RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Pertikaian di dalam diri

Posted by jupiter pada Desember 20, 2007

Pertikaian di dalam diri
Oleh : Jupiter

Apakah aku sedang masuk ke dalam satu titik yang dinamakan jenuh?

Aku tidak tahu pasti. Yang aku rasa, ada semacam penolakan di dalam diri, setiap kali aku berniat menghubungi kekasih. Berbagai kekecewaan yang selalu hadir dalam setiap perbincangan kami, seolah terus berputar dan menari dalam pikiranku. Kepastian yang tidak pernah sanggup diberikan oleh kekasih, membuat aku merasa di gantung. Semakin hari, obrolan diantara kami terasa hanya merupakan obrolan basa basi semata. Entah mengapa, aku merasa hanya dimanfaatkan, bukan berupa materi. Aku sendiri bingung, mengapa aku bisa mempunyai pikiran sepicik itu?

Apa sebetulnya yang salah dalam hubungan ini?

Cinta? Setiap hari, setiap jam bahkan setiap menit, kekasih memang selalu menaburi aku dengan rangkaian kata-kata indah itu. Meski hanya berupa rangkaian kata dan kalimat, pada awalnya cukup membuat hatiku dibuatnya melambung dan merasa dibutuhkan. Namun seiring dengan berjalannya sang waktu, semua kata-kata indah itu terasa semakin menjadi hambar. Yang aku butuhkan saat ini adalah sosok nyata dan bukan hanya sekedar kata-kata.

Apa yang telah aku dapatkan dari hubungan ini?

Hiburan? Ya, aku memang merasa terhibur apabila topik obrolan kami sedang hangat-hangatnya. Namun begitu aku mematikan ponsel, aku kembali terpuruk ke dalam jelaga kesepian. Segala masalah yang menghadang, tetap saja harus aku hadapi sendirian. Ini sama sekali bukan hubungan yang aku inginkan.

Tapi mengapa aku bisa bertahan sampai sekarang? Apakah karena rasa kasihan semata ataukah memang aku juga membutuhkan?

Ya, aku memang merasa prihatin dengan kondisi yang tengah dihadapi oleh kekasih, keruwetan rumah tangga yang tidak pernah tersentuh oleh hangatnya api cinta, telah menyeretnya ke lembah kesepian. Dan aku merasa bahagia karena meski hanya sementara, namun telah sanggup membuatnya lupa pada segala kesedihan yang tengah dialaminnya. Disaat bersamaan, aku juga memang membutuhkan seseorang untuk bisa diajak berbagi. Mungkin benar yang pernah dilontarkan oleh seseorang yang pernah hadir dalam hidupku. Menurutnya aku adalah type orang yang pamrih.

Tapi apakah itu salah? Apa sebetulnya makna dari kata pamrih ini?

Aku hanyalah manusia biasa, yang memberikan perhatian dengan harapan agar aku juga diperhatikan. Melimpahkan kasih sayang, dengan harapan agar aku juga diperlakukan sama. Bahkan Tuhan-pun menciptakan kita dengan harapan agar kita menjalankan segala perintah dan ajaran-ajarannya, apakah ini juga bisa dikategorikan sebagai pamrih? Aku benar-benar tidak suka dengan kata itu.

Apakah hubungan kami ini, hanya sekedar pengisi kesepian semata?

Kalau hanya sekedar mengisi kesepian, rasanya dengan menjelajahi dunia maya, menikmati alunan musik favorite serta menghabiskan waktu di depan layar kaca, kesepianku bisa terobati. Tapi tidak demikian dengan kekasih, dia membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan segala kepenatan dalam menjalani hari-harinya. Dia membutuhkan mimpi untuk bisa melupakan segala keruwetan rumah tangganya. Dia membutuhkan harapan, untuk bisa lepas dari segala kesedihannya.

Jadi apa sebetulnya yang aku harapkan, dari hubungan kami ini?

Masa depan! Aku mengharapkan kehadiran seseorang yang bisa diajak bertukar pikiran dalam menyusun segala strategi untuk meraih segala impian masa depan. Dan menjalankan berbagai strategi tersebut dengan bergenggaman tangan. Awalnya aku mengganggap kelebihan yang dimiliki kekasih, bisa menutupi sisi kekuranganku. Tapi sepertinya kekasih tidak bisa memberikan kepastian yang aku harapkan. Hari-hari semu yang aku jalani bersamanya, memang menghanyutkan, tapi tidak pernah sanggup membangkitkan gairahku, untuk menjalankan segala rencana masa depan yang sebelumnya sudah aku susun. Bahkan semakin hari, aku semakin menjauh dari rencana hidupku tersebut.

Memangnya apa sebetulnya impian masa depanku itu?

Masa tua yang tenang, yang tidak diperbudak lagi oleh yang namanya materi. Masa tua yang tidak menyusahkan orang lain, kecuali orang-orang yang memang menjadikan ketidak berdayaan hari tua kami sebagai mata pencaharian. Masa tua yang bisa menikmati hari-hari, tanpa di repotkan dengan segala aturan dan norma yang selalu menjegal kebahagiaan. Masa tua yang sanggup menghadirkan tawa, di bibir orang-orang yang untuk sekedar tersenyumpun, mereka tidak pernah mempunyai kesempatan. Masa tua yang tidak sia-sia. Masa tua yang sampai ajal menjemput masih berguna untuk orang lain.

Jadi, apa sebetulnya yang harus aku lakukan?

Inilah yang selalu membuat panas kepalaku, membuat sesak nafasku dan mematikan gairah hidupku. Logika, Pikiran dan hatiku, tidak pernah kompak dalam memberikan jawaban atas pertanyaan ini.

Logika mengatakan; Untuk bisa kembali ke tujuan hidupku semula, aku harus segera menyudahi hubungan yang selalu dipenuhi dengan mimpi-mimpi yang serba tidak pasti ini. Dan mulai menjalankan segala strategi yang sudah aku susun dengan ataupun tanpa bantuan seseorang yang special dalam hidupku.

Pikiran menjelaskan; Aku tidak akan pernah sanggup berjalan sendirian, aku membutuhkan seseorang yang bisa mendampingi langkahku, mengingatkan segala kealfaanku dan mendukung segala yang menjadi rencanaku. Semua itu tidak akan bisa aku dapatkan hanya dari seorang teman biasa.

Hati berbisik; Aku tidak boleh mengecewakan dan menyakiti hati orang yang telah dengan tulus menyayangiku. Aku harus selalu merangkul dan memberikan rasa damai kepada orang-orang yang aku kasihi tersebut.

Pada akhirnya, seperti biasa otakku malah blank! Aku sama sekali tidak sanggup melahirkan ide apapun, untuk menjawab pertanyaan terakhir ini. (Jupiter doc/Des07)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: