RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Membuka lembaran baru

Posted by jupiter pada Januari 20, 2008

Membuka lembaran baru
Ditulis oleh : Jupiter

Perempuan malam itu duduk terpekur di depan kotak ajaib kesayangannya. Sesekali matanya tepejam, keningnya berkerut. Sedetik kemudian jemarinya mulai menari, meliukkan tarian hati yang selalu lekat dengan sunyi. Terkadang tatapan matanya menatap kosong ke lantai, jemari lincahnya menangkup wajah, kemudian dia menarik nafas sangat dalam, sebelum menghembuskannya kembali menjadi satu dengusan yang sangat berat.

Dalam usianya yang sudah melewati seperempat abad, untuk kesekian kalinya tamparan kehidupan kembali meluluh lantakkan jiwanya. Perjalanan cinta yang selalu menjadi pemacu harapan hidupnya, kembali menorehkan luka yang sangat dalam, tepat di atas lukanya yang belum sempat mengering.

Luka itu terkoyak kembali, darah mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Perlahan dia mulai berdiri, langkahnya terseok menahan beban tubuh yang kembali kehilangan keseimbangan. Bau amis seketika langsung menyebar, membuat orang-orang yang lalu lalang di dalam kotak ajaibnya langsung menghindar. Tatapan mereka dipenuhi mimik muka kasihan, namun begitu, tak ada seorangpun yang dengan tulus bersedia membantu membasuh darah yang mulai mengering di kedua sudut matanya.

Tubuh si perempuan malam yang sangat malang itu mulai menggigil, lukanya semakin mengangga, memperlihatkan warna putih daging tubuhnya. Darah yang mengalir mulai merembes membasahi lantai yang dipijaknya, meninggalkan jejak kaki yang diseret paksa. Tangannya menggapai mencari pegangan. Beberapa orang sahabat mengulurkan tangan mereka dari balik kotak ajaib kesayangannya, mencoba meraih tubuhnya yang mulai limbung. Namun si perempuan malam sudah terlanjur kehabisan darah.

Beberapa detik kemudian dia terjatuh luruh di atas lantai, menimbulkan suara “gedebuk” yang cukup keras. Kedua telapak tangannya menangkup di dada, mencoba menahan aliran darah yang terus keluar dari lubang yang semakin melebar. Kedua matanya terpejam pasrah, bibirnya yang mulai membiru bergetar hebat, menahan isak tangis darah yang menyertai rasa perih di jiwanya yang sudah tidak tertahankan.

Ketika detak jantungnya mulai melemah, tiba-tiba bayangan masa lalu mulai menari dan melayang-layang di depannya. Senyum, tawa serta canda bersama sahabat-sahabat di masa lalu perlahan memacu kembali detak jantungnya yang hampir terhenti, membangkitkan kembali semangat hidupnya yang sempat padam. Masa lalu yang hampir setahun ini selalu ditepisnya itu, ternyata menjadi obat yang sangat mujarab.

Darah yang mengalir dari luka di dadanya mulai berkurang, detak jantungnyapun berangsur normal, tatapan matanya yang memerah mulai berbinar, kedua tangannya bertumpu pada dinding kamar. .Dengan mengandalkan sisa-sisa tenaga, perlahan tapi pasti, pada akhirnya dia berhasil menopang kembali berat tubuhnya yang mulai dirasakan menjadi lebih ringan.

Tanpa menghiraukan darah yang mulai mengering di sekujur tubuhnya, perempuan malam kembali duduk di depan kotak ajaibnya. Diselipkannya sebatang rokok putih di sela-sela bibirnya yang masih bergetar. Dengan nafas yang masih memburu, ditarik dan dihembuskannya kuat-kuat, asap yang selama ini selalu menjadi sahabat setianya itu. Tatapan matanya nanar, melihat rangkaian slide yang menampilkan gambar orang-orang yang telah mencabik-cabik hatinya dan hampir membuatnya kehilangan gairah hidupnya itu.

Jiwa pendendam yang selama ini selalu berusaha untuk dikekangnya, seketika keluar kembali. Dengan geram di hapusnya segala yang menyangkut orang-orang yang sebelumnya sangat di kasihinya itu dari dalam memorynya. Dia sama sekali tidak mau lagi melihat mereka, kenangan indah bersama mereka hanya akan membuat luka di hatinya semakin bertambah parah.

Jiwa penulis yang mampu membaca segala yang tidak pernah diucapkan, membuatnya menjadi selalu mawas diri. Hanya dari obrolan ringan bersama orang-orang yang berseliweran di sekitarnya, imajinasinya langsung bisa memainkan karakter masing-masing dari mereka. Segala kepalsuan yang disuguhkan tidak akan pernah mampu bertahan lama berdiri di hadapannya, hanya ketulusan hati yang bisa menyentuh jiwanya yang sudah diselimuti oleh gumpalan darah yang sudah mengering.

Ketika dia hendak menyapu bersih segala kenangan yang telah menorehkan luka di hatinya itu, sesaat dia tertegun, jemarinya tertahan di atas tombol “Delete”.

Haruskah aku menghapus mereka untuk selamanya? Keningnya berkerut, kelopaknya terpejam rapat, seolah mencoba konsentrasi untuk mencari jawaban paling jujur yang tersimpan jauh di dalam hatinya.

Beberapa detik kemudian, dia menarik nafas panjang, perlahan senyum mulai mengembang di kedua sudut bibirnya. Kerut di keningnya seketika menghilang berganti cahaya yang mulai memancar pada raut wajahnya. Selanjutnya jemari yang tertahan tadi, kemudian dengan lincah memainkan “mouse”. Dibuatnya satu “folder” yang di beri nama “black memories”.

Sesaat kemudian, semua data yang berhubungan dengan orang-orang yang pernah menorehkan luka di hatinya itu langsung berpindah ke dalam folder baru tersebut. Setelah memindahkan folder tersebut jauh kedalam folder yang tidak pernah tersentuh, kemudian dia membuat kode protect pada folder tersebut. Selesai! Gumamnya sambil menarik nafas lega.

Dengan senyum yang mengembang di bibir serta gairah hidup yang mulai menyala kembali, di bukanya lembaran putih baru yang siap menampung kembali segala petualangan hidupnya.

Laksana warna pelangi, begitulah perjalanan hidupnya. Segala kisah pahit ataupun manis yang menyapa, selamanya akan selalu tersimpan di dalam memorynya. Tidak perduli seberapa dalam dia menyimpannya, pada saatnya nanti, memory itu akan berubah menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk di kenang. Dan menjadikan jiwanya selalu bisa bersyukur, karena telah di beri kesempatan untuk merasakan segala macam tamparan maupun sentuhan lembut yang belum tentu bisa dirasakan oleh orang lain.

Lembaran baru telah terpampang dihadapannya, darah yang mengering di tubuhnyapun telah dibasuhnya. Meski luka di dada masih mengangga, namun tekad perempuan malam telah kembali untuk melanjutkan petualangannya, dalam mengumpulkan kembali harapan hidupnya yang sempat tercecer. (Jupiter doc/Jan/08)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: