RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Akhir Sebuah Permainan

Posted by jupiter pada Januari 20, 2008

Akhir Sebuah Permainan
Oleh : Jupiter

”Kakak sayang…sekarang Ade sudah tahu jawabannya. Ade sudah memutuskan untuk mundur. Mulai saat ini, dia bukan pemantik pinjaman lagi, karena dia sudah bisa menyalakan kembali bara di hati kakak. Semoga kalian berdua bahagia.”

Untaian sms ini seketika membuat aku tertegun. Sungguh diluar perkiraan, kalau pada akhirnya kekasih akan menyerah begitu saja, setelah tujuh purnama dia bertahan dalam menghadapi emosiku yang timbul tenggelam.

Entah kalimat apa yang harus aku tuliskan untuk menjawab sms yang menyiratkan kepasrahannya itu. Tiba-tiba pikiranku menjadi “blank”. Sesaat kemudian, beberapa kisah manis yang pernah terjadi diantara kami tergambar kembali dengan sangat jelas.

Apakah betul, akhir seperti ini yang aku inginkan? Pertanyaan ini berputar-putar dalam benakku, menghadirkan satu rasa gundah yang tak berkesudahan.

Sudah satu bulan ini, komunikasi diantara kami seolah telah berubah menjadi rutinitas yang mulai membosankan. Tidak adanya kepastian akan hari depan, telah membuatku beberapa kali mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan hangatnya.

Seharusnya untaian sms itu membuat hatiku lega, karena pada akhirnya dia mau mengabulkan permohonanku tersebut. Namun mengapa yang terjadi di dalam hatiku malah sebaliknya? tidak ada perasaan lega sedikitpun, yang ada hanya perasaan sesak di dada serta pening di kepala yang menyerangku tiba-tiba.

Berkali-kali aku membaca ulang sms tersebut. Tanpa terasa, aliran hangat telah merembes kemudian menetes di kedua pipiku. Perasaan bersalah itu untuk kesekian kalinya sanggup mematahkan gumpalan emosi yang sudah satu bulan ini terus meledak-ledak di dalam dada. Emosi yang telah membutakan hatiku dari ketulusan cinta yang selama tujuh purnama ini telah dilimpahkan oleh kekasih.

Tiba-tiba aku merasa benci pada diriku sendiri.

Sepertinya aku sudah tidak kenal lagi, dengan segala perasaan yang selalu berkegemuruh di dalam diri.

Aku yang dulunya memiliki jiwa yang sangat penyabar, sekarang ini telah berubah menjadi jiwa yang tidak pernah mampu mengendalikan emosiku sendiri. Aku yang dulunya sangat perhatian dan selalu lebih perduli pada kebahagiaan pasangan, sekarang telah berubah menjadi sosok orang yang selalu menuntut untuk selalu diperhatikan dan hanya perduli pada kebahagiaanku sendiri. Aku benar-benar tidak mengerti dengan segala perubahan yang telah terjadi. Dan aku tidak pernah tahu, sejak kapan kepribadianku menjadi asing seperti sekarang ini.

Perlahan aku menarik nafas dalam, sebelum akhirnya aku menghembuskannya kembali menjadi dengus yang menyertai kehampaan. Jemari tanganku bergerak gemetar, menyentuh keypad pada ponsel. Sedetik kemudian sms dari kekasih telah sampai pada seseorang yang selama satu minggu ini, telah mampu menyalakan kembali bara di hatiku yang sudah mulai menjadi beku.

Dia yang dengan sengaja dikenalkan oleh kekasih, telah sanggup menebarkan rasa hangat di malam-malam sendiriku. Derai tawa riang dan celoteh polosnya telah membuat gairahku bangkit kembali. Aku tidak tahu pasti, apakah rasaku telah benar-benar berpindah? Ataukah semua ini hanya merupakan bara sesaat, yang hadir dan mengisi kekosongan di hatiku yang tidak pernah bisa di sentuh oleh kekasih? Dalam keadaan gundah, aku sama sekali tidak mampu menemukan jawabannya. Satu yang pasti, kehadirannya telah membuat aku benar-benar merasa terhibur.

Beep-beep. Dua buah sms masuk berturut-turut. Ku buka sms pertama,
”Ya ampun. Kok jadi begini sih? Aku jadi gak enak,loh!”
”Apa sebelum aku kehilangan akal, sebelum aku akhirnya merobek-robek hati dia. Apa sebaiknya semua permainan ini kita akhiri saja?” sms kedua ini seketika membuat aliran panas di kedua pipiku turun bertambah deras.

Dengan jemari yang mulai bergetar, kutuliskan sebaris kepasrahan yang tiba-tiba aku rasakan, “Oh… jadi kamu mau mundur juga? Fine! It’s ok, aku gak apa-apa kok! Aku sudah siap menerima resiko sepahit ini. Thank’s a lot, telah sudi mengisi malam-malam sendiriku.” Kemudian aku mematikan ponsel, aku tidak siap untuk membaca barisan kalimat selanjutnya.

Seperti paras bulan di langit yang sedang muram. Malam ini kembali harus kulalui, hanya dengan bertemankan beberapa puntung rokok dan kerak kopi yang makin kusam di dasar barisan gelas malam.

Kurebahkan tubuh yang tiba-tiba berpeluh ini di atas peraduan. Ku pandangi langit-langit kamar dengan sorot mata penuh kehampaan, tiba-tiba aku merasa takut akan sepi. Sepi yang seketika membalut diri dengan selimut sutra hitam yang bermotifkan setangkai bunga ilalang yang mulai mengering.

Mungkinkah semua ini memang sudah menjadi Takdirku? Takdir yang sangat getir, yang dengan gagu hanya mampu kuraba, namun tidak pernah sanggup kupegang. Ibarat pasir yang ada di bening gelas, aksara di tapak tangan hanya bisa dibaca dengan galau. Mawar yang tumbuh melalui ketukan jemari ini, kembali menusukkan durinya. Mengaburkan segala ceria dan harap yang kembali menguap dan melayang di langit yang tak berbintang.

Badai yang sengaja aku ciptakan, telah kembali merampas kemudiku. Dan menyeret khayal yang liar ini, kembali terbentur pada sebuah tembok di lorong yang sangat gelap, dengan belokan-belokan yang sarat dengan kejutan.

Malam ini, hamparan duri yang tersebar di lantai lorong gelap itu, telah membuat langkahku menjadi timpang. Membuat tubuhku menjadi limbung dan akhirnya membuat jiwaku terjatuh ke dalam lautan kesepian.

Bilakah ini menjadi permainan terakhirku?
Ataukah justru merupakan awal dari petualanganku yang baru?
Aku tidak pernah bisa tahu. (Jupiter doc/Jan08)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: