RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Mencintaimu, Bunda

Posted by jupiter pada Januari 29, 2008

Mencintaimu, Bunda
Tuesday, January 29, 2008
Oleh: Jupiter

Siang itu ketika matahari berada tepat di atas kepala, aku baru saja menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga yang menjadi kegiatan rutin baruku.

Semenjak aku nekad meletakkan tampuk jabatan pada perusahaan multinasional milik seorang “Yakuza”, dan memutuskan untuk merawat Bunda yang ngotot tidak mau dilayanin oleh si bibi yang telah diberhentikan Bunda karena dianggap selalu berleha-leha, sekarang aku dianugrahi jabatan yang sangat mulia. Jabatan sebagai Ibu merangkap pembantu dan kepala rumah tangga. Ini sungguh bukan jabatan yang main-main, kesehatan serta kebahagiaan Bunda merupakan taruhannya.

Dari mulai membereskan tempat tidur Bunda; mengepel lantai yang dalam sehari tidak bisa dihitung dengan jari; menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam lengkap dengan cemilan serta takaran obat buat Bunda; mencuci pakaian serta tumpukan kain lap, yang selalu lengket serta bearoma khas seorang penderita diabetes yang sangat menyengat indra penciuman. Semua tugas berat itu secara otomatis sekarang berada di pundakku.

Sambil mengepit Dimsum Terakhir-nya Clara Ng serta menenteng dua gelas minuman dingin, aku menghampiri Bunda yang sedang duduk santai di teras depan. Siang itu aku berniat menemani kebiasaan rutin Bunda yang selalu menghabiskan waktu, dengan memperhatikan kegiatan orang-orang serta para penjual keliling yang berseliweran di depan rumah kami.

“Siang, Nyonya Besar! ini pesanan Nyonya sudah siap. Silakan Nyonya nikmati minuman dingin buatan Ananda tercinta. Dijamin minuman cinta ini pasti akan segera menghilangkan dahaga nyonya,” ujarku ceria, sambil menyodorkan gelas minuman yang aku tenteng tadi dengan gaya seorang pelayan restoran kelas hotel “bintang tujuh”.

Dengan geli, Bunda menyambut gelas yang aku sodorkan, selanjutnya beliau tertawa terkekeh-kekeh dan seperti biasa airmata kegelian beliau langsung berhamburan. Seketika gelas yang sudah berpindah ke tangannya berguncang-guncang, menumpahkan sebagian isinya. Melihat itu, dengan refleks aku langsung menarik gelas minuman itu kembali. Fiuh! Hampir saja, minuman cinta ini berubah fungsi menjadi minuman yang menyegarkan seluruh tubuh Bunda.

Sambil menunggu tawa Bunda mereda, aku meletakkan dua gelas minuman tadi di atas meja yang ada di depan Bunda, kemudian aku menghempaskan diri duduk di sebelah beliau. Tanpa berkata-kata lagi, aku langsung menenggelamkan diri dalam lembaran Dimsun Terakhir yang aku bawa.

“Sirsak kayaknya udah mateng tuh, mending kamu petik aja gih, dari pada ntar dipetik orang yang lewat!” kata Bunda sambil mengarahkan telunjuknya ke beberapa buah sirsak yang menggantung di pohon yang ada di depan jalanan rumah kami, yang meskipun sudah membesar namun terlihat masih belum matang sempurna.

“Besok aja-lah, Ma. Kalo kakak main ke sini,” jawabku ogah-ogahan, dengan tidak mengalihkan pandanganku pada lembaran yang sedang aku baca.

“Kuping gajah Mama kayaknya udah nggak kena matahari. Potnya kamu pindahin ke sebelah depan aja, gih! Takut keburu layu,” kata Bunda beberapa menit kemudian, sambil menunjuk tanaman kesayangannya yang sudah mulai tertutup oleh daun tanaman lain sudah mulai rimbun.

“Iya Ma, tapi ntar aja ya! Aku lagi baca dulu, nih!” sahutku mulai merasa terganggu dengan keinginan-keinginan Bunda yang tidak pernah bisa tenang setiap aku ada di dekat beliau. Mendengar jawaban malasku, Bunda menarik nafas berat, sebelum akhirnya meneguk minuman yang tadi kuberikan.

“Aduuuh… Kasihan banget bunga ros ini, tanahnya sudah mulai kering. Mama mau ambil air dulu, takut keburu layu,” ujar Bunda, sambil berusaha berdiri.

Fiuh!! Kali ini kesabaranku sudah benar-benar habis, dengan kasar aku tutup buku yang aku baca, kemudian aku berdiri mendahului Bunda.

“Udah Mama di sini aja, biar aku yang menyiram tanaman kesayangan mama itu!” sahutku kesal, sambil beranjak ke belakang meninggalkan Bunda yang kembali terduduk di atas kursi favoritnya.

Beberapa detik kemudian, aku kembali menghampiri Bunda dengan membawa satu ember berisi air, lengkap dengan alat penyemprot hama tanaman. Ketika aku sedang sibuk menyiram dan menyemprot tanaman sambil membelakangi Bunda, tiba-tiba aku mendengar isak tangis Bunda yang beberapa detik kemudian berubah menjadi isak tangis layaknya anak kecil yang sedang kehilangan mainannya.

Waduh! Gawat nih, aku pasti bikin Bunda tersinggung lagi!

“Kaca piringnya disiram apa nggak, Ma? Terus pot kuping gajahnya mau ditaruh di sebelah mana? Sirsaknya dipetik besok aja, ya, kayaknya belum mateng banget, tuh!” cecarku mencoba mengalihkan kesedihan Bunda, dengan berpura-pura tidak mendengar isak tangisnya yang mulai memekakkan telinga.

Seperti biasa, strategiku langsung mengenai sasaran. Sesaat kemudian isak tangis Nunda mulai mereda, untuk selanjutnya sambil sibuk menghapus air mata, Bunda mulai terpancing memberikan beberapa komando yang harus aku kerjakan.

Dan pada akhirnya, siang itu kembali aku tidak sukses menyelesaikan Dimsum Terakhir yang sudah beberapa hari ini mulai terlihat agak lecek di beberapa bagian halamannya.

***

Sore harinya, ketika aku sedang asyik memasak makan malam untuk kami berdua, tiba-tiba kupingku mendengar teriakan Bunda dari arah ruang tengah.

“Nak, bantu Mama berdiri! Mama sudah gak tahan kepengen buang air!” Teriakan bunda seketika membuat aku yang sedang sibuk menggoreng bumbu menjadi kelabakan.

Waduh! Kalo pengorengan ini aku tinggal, pasti bumbu yang sedang aku masak bakalan gosong. Sementara kalo aku tidak segera membantu Bunda, sudah pasti kesibukanku bakalan bertambah dengan membersihkan lantai serta memandikan Bunda.

Pada saat seperti ini, rasanya aku benar-benar ingin berteriak mengutuk saudara-saudara kandungku yang dengan entengnya telah menimpakkan semua tanggung jawab berat ini ke pundakku, dengan mengatasnamakan status kesendirianku. Alasan yang tidak pernah bisa aku tolak. Seolah dengan kesendirianku ini mereka berteriak bahagia, karena bisa melepaskan tanggung jawab mereka sebagai anak yang harusnya berbakti kepada orang tua yang telah membesarkan mereka juga.

Seandainya bukan karena rasa sayangku yang begitu besar terhadap Bunda, serta bukan karena penyesalanku yang tidak sempat melayani hari-hari terakhir almarhum Ayah, rasanya aku ingin segera lari dan meninggalkan tanggung jawab yang semakin hari terasa semakin merampas kebebasanku dalam memikirkan masa depanku sendiri.

Tuhan, kuatkan hamba-Mu, untuk memedulikan sikap cuek kelima saudara kandungku itu. Atas nama hari tuaku kelak dan dengan disaksikan penggorengan yang sudah mulai gosong, aku berjanji dengan segala daya upaya, akan selalu berusaha untuk memberikan rasa nyaman pada hari-hari Bunda yang mungkin tidak akan lama lagi ini. Amin.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: