RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Menyatu Dengan Alam

Posted by jupiter pada Januari 20, 2008

Menyatu Dengan Alam
Oleh : Jupiter

Dalam diam kupejamkan mata, mencoba meresapi merdunya suara alam. Dentuman-dentuman kecil sang ombak yang menghantam kokohnya batu karang, disertai sentuhan lembut angin laut pada lapisan teratas kulit tubuh, seakan menina bobokan jiwaku. Begitu nyaman, begitu tenang.

Rasa penat yang akhir-akhir ini tidak pernah berhenti menyelimuti galaunya hati sepertinya telah mulai memudar, berganti dengan satu rasa damai yang melenakan. Dari jutaan keindahan alam yang disuguhkan oleh sang pencipta, keindahan tepian samudera selalu sanggup mematahkan jeruji pengap yang selalu menghimpit nafasku.

Diantara merdunya suara alam, samar kudengar irama music hip hop menyentuh gendang telingaku. Perlahan kubuka kelopak mata. Setelah menengok ke kanan dan kiri, aku bisa yakin kalau suara itu bukan berasal dari pantai ini. Iramanya timbul tenggelam, tak ubahnya dengan suara ombak yang tengah aku nikmati.

Dengan enggan, ku tebar pandangan ke sekitar. Di sana, di tengah samudera, kulihat ada satu titik kecil yang semakin lama semakin membesar. Dengan dibantu teropong yang selalu kubawa, aku mengamati benda di tengah samudera tersebut.

Sebuah kapal besar, sepertinya sebuah kapal pesiar. Semakin lama kapal pesiar itu nampak semakin besar. Sekarang aku yakin dari mana datangnya sumber suara yang mengusik ketenanganku tadi. Irama music hip hop yang dibawa oleh sang bayu tadi, ternyata berasal dari kapal pesiar megah tersebut. Mereka mungkin sedang menyelenggarakan sebuah pesta, pesta yang tentunya di ramaikan dengan gelak tawa dan senyum bahagia.

Ada rasa miris di dalam diri, ketika membayangkan kemeriahan pesta tersebut.

Aku pernah merasakan kemeriahan di beberapa pesta. Saat seperti itu semua penat disulap menjadi tawa, tawa yang membahana. Tawa yang sebagian besar keluar dari kepura-puraan. Tawa yang memabukkan sehingga lupa pada kenyataan yang sebenarnya timpang. Tawa yang selalu diakhiri dengan sedu sedan karena di campakkan oleh teman-teman, yang sebagian besar ternyata jelmaan dari ular berkepala dua dan serigala berbulu domba. Tawa yang selalu berganti dengan seringai yang sangat mengerikan. Seringai kemenangan karena bisa mematahkan pertahanan lawan. Pertahanan yang berlandaskan kepercayaan yang telah diberikan. Kepercayaan yang selalu berakhir dengan penyesalan yang sangat menyakitkan.

Sampai disini, aku berhenti mengamati kapal pesiar yang tengah berpesta tersebut. Kenangan pahit itu membuat sesak nafasku lagi.

Perlahan kubaringkan kembali tubuhku di atas hamparan pasir yang sangat bersahabat. Ku tengadahkan kepala. Sesaat indahnya sunset telah memukau penglihatanku. Keajaiban yang disuguhkan sang pencipta benar-benar menjadi teraphy yang sangat ampuh. Dalam sekejap, rasa damai itu kembali penuhi sukmaku.

Seandainya saat ini riak-riak kecil ombak itu tiba-tiba berubah menjadi badai Tsunami, sedikitpun aku tidak akan mencoba menghindar. Kurelakan tubuh yang lemah ini menjadi santapan badai ganas tersebut.

Harapanku hanya satu, aku ingin menyatu dengan alam dan menjadi bagian dari riak kecil ombak yang selalu bersahabat dengan batu karang. Batu karang yang sangat kokoh, yang tidak mudah patah walau dihantam oleh ribuan badai. (Jupiter doc/Jan08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: