kali ini aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Aku takut monitor kesayanganku ikut tersenggol juga. Bisa kiamat beneran hidupku, kalo sahabat yang paling setia menemani malam-malam sepiku ini ikutan ngambek, seperti gelas serta benda yang aku tendang di ruang tamu tadi.

“Ah, ini dia!” seruku sambil mencoba mencari tombol untuk menyalakan Emergency Light yang aku temukan. Seketika kamarku menjadi terang benderang, memperlihatkan suasana kamar yang berantakan oleh pecahan gelas yang bercampur cairan kopi yang sudah aku tumpahkan.

Dengan berjinjit dan sambil menenteng Emergency Light, aku keluar dari kamar. Di ruang tamu aku lihat guci kesayangan bunda yang baru tiga hari dibeliin oleh kakak perempuanku, sudah pecah berantakan tak ada bedanya seperti pecahan gelas kopi di kamarku.

Waduh! Kalo bunda sampai tahu, pasti bakalan sedih banget, neh! Pikirku sambil buru-buru mengumpulkan pecahan guci yang berantakan, kemudian menyapu bersih bekas pecahannya ke pojokan sofa. Besok aku pesan guci yang baru lagi saja lah sama kakak, biar bunda nggak tahu kalau ternyata gucinya sudah berubah jadi makanan para pemain “Debus” dari Banten.

Setelah selesai membersihkan pecahan guci, aku berjinjit menuju kamar bunda. Perlahan aku dorong pintu kamarnya. Keras! Pintu kamar bunda dikunci dari dalam. Hmm… benar-benar bandel nih, bunda. Sudah berkali-kali di kasih tahu, pintu kamarnya jangan pernah dikunci. Kalau penyakit darah tingginya tiba-tiba kambuh lagi, gimana jadinya? Mana aku sendirian lagi. Sesalku menyayangkan sikap bandelnya bunda.

Sambil bertumpu pada kursi makan dan dengan dibantu penerangan dari Emergency Light di tangan, aku mengintip bunda dari lubang angin.

Wow! Ternyata bunda masih lelap dalam mimpinya. Hebat! Padahal gelegar petir, juga suara guci dan gelas yang aku pecahkan tadi, berisik banget. He-eh… tapi aku jadi lega, berarti bunda “aman”.

Setelah mengamankan pecahan guci serta membersihkan pecahan gelas dan tumpahan kopi di lantai kamar. Aku duduk di depan komputer kesayanganku. Pandanganku menatap kosong ke layar monitor yang masih gelap.

Aih… PLN benar-benar payah, nih! Sudah hampir satu jam, tapi listrik masih belum nyala juga. Biasanya kalau sudah terbangun begini, aku pasti nggak bakalan bisa tidur lagi, apalagi dengan mimpi yang menyeramkan tadi. Hiiiih… tiba-tiba aku bergidik lagi, ketika membayangkan mimpi buruk yang seperti nyata itu. Untung aku dibangunkan oleh suara petir, kalau tidak? Aku mungkin sudah di bawa pergi oleh setan-setan gentayangan dalam mimpiku tadi.

Hey! Mungkin juga petir itu memang merupakan peringatan dariNya buatku? Selintas kulirik jam di dinding kamar, sudah lewat tengah malam. Waktunya Shalat Tahajud! Seketika aku langsung buru-buru bangkit menuju kamar mandi.

Ah… siraman air wudhlu ternyata betul-betul ampuh. Kepala serta hatiku yang barusan dipenuhi oleh bayang ketakutan akibat mimpi burukku tadi, seketika langsung menguap. Berganti dengan cahaya dari Emergency Light yang tiba-tiba terasa lebih terang dibandingkan dengan cayaha yang biasanya dialirkan dari PLN. Cahaya yang keluar dari sepotong hati yang tengah berusaha untuk menepiskan setan-setan penyebar dendam yang bersarang di dalam rapuhnya jiwaku.(Jupiter doc/Feb’08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: