RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Kuda vs Elang

Posted by jupiter pada Januari 29, 2008

Kuda vs Elang
Oleh : Jupiter

Beberapa tahun yang lalu, seorang sahabat pernah iseng memperkenalkan teman barunya kepadaku. Malam itu merupakan malam pesta ulang tahun kekasihnya.

Setelah melewati puncak acara, tiba-tiba dia membisikan sesuatu ke telingaku. Awalnya aku tidak langsung menyetujui rencana gilanya itu. Namun karena dia mengancam akan pergi sendiri, sementara saat itu sudah lewat tengah malam dan dia dalam kondisi setengah mabuk, akhirnya dengan terpaksa aku harus menyetujui ajakannya.

Setelah menyelinap dan mengendap-endap, akhirnya kami berhasil melepaskan diri dari hiruk pikuknya pesta. Dengan semangat 45, sahabatku itu langsung menancap Kawasaki Ninjanya ke satu tempat, kira-kira 15 menit dari tempat pesta.

Di depan salah satu rumah kost, dia berhenti dan kemudian memberikan aba-aba kepadaku kalau kami sudah sampai ke tempat yang tadi dibisikannya. Aku yang masih bingung, hanya diam sambil memperhatikan gerak geriknya memarkirkan Ninja kesayangannya. Selanjutnya dengan gaya super santainya dia mengajakku mendekati salah satu pintu kamar kost.

“Malem non, ini titipan si non tadi!” sapaan seorang bapak tua, tiba-tiba mengejutkan kami berdua.

“O’ya, makasih banyak ya, pak.” jawab sahabatku sambil menerima satu kantong plastik yang disodorkan oleh si bapak tua tadi.

“Kembaliannya ada di dalam kantong ya, non.” Lanjut si bapak sambil menunjuk kantong plastik yang sudah berpindah tangan. Sahabatku mengangguk sambil merogohkan tangannya ke dalam kantong plastik yang sudah berada di tangannya.

“Ini buat nambahin jajan si dul. Makasih banyak ya, pak.” Kata sahabatku sambil menyelipkan lembaran dua puluh ribuan ke tangan bapak tua tadi. Sesaat aku melihat senyum sumringah dari pekatnya bibir si bapak, sebelum dia berlalu dan meninggalkan kami berdua.

“Penjaga kost! tenang aja udah cs, kok!” jelas sahabatku ringan, begitu melihat mimik muka kebingungan di wajahku.

Dari balik saku jaket, dia mengeluarkan anak kunci. Dengan hati-hati diputarnya anak kunci tersebut, “Klik” kemudian dia tersenyum penuh misteri sambil memberikan isyarat kepadaku untuk ikut masuk.

“Kakak? Kok nggak nelpon dulu sih?” serbu seorang gadis, begitu kami berdua masuk ke dalam kamar tersebut. Gadis berkulit putih dengan rambut ikal sepunggung itu terlihat kaget melihat kedatangan kami yang tiba-tiba.

Hmmm… lumayan seksi. Gumamku dalam hati, begitu melihat penampilan gadis berkaos you can see dengan celana pendek street tersebut, sambil melemparkan senyum penuh arti ke arah sahabatku yang tiba-tiba menyikut lenganku genit.

“Ini pesenan kamu, de. kamu belum makan malam, kan?” sahut sahabatku tanpa mengacuhkan teguran si gadis yang mendadak kebangun dari tidurnya itu.

“Ya, belum lah… lama banget, sih? Katanya acaranya cuma bentar, bete tau nungguin kakak, mana telponnya pake acara dimatiin segala lagi. Jahat banget sih, kak!” sahut gadis berusia sekitar dua puluh tahunan itu sambil melancarkan cubitan ke pinggang sahabatku, kesal.

Sepintas saja aku bisa melihat keakraban yang sudah terjalin diantara mereka. Dari kemanjaan si gadis, aku bisa tahu apa yang membuat sahabatku ini nekad kabur dari pesta ulang tahun kekasihnya tadi.

“Hehehe… sorry-sorry, yang penting sekarang kakak kan udah di sini, ayo dimakan tuh satenya, ntar keburu dingin.” kata sahabatku, sambil sibuk mengeluarkan isi kantong plastik yang diterimanya dari penjaga kost tadi.

“O’ya, ini kak dewa yang kakak ceritain kemarin. Dia yang ngebantuin kakak kabur dari pesta tadi.” Lanjut sahabatku sambil mengedipkan mata lentiknya ke arahku yang masih berdiri bingung menyaksikan keakraban mereka.

“Dewa” sapaku ramah, menyambut uluran lembut tangan si calon korban sahabatku ini.

“Linda. Apa khabar, kak? Sorry kamarnya berantakan banget.” Jawab Linda sambil memamerkan senyum lugunya.

Setelah hampir satu jam kami bercanda sambil menyantap ludes sate yang sebelumnya telah dipesan melalui penjaga kost. Akhirnya aku mengingatkan sahabatku kalau kita sebetulnya sedang dalam kondisi buron. Meski dengan berat hati, akhirnya Linda mengijinkan kami untuk kembali ke pesta ultah saingannya tersebut.

“Gila lo, ye! Siapa lagi tuh, dia?” tanyaku ketika kami sudah meluncur pulang.

“Hehehe… gimana menurut pendapat, lo? Cantik kan?” bukannya menjawab pertanyaanku, sahabatku malah memamerkan senyum playbutchnya melalui spion.

“Hmmm… masih cantikan si Dinda kemana-mana, lah.” Sahutku ketus.

“Gw benar-benar gak ngerti ama jalan pikiran, lo. Sebetulnya lo nyari apa lagi, sih?” Si Dinda tuh kurang apa lagi, coba? udah cantik, baik, sayang banget lagi ama, lo.” lanjutku, meluapkan kebingungan pada jiwa petualang sahabatku yang gak pernah ada habisnya itu.

“Iya sih! Tapi you know lah… si Dinda memang punya segalanya. Tapi dia itu udah terlalu jinak, gak ada tantangan lagi buat, gw.” Jawab sahabatku dengan nada yang sama sekali tidak merasa bersalah.

“Dasar raja minyak! Kirain dah sembuh.” Sahutku kesal, sambil melayangkan pukulan ringan ke atas helmnya.

“Kenapa sih, lo gak pernah bisa hidup rukun kayak kita?” tanyaku lagi, menyesali kegemarannya yang tidak pernah jera berpetualang.

“Itulah bedanya lo ama gw! Lo selalu merasa nyaman hanya memakai kacamata kuda. Sementara gw? Gw lebih enjoy pake kacamata elang, bebas menclok sana sini, oy! Huahaha….”

Sepeti biasa, akhirnya tawa kamipun memecah keheningan jalanan ibukota di waktu dini hari. Tawa sepasang sahabat, yang sangat berbeda karakter juga prinsip hidup, tetapi selalu kompak dalam menyimpan segala rahasia yang ada di dalam diri masing-masing. (Jupiter doc./Jan’08)

***

Satu Tanggapan to “Kuda vs Elang”

  1. Anonymous said

    hmmm…mengingatkan akan seseorang nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: