RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Sister Act – Jupiter

Posted by jupiter pada Agustus 30, 2007

Sister Act
Thursday, August 30, 2007
Oleh: Jupiter

Bagai anak kecil yang baru pertama kali merasakan manisnya gula-gula, itu yang terjadi padaku setelah mendapat pengalaman pertama yang sangat membekas bersama Kak Vita. Rasa manisnya seolah tak pernah hilang dalam ingatanku. Semenjak kejadian itu aku jadi seperti orang gila. Selalu senyum-senyum sendiri.

Begitu melekatnya pengalaman indah itu dalam benakku. Sampai pada suatu hari aku pernah mengungkapkan rasa ketagihanku tersebut kepada Kak Vita, dan dengan polosnya aku menawarkan diri untuk menjadi kekasih keduanya setelah Dina sahabatku. Namun jawaban Kak Vita sungguh mengecewakan. Meski dia telah disakiti sedemikian rupa oleh Dina, namun dia tetap bertekad untuk mempertahankan cintanya kepada playbutch yang juga sahabatku tersebut.

Dengan perasaan bersalah, Kak Vita menjelaskan kepadaku. Meski sebenarnya dia sendiri sudah merasa selalu nyaman berada di dekatku, dia menekankan lagi, kalau sebenarnya dia sudah menganggap aku sebagai adiknya sendiri. Dan dia meminta maaf karena tanpa segaja telah membelokkan orientasi seksku. Ah, jawaban yang sungguh tidak aku harapkan. Aku hanya menundukkan kepala, lesu!

Hampa terasa hidupku tanpa dirimu… belum sempat aku merampungkan duetku dengan Ari Lasso, tiba-tiba ada ketukan halus di pintu kamar kosku. Tanpa mengecilkan volume VCD player-ku, dengan malas aku beranjak untuk membuka pintu.

”Hai… lagi ngapain? Betah banget sih di kamar? Dari tadi diteriakin, nggak keluar-keluar. Di ruang tamu ada yang nyari tuh!” Silvi teman kosku menjelaskan, matanya mencoba mengintip ke dalam kamar.

Setengah penasaran aku berjalan ke ruang tamu. Di sofa tamu kulihat Kak Vita, Dina, dan seorang gadis yang tidak aku kenal.

”Wah-wah-wah… putri tidur kita sudah bangun rupanya?!” sambut Kak Vita dan Dina secara hampir bersamaan. Selanjutnya mereka mengenalkanku pada gadis manis yang ada di antara mereka, yang ternyata tak lain adalah adik kandung Kak Vita yang sedang liburan kuliah dan akan mengikuti program KKN yang diselenggarakan di tempat kerjaku.

Kemudian Kak Vita menjelaskan maksud kedatangan mereka, yang ternyata mau menitipkan adiknya tersebut, untuk bisa kos sekamar denganku. Menurut mereka tempat kosku ini merupakan tempat yang paling nyaman, dibanding tempat kos lain yang sebelumnya mereka datangi. Dan kebetulan di rumah kosku ini memang sudah tidak ada kamar yang kosong lagi.

Sejenak aku terdiam. Sebetulnya aku ingin menolak permintaan mereka, tapi aku menjadi nggak tega setelah melihat travel bag yang dibawanya.

Setelah seminggu sekamar dengan Vini, perlahan keceriaanku mulai hadir kembali. Ternyata karakter Vini bertolak belakang sekali dengan kakaknya. Dia merupakan gadis yang sangat lincah dan mempunyai wawasan sangat luas bagi gadis seumuran kami yang baru menginjak usia 23 tahun.

Malam minggu berikutnya, Vini mengajakku untuk menemani dia pulang ke rumah orangtuanya yang kebetulan hanya beda satu kota dan hanya memakan waktu satu jam perjalanan saja dari tempat kos kami. Tanpa pikir panjang, saat itu aku langsung mengiyakan ajakannya dengan harapan akan bertemu dengan Kak Vita di sana.

Harapan tinggal menjadi harapan. Ternyata minggu ini kak Vita tidak pulang ke rumah orang tuanya dengan alasan kesehatan Dina yang membutuhkan perhatiannya. Kembali aku merasa sangat kecewa. Rasa cemburu seketika memenuhi pikiranku. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam mencoba melepaskan penat yang tiba-tiba menyerangku.

Malamnya rencana jalan-jalan ke pusat kota kami batalkan. Setelah makan malam bersama keluarga, kami berdua langsung masuk kamar dengan alasan mau istirahat. Malam itu kami hanya menghabiskan waktu sambil menonton beberapa film romance remaja yang menjadi koleksi VCD-nya Vini.

Ketika sedang asyik mengikuti alur cerita dari film yang sedang kami tonton, tiba-tiba kudengar tarikan berat napas Vini yang berbaring di sebelahku. Serentak aku langsung memalingkan wajah dari film tersebut. Ups! Kulihat wajah Vini sudah bersimbah air mata. Aku menjadi bingung dibuatnya. Film remaja yang sedang kami tonton adalah film romance komedi.

”Hei! Ada apa, Vin?” tanyaku kebingungan, yang disambut gelengan kepala oleh Vini. Jiwa pelindungku seketika keluar, kucoba menenangkan Vini dengan menarik kepalanya untuk bersandar di bahuku.

Beberapa menit kemudian Vini mulai mengungkapkan kesedihannya, yang membuat aku tersentak. Ternyata selama ini Vini memendam perasaan kepada sahabatku Dina yang sudah menjadi kekasih kakaknya. What? Aku benar-benar kaget. Di mataku Dina sama sekali tidak mempunyai kelebihan yang menonjol, dia hanya gadis tomboi biasa yang teramat sangat percaya diri dengan segala ketomboiannya itu. Gila! Beruntung sekali si Dina mendapatkan ketulusan cinta dari kakak-beradik.

Beberapa jam kemudian, Vini mulai merasa lega setelah mencurahkan segala perasaannya kepadaku. Tanpa sadar kami mulai terlelap. Sampai kemudian aku dikagetkan oleh hembusan napas di kupingku. Dengan enggan kucoba membuka kelopak mataku yang masih terasa sangat berat. Belum sepenuhnya aku membuka mata, tiba-tiba Vini langsung mencium lembut bibirku.

Hari masih sangat pagi, ketika tiba-tiba kudengar ada ketukan lumayan keras di pintu kamar. Vini serentak membuat kami terbangun kaget begitu mendapati tubuh kami berdua sedang berpelukan.

Setelah kejadian yang sama sekali tidak kami rencanakan tersebut, Vini meminta maaf kepadaku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda aku mengerti atas segala kekhilafannya, yang sebetulnya telah memberikan pengalaman baru setelah pengalamanku bersama kakaknya. Pengalaman yang membuatku merasa yakin kalau aku benar-benar lesbian.

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: