RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Secangkir Kopi Pedas

Posted by jupiter pada Januari 19, 2008

Secangkir Kopi Pedas
Saturday, January 19, 2008
Oleh: Jupiter

Tanggal 29 Juni 2007, merupakan tiga minggu resminya aku dan partner mengikrarkan diri untuk menyatukan komitmen kami. Walau keberadaan kami dipisahkan oleh ruang dan waktu, namun berbagai persamaan persepsi serta hobi, telah sanggup mengaburkan jauhnya jarak yang membentang di hadapan kami. Kemesraan di antara kami bertambah hangat dengan hadirnya berbagai aroma kopi yang di suguhkan oleh para peracik kopi kebanggaan kami.

Setelah aku dan partner menghabiskan beberapa cangkir kopi, tiba-tiba tenggorokanku tercekat. Rasa pahit kopi yang disuguhkan oleh salah seorang peracik favorit kami benar-benar menyebarkan aroma yang berbeda. Aroma “pedas” seketika menghilangkan rasa manis pada puluhan cangkir kopi yang telah kami teguk. Aroma itu sangat mengganggu kenikmatan!

Ketika aku menanyakan hal ini pada partner, ternyata dia mengalami hal yang sama. Tenggorokannya sama tercekatnya dengan tenggorokanku. Namun dia tidak merasakan pening serta sakit perut yang menyerangku.

Penasaran, akhirnya aku dan partner mencoba mencerna serta mencermati pekatnya kopi yang mengganggu kenikmatan. Dan ternyata, racikan pada gelas kopi yang terakhir kami minum, benar-benar berbeda dari racikan kopi sebelumnya. Dia terlalu pekat! Saus pedas yang dicampurnya terlalu kental, sehingga menimbulkan perasaan panas pada tenggorokan, pikiran, bahkan perutku.

Malam harinya, untuk mengurangi segala perasaan negatif yang semakin meradang dan mengganggu kestabilan emosiku, akhirnya aku mencoba menuangkan kekecewaanku tersebut ke dalam sepucuk surat yang sebenarnya ingin kuserahkan kepada sang barista. Namun jiwa pendendam yang masih bercokol di dalam diri melarangku untuk meneruskan niat itu. Aku belum siap menerima siraman kopi yang lebih “pedas” dari yang kami teguk tadi jika ia membalas suratku.

Melalui sms, aku terus mencoba melakukan diskusi dengan partner. Setelah melalui perang batin yang sangat hebat, akhirnya aku berhasil mengumpulkan keberanian. Didukung oleh semangat yang diberikan oleh partner, malam itu juga aku langsung mengirimkan surat yang berisi ganjalan hatiku.

Awalnya aku berpikir, dengan mengirimkan surat yang berisi kekecewaanku tersebut, perang batin yang berkecamuk di dalam diri akan menguap begitu saja. Tapi ternyata perkiraanku salah! Perang batin itu sama sekali tidak mau pergi, dia malah makin merajalela; menyebarkan virus gelisah dalam hatiku.

Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa menyesal telah mengirimkan surat “lancang” tersebut. Aku merasa tidak mempunyai hak apa-apa untuk menghakimi orang yang telah dengan sukarela, selalu menyuguhkan puluhan cangkir kopi yang telah memberikan rasa manis, serta menyegarkan hati dan pikiranku. Hanya karena satu cangkir kopi dengan aroma yang berbeda, aku telah menjadi seorang yang sangat bodoh.

Seharian itu, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku terus terjaga, sampai pada akhirnya surat lancangku tersebut mendapatkan balasan. Dengan perasaan yang sulit diungkapkan, aku membuka lipatan demi lipatan surat tersebut. Kubaca cepat.

Mengapa aku menulis seperti itu? Karena aku merasakan kegelisahan dari apa yang aku amati, lihat, observasi, dan selami. Aku selalu merenungi setiap peristiwa yang terjadi. Aku menulis setelah melalui pergulatan batin dan pikiran.

Sejenak aku berhenti membaca, berbagai perasaan bersalah itu kembali mencabik-cabik keegoisanku yang telah dengan mudah menghakimi orang yang telah melahirkan karya-karya hebat yang sebetulnya sangat aku kagumi. Dengan menarik napas dalam-dalam aku melanjutkan membaca,

Ada yang tidak setuju dengan pendapatku? Boleh-boleh saja. Aku tidak keberatan. Namanya juga bebas berpendapat. Ada terang, ada gelap. Ada hitam, ada putih. Ada tinggi ada rendah. Semua ada kontra dan pro. Aku nggak keberatan sama sekali jika tulisanku tidak disetujui. Silakan menulis dengan bobot kualitas yang baik juga, mengkritik ketidaksetujuannya. Jangan memaksaku untuk mengubah caraku menulis, itu salah.

Ups! Tiba-tiba perasaan bersalahku seketika menguap. Dia menantangku. Buset, dia menantangku!

Aku membaca ulang barisan kalimat yang seketika sanggup membangkitkan harga diriku. Semangatku langsung berkobar-kobar. Jiwaku menggebu untuk segera memberikan pembuktian. Aku tidak mau dianggap sebagai pecundang yang hanya bisa memberi kritik, tanpa bisa mewujudkan kritikan tersebut ke dalam racikan kopi yang berbeda.

Dengan segala keterbatasan kosa kata yang tersimpan di otakku serta melalui proses jatuh bangun—malah dibantu oleh peracik kopi yang telah aku hakimi tersebut—aku berhasil membuat satu racikan kopi dengan aroma yang berbeda. Aroma yang bagi sebagian pelanggan mungkin dianggap sebagai suguhan kopi terburuk. Tapi aku tidak peduli! Aku senang terus belajar meracik kopi sampai aku bisa berdiri berdampingan dengan para peracik kopi hebat lainnya.

Pada akhirnya, ketika pesta telah berakhir, ketika lampu-lampu dipadamkan, ketika meja-meja digeser, dan lantai disikat, aku berdiri di depan pintu kafe, mengenang satu tahun perjalanan panjangnya sambil berpikir tentang hidupku sendiri. Terima kasih, Tuhan atas teman-teman yang hadir dalam hidup, yang memperkaya keberanianku, khususnya kepada barista lain yang telah memberikan penyegaran jiwa; Lakhsmi yang menantang dan mengembangkan hobi menulisku yang terpendam dalam diri.

Selamat ulangtahun kafe Sepoci Kopi. Dari secangkir kopi pedas, kutemukan rasa manis yang berbeda.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: