RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Bermula dari Catatan Harian

Posted by jupiter pada Desember 11, 2007


Menulis itu mudah. Begitu kata Bang Arswendo. Nggak percaya? Cobalah mulai dari diari. Buat permulaan, diari bisa jadi tempat latihan paling murah dan tidak banyak menuntut. Materinya tentu terserah kita.

Pertama-tama, bisa mulai dari menuliskan perasaan kita tentang apa saja. Tidak perlu takut salah, yang penting bebaskan pikiran, menulislah sesuka hati. Seorang guru pembimbing penulisan, namanya William Forrester pernah bilang, “Menulislah – pada saat awal – dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang anda rasakan.”

Buku harian tentu jadi tempat yang cocok untuk menampung gagasan-gagasan hati ini. Banyak penulis yang memulai karir kepenulisannya lewat catatan harian. J.K.Rowling, penulis fiksi Harry Potter yang terkenal itu mulai corat-coret pertama dari diari. Muhamad Yamin, salah satu founding father kita yang menggagas teks Sumpah Pemuda, menjadi terkenal salah satunya adalah berkat latihan dan kesetiaan menulis diari.

Selain itu, sebagian kita mungkin juga pernah mendengar nama Soe Hok Gie. Beliau adalah salah satu tokoh kunci gerakan mahasiswa angkatan enampuluhan. Aktivis keturunan Cina tapi lebih Indonesia dari orang Indonesia ini menulis catatan harian sejak ia berumur 15 tahun, sewaktu masih duduk di SMP. Tradisi menulis catatan harian ini ia pelihara terus, bahkan hingga menjelang wafatnya. Banyak hal yang ia ungkapkan di situ. Mulai dari yang lucu (tentang teman-teman dan gurunya di sekolah), yang dramatis (tentang ketidakadilan, tentang aktivitas pergerakan di lapangan demonstrasi, dan pengucilan dirinya dari kawan-kawan sepergerakan) hingga hal-hal yang romantis.

Berkat latihan dan ketekunan menulis catatan harian, ia jadi mudah mengekspresikan gagasan-gagasan dan kegelisahannya waktu itu di gelanggang yang lebih luas. Tulisan-tulisannya juga menyebar ke media publik nasional. Bukan hanya aktivitas pergerakannya di lapangan demonstrasi, tulisan-tulisannya juga membikin ciut nyali banyak pihak, termasuk kawan-kawannya sendiri.

Setelah wafat, catatan-catatannya itu kemudian dikumpulkan dan dibukukan dengan judul “Catatan Seorang Demonstran”. Buku kumpulan catatan harian Hok Gie ini, konon jadi salah satu penanda penting tentang sejarah gerakan mahasiswa angkatan 66. Saat ini kabarnya Mira Lesmana sedang bersiap-siap meluncurkan film biografi Soe Hok Gie, judulnya “Gie”. Buku “Catatan Seorang Demonstran” inilah yang menjadi sumber rujukan utama Mira.

Jauh setelah generasi Hok Gie, kita mengenal Dyan Nuranindya, pengarang novel remaja “Dealove”. Seangkatan dengan Dyan, ada Laire Siwi yang mengarang novel “Nothing but Love” dan Maria Ardella, pengarang novel “Me Versus High Heels!”. Ketiganya mengaku mulai menulis dari diari. Hasilnya kita bisa lihat. Novel-novel mereka dibaca dan diburu, sebagian malah mengalami cetak ulang. Konon, dari royalti penerbitan buku-buku mereka, mengalir duit jutaan ke kocek masing-masing.

Jika di Indonesia kita mengenal Gie, Dyan, Laire, dan Maria, dari buku catatan harian kita juga bisa mengenal Anne Frank. Anne adalah salah satu generasi penulis perempuan Jerman yang terusir dari negerinya akibat kebijakan penghapusan ras Yahudi oleh Hitler. Catatan harian Anne Frank ini adalah kesaksian dramatis bagaimana ia melarikan diri dari kejaran Nazi, kekejaman Nazi, dan bagaimana ia mempertahankan catatan hariannya itu dari serdadu Nazi. Kisahnya juga sudah difilmkan dengan judul yang sama dengan nama penulisnya.

Lalu, kenapa catatan harian? Anais Nin, seorang penulis Prancis dan banyak menulis catatan harian, pernah berujar “orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas.”

Jalan menuju kreativitas dan penemuan diri. Dua hal itulah yang bisa kita peroleh ketika mulai menulis dan menekuni penulisan catatan harian. Dua hal itu pula yang kita perlukan untuk merintis jalan sebagai penulis. Terlebih saat ini, begitu banyak ruang yang terbuka bagi penulis-penulis muda.

Jadi, tunggu apa lagi? raihlah kesempatan!(hpk doc.)

(Sumber: Penulislepas.com/Denny Y. F. Nasution)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: