RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Forget but can’t Forgive

Posted by jupiter pada Februari 2, 2008

Forget but can’t Forgive
Oleh : Jupiter

Di sebuah hutan yang sangat rindang, tersebutlah dua penghuni hutan yang sangat kompak. Mereka adalah seekor gajah kecil berbelalai panjang yang selalu setia menemani seekor kelinci putih berbulu tebal dan bermata bening yang tak pernah berhenti memamerkan keceriaannya, kepada setiap penghuni baru yang tersesat di dalam hutan tersebut.

Keakraban keduanya menambah semarak seluruh penghuni hutan yang selalu menjunjung tinggi kedamaian itu. Hampir tak ada yang mereka sembunyikan. Tawa, canda bahkan lara selalu mereka bagi ke seluruh penjuru hutan. Padang ilalang yang sangat hijau serta gemericik suara air terjun yang sangat menyejukan seolah menambah sempurna keindahan sang Maha Pencipta. Sungguh merupakan pesona alam yang sangat memukau dan menggiurkan setiap makhluk yang melintasi pinggiran hutan tersebut.

Pada suatu pagi, keisengan kelinci putih melanggar batas yang telah ditentukan oleh para peri. Kelinci putih keasikan bermain dengan seekor musang yang menjadi penghuni hutan tetangga. Kelinci putih terlalu jauh masuk ke dalam hutan tempat sang musang bersarang, dia lupa pada gajah kecil yang dengan setia terus mencari dan menyusuri seluruh pelosok hutan, berharap bisa menemukan persembunyian sahabatnya itu.

Dalam kelelahan dan kebingungan, gajah kecil mulai menitikan air mata. Belalai panjang yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya di kibas-kibaskan. Seolah dengan begitu, bisa mengusir kesedihan dan rasa kesepian yang mulai menyelinap di hatinya yang terus mengkhawatirkan keselamatan kelinci putih sahabatnya itu.

Beberapa minggu kemudian, disaat gajah kecil mulai putus asa dan merelakan kepergian sahabatnya itu. Tiba-tiba kelinci putih yang sudah merasa bosan bermain dengan sang musang, kembali pulang dan meminta maaf kepada sang gajah. Meski kecewa, namun gajah kecil yang gembira melihat sahabatnya telah kembali dalam keadaan selamat, langsung memeluk erat kelinci putih tersayangnya itu. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan perlakuan sahabatnya yang sudah tega meninggalkannya sendirian.

Melihat kejadian yang mengharukan tersebut, sang musang yang merasa di campakkan tidak tinggal diam. Dengan segala kelicikannya, dia berusaha membujuk kelinci putih untuk kembali bermain bersamanya.

Gajah kecil yang mulai merasa terusik menjadi naik pitam, disemburkannya cairan pedas dari belalai panjangnya ke arah si musang. Namun bukan musang namanya kalo tidak bisa menangkis semburan kemarahan sang gajah. Dengan segala kelicikannya dia terus melancarkan teror untuk mengacaukan kesetiaan kelinci putih. Gajah kecil yang mulai kehabisan kesabarannya, akhirnya menyerahkan sepenuhnya kepada kelinci putih untuk menyelesaikan permainannya dengan sang musang yang berotak bebal itu. Kelinci putih yang memang sudah enggan mencium bau busuk tubuh sang musang, akhirnya memilih kembali bermain dengan gajah kecil sahabatnya dan mengabaikan terror yang dilancarkan oleh sang musang.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya sang musang menyerah dan melepaskan buruannya. Gajah kecil dan kelinci putihpun kembali bermain dengan damai, bersama peri-peri hutan yang selalu melebarkan kedua tangan mereka untuk membagi kehangatan kepada dua sahabat tersebut.

Selang beberapa bulan kemudian, di tengah satu kemarau yang sangat panjang. Gajah kecil merasakan dahaga yang begitu menyiksa. Kelinci putih kebingungan, dia ingin membantu namun tidak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa dahaga sahabatnya yang mulai uring-uringan. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba kelinci putih bertemu dengan seekor rubah yang nampak sangat lugu dan jujur, dia menawarkan bantuannya untuk menuntaskan dahaga sang gajah. Kelinci putih setuju, kemudian dia mempertemukan rubah tersebut kepada sahabatnya.

Berhubung belalainya sudah mulai kaku karena kekeringan, tanpa menaruh curiga sedikitpun, gajah kecil langsung menyambut minuman yang di sodorkan oleh rubah yang baru dikenalkan oleh sahabatnya itu. Seketika dahaganya langsung terobati, gajah putih kembali bisa menggerakkan belalainya kembali.

Diluar sepengetahuan kelinci putih, rubah yang bermuka lugu tersebut mulai menggoda kesetiaan gajah kecil dengan segala kemanjaanya. Pikiran gajah kecil mulai diracuni dengan akal bulusnya yang membuat gajah kecil mulai meragukan ketulusan hati sahabatnya. Gajah kecilpun mulai bimbang dan mulai masuk ke dalam jebakan sang rubah yang ternyata sangat licik itu.

Kelinci putih yang mulai merasa tersisih, menjadi uring-uringan. Dia mulai menunjukkan ketidak sabarannya dalam menghadapi kebimbangan hati sahabatnya. Perang dinginpun mulai terjadi diantara kedua sahabat itu, kelinci putih yang merasa tersisihkan melawan gajah kecil yang termakan hasutan si rubah pengacau.

Di tengah ketegangan hubungan mereka berdua, tiba-tiba rubah pengacau itu berbalik melakukan pendekatan kepada kelinci putih yang mulai kehilangan respect terhadap sahabatnya itu. Dengan tetap mengandalkan muka lugu serta kepiawaian dalam menaklukan mangsanya, akhirnya rubah licik itu berhasil menarik simpati kelinci putih. Kelinci putihpun akhirnya berpaling kepada sang pengacau dan masuk ke dalam jebakan lugunya. Kelembutan kelinci putih seketika menguap, berganti dengan semburan yang penuh permusuhan kepada sahabatnya.

Mendapat perlakuan seperti itu, gajah kecil kembali menitikan air mata. Dia sama sekali tidak menduga, kalau sahabatnya bisa dengan mudahnya masuk ke dalam perangkap yang dulu pernah di tujukan kepada dirinya. Beberapa peri hutan yang menyaksikan kekacauan yang terjadi diantara kedua sahabat tersebut, segera terbang mengelilingi dan menghibur gajah kecil yang terluka.

“Kalian tau gak, obat untuk menyembuhkan patah hati?” tanya gajah kecil sambil menatap para peri yang sedang tersenyum menghiburnya.

“Hati! Kamu secepatnya harus menemukan hati yang baru.” jawab peri yang terlihat paling anggun.

“Hmm… gak semudah itu! Aku gak bisa begitu saja melupakan dia, terlalu banyak kenangan manis diantara kita.” sahut gajah kecil mulai putus asa

“Hey! Kamu gak perlu melupakan dia, kamu hanya perlu memaafkan perlakuan buruknya terhadap kamu.” Kata peri yang terlihat selalu bergairah.

“Yup! Benar itu, forgive but not forget.” Peri yang biasanya paling cuek-pun turut menimpali.

“Gitu ya? Tapi apa aku sanggup memaafkan tanpa melupakan semua yang sudah terjadi? Hatiku terlalu perih, kayaknya aku gak bakalan bisa deh!” gajah kecil menjawab dengan suara yang sangat lirih.

“Kalau kamu belum siap, untuk sementara kamu cooling down aja dulu, sesakit apapun kamu gak usah perdulikan tingkah mereka dulu. Pada saatnya nanti, kamu pasti bisa memaafkan dan melupakan perlakuan buruk mereka.” Peri yang paling bijak ikut bicara.

“Mudah-mudahan, aku juga berharap begitu.” Kata gajah kecil, betul-betul sudah kehilangan gairahnya.

Sesaat dia merenungkan masukan dari peri-peri sahabatnya tadi. “Forgive but not forget”. Ah… tidak-tidak, aku belum bisa, apalagi kalau membayangkan tingkah mereka yang penuh kepalsuan itu. Untuk kali ini aku belum sanggup mengambil sikap seperti itu. Tapiiii… kalo “Forget but can’t forgive”, Nah kalo yang ini baru aku setuju, aku yakin aku pasti bisa. Aku harus bisa menganggap mereka “tidak pernah ada”, seperti mereka yang menganggap aku “tidak pernah ada juga’. Yup! Case Closed.

Gajah kecilpun seolah menemukan semangat baru, dia melangkah kembali menuju gubuk mungilnya, sementara peri-peri cantik kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menjaga kedamaian di dalam hutan.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: