RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Tamparan Kehidupan

Posted by jupiter pada November 20, 2007

Tamparan Kehidupan
Oleh : Jupiter

Lingkaran kehidupan sungguh merupakan satu misteri. Betapapun kuat dan pintarnya seseorang. Apabila kesabaran sudah mulai menghilang, pada akhirnya pasti akan menyerah dan mungkin akan terkapar tanpa sempat berperang.

Aku merupakan satu dari sekian banyak pengembara yang tidak mempunyai peta. Dengan hanya mengandalkan kepekaan rasa serta kuatnya hasrat di jiwa. Kujelajahi terjalnya jalan yang membentang di hadapan, tanpa tahu pasti kemana arah dan tujuan.

Satu demi satu tapak, telah aku tinggalkan. Tetes demi tetes darah, telah aku goreskan. Namun hingga senja menjelang, pencarianku tetap saja belum menemukan satu titik terang. Bilakah, aku sanggup bertahan?

Diambang senja, dimana masa remaja telah sangat jauh aku tinggalkan. Segala ketidak setabilan di jiwa, seharusnya sudah bisa aku tanggalkan. Tapi entah mengapa, meski selalu aku tolak. Namun disaat satu nyanyian sumbang mampir ke dalam pendengaran, aku tak pernah sanggup untuk mengelak. Amarah yang senantiasa membangkitkan rasa dendam itu seolah sudah melekat erat di dalam diri.

Laksana bom waktu yang sudah terpacu. Darah muda yang bersarang di dada, seketika mengalir deras dan siap untuk memicu satu ledakkan yang maha dasyat.

Kali ini aku tidak mau terbakar lagi. Sudah terlalu banyak, hati ini menanggung rasa pedih yang selalu digoreskan oleh sisa ledakkannya. Aku tak boleh kalah lagi. Mulai saat ini, aku harus bisa mengekang serta meredam segala amarah yang menyapa di jiwa.

Masih jelas dalam ingatan, ketika seorang teman terkapar, akibat terkena ledakkan dendam yang tak bisa kutahan.

Pada saat itu, dalam satu perdebatan yang sangat panjang, dengan sengaja dia mulai menantang kepiawaianku dalam berperang. Awalnya aku hanya diam, dan berniat untuk meninggalkannya sendirian. Namun ketika dengan sengaja dia mulai menyenandungkan nyanyian sumbang tentang orang yang sangat aku sayang. Aku tak bisa tinggal diam lagi.

Dengan geram, seketika aku hantam kepalanya dengan palu godam. Ku cabik mulutnya dengan parang yang selalu terselip di pinggang. Ku benamkan wajahnya ke dalam kubangan kotoran, hingga nafasnya mulai tersenggal. Masih belum puas, ku ambil sejumput garam, kemudian kutaburkan di atas lukanya yang mulai meradang.

Sedetik kemudian dia mulai meregang. Kunikmati setiap erang kesakitan yang kudengar. Setan dalam kepala menyeringai senang, ketika satu nyawa melayang dalam genggaman. Sambil tersenyum, aku melenggang pulang dengan membawa satu kemenangan.

Ku kabarkan kepada orang yang sangat aku sayang, tentang kepiawaianku dalam berperang barusan. Semula aku kira dia akan berteriak kegirangan, karena aku telah menjadi seorang pahlawan. Namun kenyataan tak seperti yang aku bayangkan.

Begitu aku selesai mengumbar kabar kemenangan, dia langsung terdiam, sama sekali tak terpancar sorot mata senang. Hanya helaan nafas panjang yang dia keluarkan. Setelah membisikan satu kata bahwa aku telah salah paham. Tanpa bisa kucegah, dia langsung meninggalkan aku sendirian dan tak pernah kembali pulang.

Dalam kebimbangan, satu penyesalan mulai datang. Di saat tanduk di kepala mulai tenggelam, aku berlari tunggang langgang untuk melihat keadaan sang teman, dengan harapan masih bisa di selamatkan. Namun malang tak dapat di tolak. Hanya karena nyanyian sumbang yang mengganggu pendengaran, dalam satu kesempatan aku telah kehilangan dua orang terdekat.

Ini adalah sepenggal kebodohanku di masa silam.

Saat ini kondisi tubuhku sudah mulai letih, langkah mulai kaku dan nafas mulai tersenggal. Aku harus terus melanjutkan perjalananku yang masih sangat panjang. Aku tak boleh pasrah pada kubangan kehidupan yang memang selalu berputar, mengincar, dan siap untuk melahap segala kelemahan yang ada di dalam diri. Hanya keledai dungu, yang selalu terperosok ke dalam satu kubangan yang sama.

Biarlah nyanyian sumbang itu mengalir dan kemudian menghilang dengan sendirinya. Yang aku lakukan, hanya bisa menghindar. Aku tak akan menguras sisa tenagaku hanya untuk kesia-siaan. Tebing yang harus kudaki masih sangat tinggi, jurang yang harus kulewati masih teramat curam. Langkahku tak boleh tergelincir lagi, semangatku tak boleh menjadi berkarat hanya karena panggilan yang memancing dendam kesumat.

Di saat kedewasaan mulai menyapa, segala tamparan kehidupan harus aku jadikan sebagai teman dalam perjalanan. Ku tancapkan keyakinan dalam diri, bahwa di setiap kesulitan pasti selalu ada kesempatan.

Terima kasih kepada seorang teman yang telah memberikan tamparan, sehingga membuat aku terbangun dari tidur yang sangat panjang. (Jupiter doc/Nov07)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: