RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Sebaris Tanya Dalam Diri – Jupiter

Posted by jupiter pada November 2, 2007

Sebaris Tanya Dalam Diri
Oleh : Jupiter

Kisah ini merupakan penggalan dari curahan hati yang pernah aku posting, di salah satu blog lesbian yang pertama aku temukan, dalam penjelajahanku mencari teman sehati di dunia maya. Tepatnya tanggal, 02 Juni 2007.

Setelah satu tahun kepergian ayah dan karena kesibukan saudara-saudaraku dengan keluarga kecil mereka, akhirnya bunda terpaksa harus menempati rumah kami seorang diri. Kondisi seperti ini kemudian membuat aku yang merupakan anak satu-satunya dari enam bersaudara yang masih berstatus lajang, akhirnya harus mengalah untuk melepaskan pekerjaan tetap yang sudah aku geluti selama 12 tahun. Dan kembali ke kota kelahiran untuk merawat serta menemani hari tua bunda yang memang sudah sakit-sakitan. Aku tidak mau mengulangi penyesalan, akibat tidak bisa menemani hari-hari terakhir ayahanda tercinta.

Aku termasuk anak yang sangat sayang terhadap orang tua. Meski semenjak remaja aku sudah merasakan ada yang berbeda pada orientasi seksku. Namun tak pernah sekalipun aku ceritakan kepada mereka. Bukannya aku pengecut, tapi aku sama sekali tidak mau membuat mereka terluka, karena dikucilkan oleh tetangga serta kerabat dekat yang mayoritas homophobia.

Beranjak dewasa, ketika aku mulai mengadu nasib di luar kota. Aku menemukan ternyata sebagian dari sahabatku, mempunyai perbedaan yang serupa. Berdasarkan kisah cinta mereka, aku mendapatkan keberanian untuk mulai mendekati sosok gadis yang selama ini selalu aku puja.

Awalnya dia tidak mempunyai perasaan yang sama, dia hanya menganggap aku sebagai kakak. Namun seiring berjalannya waktu dan karena gigihnya perjuanganku. Perlahan gadis yang aku puja mulai menunjukan gelagat yang sama. Berkat kesabaranku dalam meluluhkan keteguhan hatinya. Tidak sampai satu bulan, akhirnya dia membalas menggenggam erat uluran kasih yang aku tawarkan.

Sembilan tahun kami menjalani hidup bersama dengan penuh rasa bahagia. Komitmen kami yang tidak saling mengekang kebebasan dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan, telah membuat tahun-tahun yang kami jalani begitu terasa sangat nyaman dan melenakan. Meski tak jarang ada perbedaan-perbedaan kecil yang menimbulkan rasa sensi di hati kami. Namun semua itu malah semakin membuat kami merasa tidak bisa terpisahkan. Virus ketergantungan telah mewarnai hubungan kami.

Walau begitu, kerahasiahan hubungan kami tetap tersimpan dengan sangat rapi. Keakraban kami dengan keluarga besar, mampu mengelabui lingkungan sekitar dan membuat mereka percaya, kalau kebersamaan kami memang wajar adanya, layaknya hubungan antar saudara.

Seiring bertambahnya usia, satu persatu masalah mulai muncul dari keluarga besar kami berdua. Pertanyaan demi pertanyaan mulai memojokkan status kesendirian kami. Di mata keluarga, kami dianggap sudah sangat matang untuk membina satu keluarga yang ”sebenarnya”.

Tekanan yang lebih besar muncul dari keluarga besarku. Di usiaku yang sudah menginjak kepala tiga dan diantara enam bersaudara, tinggal aku sendiri yang masih tetap mempertahankan kelajanganku. Meski aku selalu berkelit dengan berdalih, belum menemukan calon pasangan yang sesuai. Namun lama kelamaan mereka mulai curiga pada kedekatanku dengan partner, yang memang selalu aku manjakan.

Segala cara mereka lancarkan, agar aku bersedia untuk segera berumah tangga. Mulai dari pembahasan di dalam keluarga seputar pembukaan aura jodohku, sampai bantuan orang-orang yang dianggap bisa mengusir ”bala” pada hubungan kami, yang mulai dianggap sudah di luar batas kewajaran.

Berdasarkan informasi dari salah satu saudara yang pro pada kedekatan kami. Ternyata keluarga besarku mulai menimpakan kesalahan ”kesendirianku” pada partner, yang sebelumnya sudah mereka perlakukan sebagai anggota keluarga sendiri. Tanpa sepengetahuanku, mereka meminta partner untuk mulai mengurangi porsi kebersamaan kami. Partner sama sekali tidak pernah mengutarakan hal ini kepadaku. Dia hanya mengambil sikap diam, dan selalu menolak apabila aku ajak mengunjungi orang tuaku.

Berawal dari dilema yang terus menerus mewarnai hubungan kami. Perlahan keterbukaan diantara kami mulai berkurang. Meski masih bersama, namun kami menjadi semakin jarang berbicara, terutama kalau sudah menyangkut masalah keluarga besar.

Sampai pada akhirnya secara terang-terangan partner mulai mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria asing, yang notabene adalah salah satu customer di perusahaan tempat kami bekerja.

Mengetahui hal tersebut, aku benar-benar merasa terpukul. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah pelariannya tersebut. Aku sangat memahami perasaan sakit hati partner akibat tudingan yang di lancarkan oleh keluarga besarku. Sepertinya dia ingin membuktikan pada keluargaku. Kalau kebersamaan kami ini, bukan lantaran dia sudah tidak di lirik oleh lawan jenis.

Tiga bulan partner menjalin hubungan dengan pria asing customer kami tersebut. Dan selama itu pula rahasia demi rahasia mulai mewarnai kebersamaan kami. Perlahan, kepercayaan diantara kami mulai memudar.

Sampai pada suatu malam seorang pria asing yang dikenalnya melalui salah satu friendster, datang bertamu ke rumah kami. Dia sengaja datang dari negaranya, untuk berkencan dengan partner. Singkat cerita mereka pergi berkencan ke daerah pantai yang letaknya berada di ujung ibu kota. Malam itu aku masih tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika mereka pamit pun, aku hanya sanggup mengecup kening partner serta berpesan untuk hati-hati dalam menjaga diri. Saat itu partner hanya tersenyum. Sepintas kulihat sorot matanya begitu berbeda, seolah ada kabut yang menyelimuti cerianya.

Sepeninggal mereka, aku langsung terpuruk luruh di dalam sepinya kamarku. Aku benar-benar merasa sudah menjadi pecundang, karena tak mampu lagi menghibur dan melindungi orang yang sangat aku sayang. Semenjak saat itu aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri. Ketidak mampuanku menghadapi tekanan dari keluarga besar membuat aku semakin kehilangan kepercayaan diri.

Hampir setahun keadaan seperti itu terus berlanjut, dilema perdebatan keluarga yang kami hadapi telah sanggup menciptakan jarak pada kebersamaan kami. Tanpa kami sadari, kami telah berubah menjadi sosok orang-orang yang selama ini selalu kami hindari. Aku berubah menjadi sosok orang yang sangat pendiam dan selalu menutup diri, sementara partner berubah menjadi sosok gadis liar, yang seolah tak pernah bosan terus berganti pasangan.

Awal tahun 2005, atas nama saling introspeksi diri dan dengan tujuan agar tidak saling menyakiti. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk berpisah sementara. Kami tidak sadar, kalau ternyata kesepakatan yang telah kami pilih tersebut, merupakan kesalahan kami yang sangat fatal.

Tahun pertama, kami masih bisa saling mengungkapkan rasa sayang meski hanya melalui fasilitas jaringan.

Tahun kedua, keakraban diantara kami sudah mulai terasa hambar. Semakin hari aku semakin tidak bisa mengerti lagi, dengan jalan pikiran partner.

Tahun ketiga, petualangannya dengan berbagai macam lelaki, perlahan tapi pasti telah sanggup menumbuhkan rasa jijik di dalam diriku. Walau tak bisa kupungkiri, rasa sayangku kepada partner tak pernah berubah. Namun aku mulai kehilangan semangat, untuk bisa memperbaiki hubungan kami kembali.

Partner sudah terlalu asyik dengan pelariannya. Sementara aku semakin larut menyesali segala perbedaan yang ada di dalam diri, yang tidak pernah merasakan ketertarikan kepada makhluk yang bernama lelaki.

Diantara petualangannya, partner mulai menaburiku dengan berbagai dalil yang mengatas namakan larangan agama.

Dalam sendiri, kugoreskan sebaris tanya kepada Sang Maha Pencipta. Benarkah segala rasa yang aku punya, hanya merupakan ujian semata? Mengapa dorongan hasratnya begitu kuat, hingga membuat aku selalu merasa tersiksa? (Jupiter doc/Nov07)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: