RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Siapa yang mau jadi femme?

Posted by jupiter pada Januari 20, 2008

Siapa yang mau jadi femme?
Oleh : Jupiter

“Ini harus segera di akhiri!” keluh seorang sahabat pada satu percakapan dini hari yang biasanya penuh dengan kehangatan.

“Kok? Emangnya kenapa?” tanyaku bingung

“Aku benar-benar gak bisa konsentrasi pada pekerjaanku,” lanjutnya masih dengan kalimat yang menggantung.

Aku terdiam, mencoba menebak-nebak apa maksud dari arah pembicaraan sahabat baru yang dikenalkan oleh partner seminggu yang lalu ini.

“Gila ya! hanya kenalan lewat beberapa kali email dan sms, aku bisa jadi terobsesi banget ama kamu,” sesalnya seolah menyalahkan diri sendiri

“Apapun yang aku kerjakan selalu menjadi serba salah, daya tarik ponselku lebih kuat daripada celoteh bawel dari rekan-rekan sekantorku dan buku-buku favorite yang selama ini aku baca. Kamu pake ilmu “pelet” apa, sih?” serangnya lagi dengan nada suara yang mulai terdengar berat.

“Hey! Kamu pasti lagi jatuh cinta ama aku, ya?” tanyaku dengan nada suara mulai menggoda.

“Huek! mual deh ngedengernya, narsis banget seh! Udah ah, telponnya aku tutup aja, ya?” digoda begitu, sahabat baruku mulai menunjukkan kekesalannya.

“Yei… baru digodain segitu aja, ngambeeeek! Cewek banget, sih?! Makanya jangan suka ngebayangin yang nggak-nggak, deh! Penampilanku tuh, ancur-ancuran banget lagi.” Jelasku mencoba menenangkan kegelisahannya

“Lagian, emang kamu dah siap melepaskan segala atribut cewek macho yang selama ini kamu sandang?” tanyaku dengan nada yang mulai tidak bisa menahan kegelian yang sudah menyeruak mencari sela untuk bisa dilepaskan.

“Gak mau! Kamu aja yang jadi femme nya!” tolaknya mentah-mentah

“What? Aku? jadi femme??? Apa kata duniaaaa…!” seruku dengan diakhiri dengan tawa yang memecah ksheningan dini hari dari kami berdua.

Ini adalah salah satu kisah terlucu dan tidak akan pernah bisa terlupakan dalam sejarah persahabatanku dengan salah seorang sahabat maya yang kami kenal melalui millis yang di asuh oleh para “peracik kopi” terhebat, di dunia Lesbian yang awalnya gelap gulita ini.

Keisengan kami berdua yang sempat membuat partner uring-uringan, telah membuahkan satu jalinan persahabatan yang akhirnya melibatkan kami bertiga.

“Masa sih? Kalian berantem gara-gara nggak ada yang mau jadi femme?” tanya partner bingung. “Terus akhirnya rencana selingkuh kalian bubar, dong?” tanya patner lagi, dengan nada suara menahan tawa.

“Kalo mau ngetawain nggak usah pake acara ditahan gitu, deh!” kataku dengan memasang nada pura-pura tidak suka.

“Tadi malam kita sudah resmi memutuskan, kalo status persahabatan kita, sama sekali nggak akan pernah di nodai oleh tanda kutip lagi.” Penjelasan terakhirku ini membuat partner tidak bisa menahan tawanya lagi.

Tawa itu… dalam satu bulan terakhir ini, aku baru sadar. Baru kali ini tawa renyah itu menggelitik kembali setiap sudut gendang pendengaranku. Tawa yang terdengar begitu lepas, begitu sarat dengan beban yang terpental keluar. Beban yang selama satu minggu ini selalu menghimpit dan memaksa bibirnya menjadi penghianat hatinya sendiri. Bibir yang selalu mengumbar kata ikhlas dibalik segala kepasrahannya dalam menghadapi penyakit sensiku yang sudah diluar batas kewajaran seorang perempuan biasa. Rasa sensi yang di akibatkan kebutuhan bathin yang tidak pernah bisa dipenuhi oleh partner.

Tanpa aku sadari, tawa renyahnya tersebut telah mampu membangkitkan kesadaranku kembali. Kesadaran yang memberikan pukulan sangat telak pada kerasnya hatiku. Yang selalu berusaha melepaskan diri dari ketulusan cinta yang telah diberikan oleh partner. Kini aku benar-benar yakin, kalau pada dasarnya akupun sama sekali tidak pernah merasa siap untuk kehilangan dia.

Permainan demi permainan telah banyak mewarnai hubungan rumit kami. Aku sudah merasa lelah menghalau segala badai yang menyertainya. Tenagaku sudah mulai menipis, aku tidak boleh membiarkan kesabaran serta ketegaran jiwa kami semakin terkikis. Yang pada akhirnya akan habis dan hanya meninggalkan tangis.

Di akhir permainanku, aku mencoba untuk melapangkan hati dengan menguak tabir rahasia yang telah terjadi di antara kami. Tabir yang sempat menghadirkan mendung di balik keceriaan serta kehangatan hubungan jarak jauh kami.

Saat ini, aku sudah tahu apa yang menjadi mauku. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah sanggup membinasakan perasaan rindu ini, hanya dengan menghadirkan segala macam permainan, yang pada akhirnya hanya mampu menambah kabut di hati kami.

Semoga kesadaran yang membangkitkan jiwaku ini, bukan hanya sesaat. (Jupiter doc/Jan08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: