RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Hati dalam Perjalanan

Posted by jupiter pada Desember 6, 2007

Hati dalam Perjalanan
Thursday, December 6, 2007
Oleh: Jupiter

Siang itu seperti biasa, jalan tol dalam kota menuju bandara Soekarno Hatta dalam kondisi padat merayap. Entah untuk yang berapa puluh kalinya, kulirik jam yang melingkar di tangan dan diakhiri embusan nafas berat.

Dalam duduk yang mulai gelisah, kuedarkan pandangan ke luar kaca jendela untuk sedikit meredakan kegundahan hatiku. Dua jam lagi, maskapai yang akan membawaku terbang menuju salah satu rekan bisnis yang berada di lain pulau, akan segera tinggal landas. Tinggal satu jam lagi waktu yang kupunya, sementara bus luar kota yang aku tumpangi masih terjebak di sini, dalam kemacetan jalanan ibu kota yang tidak pernah bisa di prediksi waktu tempuh setiap harinya.

Setelah mengamati pemandangan di luar bus dengan tatapan kosong, aku mulai menyibukkan diri dengan mencari tahu penyebab dari segala kegundahan hatiku ini. Dengan malas, aku mengeluarkan pena dan kertas dari dalam tas kerja, kutuliskan beberapa kata yang berputar-putar dalam benakku.

Bisnis. Ini adalah perjalanan bisnis biasa, yang sama sekali tidak akan membuat aku jatuh pailit, seandainya aku tidak bisa hadir pada pertemuan kali ini. Sambil menatap deretan mobil yang ada di samping bus, aku menggeleng-gelengkan kepala. Kugoreskan lagi kata selanjutnya,

Macet. Setelah kurang lebih 13 tahun mengembara di ibu kota, kemacetan seperti ini sudah menjadi santapan sehari-hariku. Dan kemacetan ini sama sekali tidak pantas aku jadikan sebagai alasan atas kegundahan yang membuat sesak nafasku.

Fisik. Memang penyakit insomania yang sudah beberapa tahun melekat dalam diri, memang sangat mengganggu kestabilan kondisi fisikku. Dalam usia yang sudah lewat dari seperempat abad, tubuhku memang sangat rentan dengan beberapa penyakit, seolah sudah menjadi langganan bagi siapa saja yang bersahabat dengan dunia malam. Ya! Point yang itu bisa kumasukkan sebagai salah satu kategori penyebab kegundahanku kali ini.

Tujuan. Sesaat aku termenung membaca kata yang aku goreskan ini. Apa sebetulnya tujuan perjalananku? Masa depan? Ya! Mungkin masa depan, tapi masa depan seperti apa yang aku inginkan? Kembali kuedarkan pandangan kosong ke luar jendela sambil mengetuk-ngetukkan pena ke atas notes. Dari pantulan kaca jendela aku melihat mimik air mukaku sendiri; kening berkerut, kedua mataku menyipit. Beberapa saat kemudian kurasakan pening mulai menyerang kepala, selanjutnya asam lambungku mulai naik. Masa depan! Mengapa dua kata ini, selalu saja membuat otakku tiba-tiba buntu. Sambil menahan mual yang mulai menyerang, aku menutup notes.

Jam di tangan menunjuk waktu 11:25. Berarti sudah dua jam lebih, perjalananku meleset dari perkiraan semula. Untuk kesekian kalinya, kembali aku harus merelakan tertinggal pesawat yang sudah aku booking tiga hari yang lalu.

Dalam penat, daya khayalku mulai bermain. Seandainya saat ini aku memiliki sapu terbang atau dua sayap, aku pasti sudah melesat meninggalkan kemacetan yang menjebak perjalananku ini. Juga misalnya teman seperjalananku adalah Doraemon, mungkin aku sudah meminjam pintu ajaibnya untuk kembali pulang ke rumah dan bercengkrama dengan bunda, atau menemui kekasih yang tak pernah berhenti merindukan kehadiranku secara nyata.

“Jam berapa, Mbak?” teguran pria di sebelah spontan membuyarkan pikiranku. Segera aku melihat jam di tangan.

“Jam sebelas lewat empat puluh, Mas,” jawabku datar.

Pria di sebelahku menganggukkan kepala sambil melemparkan senyuman sebagai ucapan terima kasih. Kemudian dia mengeluarkan telepon genggam dan mulai asyik memainkan keypad-nya. Sama sekali tidak nampak kegusaran di wajahnya. Tentu saja sikap tenangnya itu membuat aku mengerutkan kening, karena kemacetan ini hampir membuat sebagian besar penumpang menghela napas berat, tanpa bisa berbuat apa-apa selain bersabar.

“Mau jemput ya, Mas?” tanyaku kemudian, mencoba menebak-nebak.

“Oh! Nggak! Saya cuma mau ngambil kiriman paket saja, kok!” jawabnya ramah. Hmm… pantesan, dia tenang banget. Pikirku puas setelah mengetahui sumber dari sikap tenangnya tersebut.

Sesaat kembali terlintas sebaris tanya dalam benakku, mengapa aku tidak bisa setenang dia? Padahal tidak ada yang bersifat urgent dalam perjalananku kali ini. Apa sebetulnya yang membuat aku gelisah? Sebelum pening di kepalaku mulai menyerang lagi. Aku menepis semua tanya yang tidak pernah sanggup kutemukan jawabannya itu. Kutarik napas panjang, kemudian kututup pendengaranku dengan sepasang ear phone yang sejak awal perjalanan telah kugantungkan di leher.

Untuk selanjutnya lantunan Electric Blue-nya Cranberries yang disenandungkan khusus oleh kekasih, telah sanggup mengusir segala rasa gelisah dalam diri, bersamaan dengan hadirnya perasaan damai yang menemani perjalananku.

If you should go, you should know… I love you
If you should go, you should know… I’m here
Always be near me, guardian angel
Always be near me, there’s no fear

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: